Papuk, Cucu dan Puisi
Cerpen: DG Kumarsana Di negeri ini apa saja bisa terjadi/Untuk mendapatkan keadilan kalau perlu membeli/Yang hitam bisa menjadi putih, yang putihpun begitu/Terhadap yang benar saja...
KEINDAHAN TUBUH PEREMPUAN tidak diragukan lagi. Bagi pemuja perempuan, lekuk tubuh perempuan dapat dijadikan karya seni yang sangat menakjubkan. Semua laki-laki yang “normal” tentu suka melihat tubuh perempuan yang terbalut ketat dalam busana yang sangat modis.
Ketika zaman kerajaan, perang bisa pecah karena keinginan raja mempersunting putri cantik jelita dari kerajaan lain, ditolak. Kecantikan perempuan begitu dahsyat.
Akan tetapi pada masa media digital saat ini, keindahan dan kecantikan perempuan justru lebih banyak dieksploitasi oleh perempuan itu sendiri. Perempuan dengan gampang mempertontonkan kemolekan tubuhnya di media sosial. Gaya manja sambil meremas daerah sensitif menambah erotis penampilannya.
Mengapa hal ini dilakukan oleh perempuan (tentu saja tidak semua perempuan)? Apakah hal ini dilakukan demi uang? Jawabannya lebih cenderung ya.
Perempuan yang melakukan gerakan erotis dan mengumbar lekuk indah tubuhnya selalu mempunyai follower yang banyak. Sebagai orang dewasa yang “normal” ketika melihat konten tersebut di media sosial tentu laki-laki tersebut juga menyukai. Itu sebuah kodrat. Akan tetapi konten tersebut tidak hanya dinikmati oleh orang dewasa saja. Anak SD dengan mudahnya mengakses konten erotis. Hal ini tentu berpengaruh terhadap perkembangan psikologis anak. Haruskah anak menjadi korban konten seperti itu?
Dalam dunia seni, pertunjukan ”joged jaruh” banyak terunggah di media sosial. Penari yang memakai kain selutut bergoyang menari erotis. Pengibing (orang yang menemani penari joged menari biasanya laki-laki) ikut menimpali gerakan penari. Penari sambil bergoyang memperlihatkan pakaian dalamnya.
Pengibing juga ikut bergoyang dan bahkan pengibing menyentuh daerah sensitif penari joged. Pengibing tari joged bukan saja orang dewasa tetapi juga anak-anak sekolahan. Tampilan joged seperti itu tentu tidak baik dipertontonkan. Hal itu mencederai nilai seni tarian Bali.
Tarian joged (joged bumbung) ada sejak tahun 1940-an. Tarian ini tercipta untuk hiburan. Petani menciptakan tarian joged untuk mengisi waktu istirahat setelah petani bekerja di sawah. Petani ada yang memainkan rindik (gamelan dari bambu) petani yang lain berjoged bebas. Gaya berjoged itulah selanjutnya dikembangkan menjadi tarian dan mempunyai pakem berbeda dengan tarian yang lain.
Masyarakat menyebut tarian ini sebagai tarian pergaulan. Disebut sebagai tarian pergaulan karena sebelum pengibing menari, penari joged akan membelitkan selendang di pinggang pengibing. Sebelum menari pengibing dan penari berjabat tangan untuk berkenalan.
Tarian erotis penari joged kemungkinan untuk mempertahankan keberlanjutan sekaa joged. Kalau tariannya sesuai dengan pakem, penonton mungkin tidak tertarik menonton tarian joged.
Oleh karena itu, penari mengeksploitasi dirinya dengan goyangan erotis sehingga tariannya membuat riuh penonton. Demi untuk kepopuleran mengapa seni harus ikut tereksploitasi. Demi untuk mendapatkan banyak uang dan follower yang banyak, mengapa ada perempuan mengeksploitasi lekuk tubuhnya.
Banyaknya konten erotis di media sosial tentu meresahkan orang tua. Perlu peran orang tua mendampingi anak dalam bermedia sosial. Orang tua memberikan pemahaman kepada anak mana konten yang baik ditonton dan mana yang tidak cocok ditonton.
Fungsi kontrol pemerintah terhadap unggahan konten yang erotis sangat diharapkan sehingga konten tersebut tidak meracuni kejiwaan anak-anak. Dikhawatirkan, setelah anak beranjak remaja, anak kemungkinan akan melakukan seks bebas. Tentu ini merusak masa depan anak tersebut. [T]
Cerpen: DG Kumarsana Di negeri ini apa saja bisa terjadi/Untuk mendapatkan keadilan kalau perlu membeli/Yang hitam bisa menjadi putih, yang putihpun begitu/Terhadap yang benar saja...
BERCERITA Aku menemukan ibuku di masa lalu Yang memaksaku menjadi ayah masa lalu Aku teringat cerita ibuku masa SMA saat aku masih di dalam rahim Ibu berkata...
PADA akhir hidup seorang manusia, dunia tidak mengenal orang yang setengah-setengah. Hitam ya hitam, putih ya putih. Pahlawan atau Penjahat. Tidak ada yang mengenal si abu-abu. Bai...
PINTU besi itu terlihat mencolok. Pintu besi berkarat itu benar-benar menonjol. Saat memasuki galeri pameran Bentara Budaya Bali, pintu besi itu langsung menarik perhatian. Sepinta...
SALAH satu gitaris terbaik Indonesia bahkan dunia, Wayan Balawan, akan hadir dan konser di Kupang Agustus nanti. Wayan Balawan, master tapping asal Bali, akan didampingi drummer da...
HAJATAN besar sejarah pemilu di Indonesia telah dimulai Rabu, 9 Desember 2015. Ada sembilan provinsi dan 260 kabupaten/kota se-Nusantara waktu itu yang melaksanakan pilkada serenta...
BERANGGAPAN bahwa kampus adalah sebuah lembaga independen yang tidak boleh memihak kekuatan politik memang adalah sebuah kebenaran. Namun, bukan berarti tidak ambil bagian dalam pr...
(Tulisan ini dibuat dalam rangka menyongsong Serasehan Drama Gong yang rencananya digelar di Denpasar, 6 Agustus 2016) DI Bali, sebelum lahirnya institusi pendidikan seni dan Pesta...
ISU kesetaraan gender masih menjadi topik relevan yang dibahas melalui media verbal maupun non verbal. Tak terkecuali melalui medium seni rupa. Topik soal gender yang seolah ingin...
Judul Buku: Istana Para Kuli # Penulis: Yahya Umar # Penerbit: Salsabila – Pustaka Al-Kautsar Grup # Tebal: 229 halaman # ISBN: 978-602-1695-36-4 MADURA memiliki bentangan tanah ta...