KALA MATAHARI berada tepat di setengah langit timur, saya menancap gas motor menuju Sangket---di sana beberapa teman telah menunggu saya.
Cuaca di Singaraja sangat panas waktu itu, motor berlalu lalang, suara klakson saling bersahutan mengiringi perjalanan saya ke salah satu tempat wisata air di Bali Utara, pada Rabu, 14 Juni 2023.
Ceritanya, bersama teman-teman STAHN Mpu Kuturan yang magang di Tatkala.co, saya akan melakukan liputan khusus tentang Blue Lagoon---salah satu wisata air populer di Buleleng---walaupun sebenarnya lebih banyak senang-senangnya alih-alih liputan. Hehe. Tapi sesekali kami ngobrol dengan orang-orang yang kami jumpai di sana, kok.
Sebelum menuju ke lokasi, kami berkumpul di Alfamart Desa Adat Sangket sembari menyempatkan diri membeli sekotak susu dan sebungkus roti untuk bekal kami.
Usai berkendara cukup lama, kami disambut plang yang menandakan bahwa kami sudah memasuki Desa Ambengan. Pohon cengkeh berjejer rapi di samping kanan dan kiri jalan (seketika saya bisa mencium aroma uang. Hehehe).
Blue Lagoon / Foto: Dok. Musti
Sepanjang jalan saya disuguhi pemandangan desa yang sejuk, persawahan yang dialiri air kali tanpa henti dan warga desa yang sibuk memanen cengkeh dengan danggul (tangga yang dibuat dengan sebatang bambu).
Blue Lagoon terletak di perbatasan Desa Ambengan dan Desa Sambangan, bisa ditempuh kurang lebih selama 20 menit perjalanan dari Singaraja. Blue Lagoon dikelola oleh BUMDes Desa Ambengan dan Desa Sambangan.
***
Setelah melewati tanjakan, turunan dan belokan yang cukup curam, ditambah tragedi kesasar, akhirnya saya dan teman-teman bisa sampai di tempat parkir wisata Blue Lagoon. Di sana kami langsung diarahkan pada loket tiket dan membeli tiket masuk seharga Rp10.000 per orang.
Harga tiket masuk Blue Lagoon dibedakan menjadi 4 kategori, yaitu harga tiket pengunjung lokal Rp 10.000, pengunjung asing Rp 25.000.
Selain itu juga ada harga paket pemandu dan bisa mengunjungi 5 destinasi wisata air yang saling berdekatan (Wisata Air Terjun Aling-Aling, Air Terjun Kroya, Air Terjun Kembar dan Air Terjun Pucuk), untuk wisatawan lokal ditarif Rp 200.000, sedangkan untuk wisatawan asing ditarif Rp 250.000.
Selanjutnya kami diarahkan untuk menuruni anak tangga (sebagai anak muda yang sangat jarang jalan kaki, saya rasa cukup jauh).
Dari anak tangga yang kami tapak terlihat pemandangan indah Khrisna Adventure yang terletak di seberang tempat kami berdiri, tampak pula Wisata Air Terjun Aling-Aling, Air Terjun Kroya, Air Terjun Kembar dan Air Terjun Pucukyang menjadi satu aliran dari Blue Lagoon dan sangat mengagumkan.
Sepanjang perjalanan kami melihat binatang kecil yang kini sudah sangat jarang ditemui, seperti kupu-kupu, capung sungai yang sangat indah dan belalang.
Dari kiri ke kanan: Sri, Ayu, Musti, dan Risma / Foto: Dok. Musti
Kala binatang-binatang kecil tersebut menampakan dirinya, Sri (mahasiswi STAH N Mpu Kuturan Singaraja yang magang di tatkala.co) sangat kegirangan dan beberapa kali mengabadikan binatang kecil tersebut dengan telepon genggamnya.
Di sana kami juga menemukan bale bengong lengkap dengan tempat sampah di sampingnya, barangkali tempat tersebut disediakan untuk tempat istirahat pengunjung ketika lelah menapaki anak tangga.
***
Gemericik air sudah bisa kami dengar, tandanya sedikit lagi kami akan sampai. Ketika hampir sampai kami menemukan sebuah pohon yang biasa saya sebut pohon ee (pohon ara) yang sempat menghebohkan teman-teman saya.
Rupanya Dewa Ayu dan Risma (mahasiswi STAH N Mpu Kuturan Singaraja yang magang di Tatkala.co) tidak mengetahui pohon tersebut, barangkali ada kawan-kawan yang juga tidak mengetahuinya?
Ketika kami sampai di lokasi, segera kami meletakan barang-barang di bale bengong yang tersedia di sana. Dengan tidak sabar kami melompati batu-batu sungai yang sedikit licin dengan sepasang sandal yang kami jinjing.
Hal pertama yang saya perhatikan adalah kolam alami dengan air berwarna biru kehijauan dan tebing tinggi yang mengelilingi di sisi kanan dan kirinya.
Udaranya amat sejuk dan menenangkan. Air sungai yang dingin seakan menggelitik kaki saya, ikan-ikan kecil berenang ke sana kemari dengan riangnya. Tenang, damai, jauh dari kebisingan dan sangat menyejukan.
Selain kami, ada pula wisatawan lokal dan wisatawan asing dengan pemandunya, mereka tampak sangat menikmati berenang di kolam alami dan melakukan jumping attraction ke tengah kolam---dengan tali menggelantung di tengah-tengah tebing yang disediakan oleh pihak pengelola wisata (kelompok sadar wisata Desa Sambangan dan Desa Ambengan).
Ada pula yang berswafoto sembari menikmati makanan dan minuman yang dibawanya dari rumah.
Wisatawan yang melakukan tracking / Foto: Dok. Musti
Tak lama, dari atas Blue Lagoon timbul orang-orang (wisatawan asing) bersama pemandunya dengan segulung tali yang mereka gunakan sebagai pegangan. Terlihat wajah-wajah bangga saat mereka berhasil “menaklukan” tebing yang curam, meskipun dengan napas yang terengah-engah.
Penasaran akan hal itu saya bertanya ke pemandu wisata yang akrab disapa Jhoe, dia menjelaskan bahwa di atas Blue Lagoon masih ada spot wisata tracking yang terletak di Banjar Anyar.
Dari sana mereka melakukan tracking sejauh 2 km untuk sampai ke Blue Lagoon. Sungguh menakjubkan---dan tentu saja membutuhkan tenaga ekstra untuk bisa melewati tebing-tebing curam dengan batu yang licin sepanjang 2 km.
***
Setelah cukup menikmati indahnya Blue Lagoon, tanpa sadar matahari telah berada pada setengah langit barat, dengan enggan kami berkemas kembali pulang dengan membawa cerita masing-masing yang terpatri tentang perjalanan kami.
Sekedar informasi untuk kawan-kawan, Blue Lagoon buka dari jam 08.00 wita-17.00 wita. Jadi, jika kawan-kawan ingin berkunjung, pastikan untuk datang di jam tersebut.
Baiknya berkunjung pada bulan April sampai bulan September (musim kemarau) sehingga air tidak keruh dan tidak berbahaya.
Saya sarankan kawan-kawan harus berkunjung ke sana setidaknya sekali seumur hidup, khususnya bagi anak-anak muda yang sedang stress, sangat bisa menenangkan pikiran dan tentu biayanya tidak sampai menguras dompet.
Di sana kalian akan menemukan hal-hal yang tidak akan kalian lupakan. Jadi, selamat menentukan jadwal berwisata ke Blue Lagoon, kawan-kawan.[T]
MUSIK tradisional Opera Beijing "Gong dan Drum Tradisional Hakka" membuat penonton terkesima dengan perpaduan luar biasa antara kekuatan ritme yang menggelegar, sinkronisasi koreo...
SAAT matahari mulai menuju satu garis lurus di atas kepala, derau ritmis mengisi ruang di bawah atap Bale Daja rumahku di Kelurahan Beng, Gianyar, Bali. Di tengah orkestrasi aroma...
TIGAminggu lalu saya mendengarkan tunangan saya diwawancarai. Kalimat itu terdengar aneh. Biasanya sayalah yang mewawancarai orang. Sejak menjadi wartawan, entah sudah berapa ratu...
KESERIUSAN Wikan Satya terhadap musik rupanya tidak berhenti pada “Anacaraka”. Setelah karya itu mendapat banyak sorotan sebagai lagu anak-anak yang mengangkat Bahasa dan Aksara B...
JUNI adalah Bulan Bung Karno. Pada 1 Juni 1945, hari ketiga sidang BPUPKI, Bung Karno mendapat kesempatan ketiga setelah Muhamad Yamin dan Soepomo menyampaikan pidatonya. Hari lah...
“BECEK lagi, becek lagi,” keluh istri saya setiap kali menghadiri hajatan di kampung—entah pernikahan, tujuh bulanan, kematian, sedekah bumi, khitanan, maupun perayaan hari raya....
Penjor yang Menjulang dan Pertanyaan yang Menggantung
Setiap Hari Galungan, Bali berubah menjadi lautan penjor. Di depan rumah-rumah, di sepanjang jalan desa, hingga di pusat-p...
MENJELANG pembukaan Pesta Kesenian Bali 2026, perhatian publik justru tidak tertuju pada tarian, tabuh-tabuh baru, atau tema yang diusung tahun ini. Yang ramai diperbincangkan han...
INI adalah pertunjukan seni panggung. Namun, stage proscenium itu dimeriahkan dengan foto-foto indah dan bersejarah. Bidikan aktivitas budaya, bangunan bersejarah dan hasil keraji...
BEBERAPA waktu lalu saya sengaja mampir ke sebuah toko buku di Malang yang pernah menjadi tempat favorit saya semasa mahasiswa. Dulu, toko buku itu selalu hidup. Lorong-lorongnya...