Sensasi dan Kejutan Seba Baduy 2026 sebagai Diplomasi Budaya
TAK dapat dipungkiri lagi bahwa Seba Baduy bukan lagi dimaknai hanya sebagai acara ritual sakral semata, tapi sudah melebihi dari ekspektasi ideal publik. Seba sudah bermuatan seb...
DALAM RANGKA meramaikan bulan Bung Karno, salah satu komunitas literasi di Bali Aga Pedawa, Pondok Literasi Sabih (PLS), mengajak anak-anak---yang tergabung dalam komunitas Literasi Sabih---untuk “menengok” kembali spirit masa lalu dengan cara menggali dan merevitaslisasi permainan dan lagu-lagu tradisional anak Pedawa.
Acara tersebut berlangsung pada Rabu-Jumat, 14-16 Juni 2023, di Lingkungan Sabih, Banjar Dinas Asah, Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, Kabupetan Buleleng-Bali.
Benar. Beberapa permainan tradisional yang umum dimainkan anak-anak Pedawa dulu---mungkin juga permainan anak di belahan bumi lain---, sekarang hampir mengalami kepunahan.
Dan salah satu yang menjadi penyebabnya bisa jadi adalah kedatangan budaya baru dalam bentuk kecanggihan teknologi---untuk anak biasanya dalam bentuk game online. Hal ini mengakibatkan anak sekarang tidak lagi memainkan permainan tradisional yang dulu juga dimainkan oleh generasi kakek-neneknya---permainan itu hampir terlupakan.
Padahal, jika saja mau kritis, permainan anak modern---yang berbentuk game online atau gadget secara umum---cenderung membuat anak-anak bermain secara individual: menyendiri dalam ruangan, ansos, cederung bersifat pasif dalam gerak. Hal ini tentu tak baik dalam perkembangan dan daya tahan tubuh anak.
Hal di atas tentu sangat bertolak belakang dengan permainan tradisional yang dimainkan secara bertim, di luar ruangan dan membuat anak-anak aktif bergerak. Atas dasar itulah, Pondok Literasi Sabih mencoba untuk mengenalkan kembali berbagai jenis permainan anak yang pernah dimainkan di Pedawa.
“Ini dalam rangka menguatkan “Kepedawaan” (hal-hal tentang Pedawa) kami. Dan ini cara kami untuk mempertahankan nilai-nilai budaya dan keunikan Pedawa sebagai sebuah desa Tua di Bali (Bali Aga). Kegiatan belajar dilaksanakan pada hari Sabtu atau Minggu atau menyesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada,” terang Wayan Sadnyana, Pendiri Pondok Literasi Sabih, Jumat (16/6/23) malam.
Merevitalisasi tujuh permainan tradisional
Sebanyak tujuh permainan tradisional di desa Pedawa yang kembali direvitalisasi. Permainan tersebut sejatinya telah lama hilang. Namun masih kental diingatan tetua desa setempat. Hanya saja, seperti yang sudah di sampaikan di awal, tidak ada anak-anak yang memainkan permainan itu lantaran gempuran modernisasi.
Tujuh permainan itu adalah: Megebug Tingkih, Micet, Metembing Tingkih, Mesimbar, Metembing Karet, Metembing Pipis Bolong dan permainan lompat berbasis kombinasi dengan lagu tradisional.


Permainan-permainan tersebut cukup unik. Misalnya seperti Mesimmbar dan Micet. Dua permaian itu adalah permainan yang sama-sama menggunakan buah kemiri sebagai perangkat utama. Cara bermainnya adalah disentil. Kurang lebih mirip seperti bermain gundu. Sebenarnya itu adalah permainan bola biliar zaman dulu. “Bedanya, kalau pakai tingkih (kemiri) ini pakai tangan. Kalau biliar yang sekarang ‘kan pakai stik. Mainnya disentil,” kata Sadnyana.
Dan usaha untuk membangkitkan permainan tradisional itu memang melalui proses panjang. Dari investigasi kecil-kecilan hingga mendatangi tetua di desa Pedawa.
Menurut Sadnyana, sebagai komunitas yang menerapkan pembelajaran informal, Pondok Literasi Sabih berusaha mendekatkan anak-anak dengan kebudayaan. Terutama kebudayaan yang ada di desa Pedawa. Konsep pembelajaran itu dilakukan dengan santai tapi konten pembelajarannya tetap serius.
“Bermain sambil belajar. Lahirlah kembali permainan-permainan ini. Karena anak-anak kami tertarik dan senang melakukan itu. Kami juga menjelaskan secara sederhana mengeai nilai budaya sehingga mereka dapat dengan mudah memahami,” tambahnya.
Proses pembelajaran di Pondok Literasi Sabih juga dilakukan dengan berkolaborasi dengan beberapa komunitas lainnya. Pada tahun 2019, PLS pernah ikut dalam kegiatan pembuatan film anak yang dilakukan oleh TVRI Denpasar. Saat itu TVRI membuat film dokumenter tentang permainan anak tradisional yakni permainan Gasing (gangsing).
Tak hanya itu, PLS juga pernah berkolaborasi dengan Balai Bahasa Provinsi Bali. Kolaborasi yang dilakukan tahun 2022 itu yakni revitalisasi sastra lisan dari Desa Pedawa. Sastra lisan tersebut berupa cerita rakyat pengantar tidur atau dongeng I Jaum. Saat dipentaskan tahun lalu, pemerannya tidak hanya anak-anak. Warga desa yang dipinang untuk memerankan tokoh juga tampil maksimal.
“Kegiatan ini untuk membangkitkan kembali sastra lisan I Jaum yang sudah hamper punah. Kegiatan dipentaskan dalam drama I Jaum,” tutupnya.[T]
TAK dapat dipungkiri lagi bahwa Seba Baduy bukan lagi dimaknai hanya sebagai acara ritual sakral semata, tapi sudah melebihi dari ekspektasi ideal publik. Seba sudah bermuatan seb...
DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak perempuannya yang masih mengenakan busana Tari Puspanja...
LOMBA Tari Bali yang digelar pada 25–26 April 2026 di Auditorium Redha Gunawan, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI Bali), menjadi salah satu upaya konkret dalam menjaga keb...
DUNIA mengakui1 April adalah tanggal olok-olok. Orang boleh berbohong pada 1 April yang disebut dengan April Mop. Tidak demikian dengan Indonesia, melalui release beritanya, Kemen...
SETIAP kali angka besar muncul di ruang publik, reaksi yang mengikuti hampir selalu serupa, yakni cepat, emosional, dan penuh kecurigaan. Belakangan, sorotan terhadap anggaran bes...
— Catatan Harian Sugi Lanus, 27 April 2027 Lihatlah berbagai kejadian orang Bali cekcok, adu mulut terbuka, saling berhadapan-hadapan, berkelahi sangat menyedikan, semua ga...
DI CANDI GEDONG SONGO Di lereng bukittercurah sinar matahari siang di khatulistiwapada ubun-ubun anemiaterdapat stupa batu yang terlupakanmenghapuskan bayangannya dengan hampaD...
BALI sedang tidak baik-baik saja. Setidaknya pernyataan tersebut valid dalam perspektif lingkungan. Telah menjadi diskursus publik bahwa Bali saat ini sedang berhadapan dengan mas...
KEDATANGAN wisatawan ke Bali pada dasarnya bukan semata-mata karena hotel mewah, pusat hiburan, atau tempat belanja. Mereka datang karena ingin merasakan keindahan alam Bali yang...
SEKOLAH selalu menjadi objek sosialisasi bagi kesuksesan program pemerintah, baik pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah. Gaungnya makin kencang setelah reformasi 1998 seiring...