Rumor Demo 4 November - Provokasi Media dan Jurnalisme Damai
KEMARIN banyak yang bertanya, “Benar akan ada demonstrasi besar-besaran 4 November nanti?” “Demo penistaan agama di Jakarta?” “Isu yang diseret-seret ke ranah politik.” Bukan orang...
SEBAGAI DAERAH ISTIMEWA, obyek wisata Yogyakarta juga terkenal istimewa. Siapa yang tidak kenal dua situs warisan dunia, Candi Borobudur peninggalan Kerajaan Syailendra dan Candi Prambanan sebagai candi Hindu terbesar di Indonesia.
Tidak kalah istimewa lagi ada Malioboro, salah satu jalan paling populer di Yogyakarta. Cerita perjalanan di Yogyakarta sepertinya kurang lengkap jika tidak berkunjung ke salah satu tempat ikonik ini.
Saya beruntung bisa ke Yogya tetapi bukan untuk jalan-jalan. Saya ditugaskan pimpinan untuk mengikuti Advokasi Gerakan Sekolah Sehat, 8-10 Juni 2023, di Hotel Grand Mercure. Di sela-sela kegiatan, saya menyempatkan keluar hotel untuk mencoba melihat aktivitas warga Yogya lebih dekat.
Kebetulan di seberang hotel ada warung kelontong. Saya pesan segelas kopi kapal api. Duduk di kursi kayu panjang di dekat trotoar, saya menyeruput kopi sembari melihat warga Yogya bergegas memenuhi tuntutan tempat kerjanya.
Di sebelah saya ada lelaki tua dengan sebatang rokok di tangan kanannya. Ia lebih dulu menikmati segelas teh. Namanya Pak Giman (62 tahun). Ia tukang becak motor. Pak Giman lebih dikenal dengan nama Manthok. Dipanggil Manthok karena saat kecil ia selalu mangguk-mangguk saat diberi sesuatu oleh orang.
Pak Manthok telah menarik becak sejak tahun 1978. Sampai sekarang pun Ia tetap setia dengan pekerjaan yang telah menghidupi 4 anaknya.
Baginya becak adalah segalanya. Hasil menarik becak adalah sumber penghasilan utama. Becak juga adalah rumah. Pak Manthok hampir setiap hari menghabiskan waktu istirahat dan tidur malam di becak kesayangannya. Becak yang menjadi saksi bisu segala suka duka hidup Pak Manthok.
Namun, penghasilannya sekarang tidak seperti dulu lagi. Kemajuan teknologi menyebabkan penumpang lebih memilih transportasi online.

Pak Manthok | Foto: Komang Sujana
Dalam seminggu bahkan tidak jarang nihil penumpang. Tidak ada pendapatan sama sekali. Walaupun demikian ia tetap mangkal setiap hari di depan Hotel Grand Mercure. Tempat mangkal penuh kenangan. Ia sudah mangkal di sini sebelum hotel itu di bangun.
Lalu bagaimana caranya ia bisa hidup dari menarik becak yang sepi penumpang?
Cerita Pak Manthok sungguh membuka hati dan pikiran saya. Ia menjalani hidup apa adanya. Hidup sederhana sebisa yang dilakukan. Baginya rezeki tidak selalu perkara uang.
"Sudah diberikan tetap hidup, itulah rezeki," katanya dengan penuh senyum.
Menurutnya jika sudah mensyukuri berkat hidup dari Tuhan, rezeki akan datang. Rezeki yang ia maksudkan bisa dalam berbagai bentuk seperti diberikan kesehatan dan umur panjang.
Tidak jarang juga Pak Manthok mendapat bantuan nasi dan sembako dari orang-orang baik. Kadang juga penumpang membayar lebih. Dengan ini ia bisa menyambung hidup, bisa membayar hutang makan dan minum kepada pemilik warung yang ia hutangi.
Pak Manthok sangat bersyukur sudah diberikan hidup sampai sekarang. Saya beruntung bisa menikmati kopi dan indahnya mentari pagi Yogya. Dan lebih bersyukur lagi mendapat pelajaran hidup, pelajaran berpikir sehat dari Pak Manthok. Sebuah pembelajaran hidup yang istimewa di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Mas Nadiem mengatakan ada 3 fokus penerapan Sekolah Sehat yang sering disebut 3 sehat (3S), yaitu sehat bergizi, sehat fisik, dan sehat imunisasi.
Namun setelah ketemu Pak Manthok, saya pikir harusnya ditambah satu S lagi, yaitu Sehat Berpikir. Karena tidak semua yang sehat bergizi, sehat fisik, dan sehat imunisasi, mental dan pikirannya sehat.
Matur sembah nuwun Pak Manthok. Mugi-mugi Bapak tansah kaparingan panjang yuswo lan kasarasan. lan kita saget pinanggih malih ing sanes wekdal. [T]
KEMARIN banyak yang bertanya, “Benar akan ada demonstrasi besar-besaran 4 November nanti?” “Demo penistaan agama di Jakarta?” “Isu yang diseret-seret ke ranah politik.” Bukan orang...
Hai Gess! Kenken Kabare, Gess? Nu inget nyoblos, Gess? Calon Tunggal di Buleleng jani, Gess. Memusuh jak KOTAK KOSONG, Gess. Musuh ngenah aluh ngelawan! Musuh sing ngenah, kaden al...
Sekilas MEA ASEAN sebagai pasar tunggal kemudian disebut Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), seperti dimuat pada laman Kementerian Luar Negeri RI (www.kemlu.go.id), Selasa 17 Maret 20...
BELAJAR dari figur dan tokoh perempuan, itulah barangkali pesan utama dari buku kumpulan cerpen berbahasa Bali terbaru I Made Suarsa, “Luh-Luh”. Buku ini memuat 19 cerpen yang kese...
Dear para jomblo di muka Bumi ini, Aku adalah kawanmu yang masih setia. Menjomblo bersama kalian adalah sebuah anugerah tak terbatas. Terima kasih karena kalian juga masih setia...
TIDAK banyak yang mengira bahwa kini masyarakat Eropa ternyata malas dalam mempelajari bahasa asing. Meski perkembangan pendidikan di Eropa sangatlah pesat, siapa sangka bahwa mere...
Prodi Pendidikan Seni Rupa, FBS, Undiksha, Singaraja, menggelar pameran bertajuk “Qilin” (Membaca Sosial Budaya Warga Pecinan Kota Singaraja) di Neka Art Museum, Jalan Sanggingan C...
SARJANA. Bak mobil yang telah turun kastanya dari kebutuhan tersier menjadi kebutuhan primer. Sarjanapun, maknanya semakin memudar. Terlalu banyak sarjana modern yang merasa sal...
ANDA pernah jatuh cinta? Baiklah, yang sudah pernah jatuh cinta sebelumnya pasti akan mengerti tentang pembahasan kali ini. Jika belum pernah, sayang sekali, anda hanya akan bisa...
Cerpen: Komang AstiariAKU rindu kampung halaman. Aku rindu nenek. Kepergiannya masih menyakitkan bagiku, batinku belum mampu menerima dia sudah pergi, selamanya. Apakah Tuhan mengg...