Gabriela
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
RAYA-RAYA CINTA. Kumpulan naskah yang ditulis Kadek Sonia Piscayanti pada, Februari 2023 ini tampak menggoda tangan siapa saja untuk menjamah dan meminangnya. Tampilannya yang segar seolah menawar banyak hal indah di dalamnya.
Biasanya kita sering suka menduga sesuatu dari hal-hal yang tampak bukan? Bahkan pada memilih buku sekalipun. Demikian dalam semalam saya larut tak habis membaca kumpulan kisah di dalamnya. Benar saja, cara perempuan menduga dan menebak sesuatu kemungkinan tak tepat adalah 0,5% dari 100% yang ada. Sebagai penikmat karya sastra dan menulis juga, hubungan saya dengan Kadek Sonia Piscayanti tertaut dalam banyak hal.
Sonia Piscayanti boleh dikatakan adalah guru, rekan komunitas, teman bercerita, ibu yang mengasuh, kakak yang menuntun, dia juga sutradara dalam beberapa pertunjukan yang saya mainkan. Hubungan yang banyak tertaut ini barangkali bisa menjadi awal cara saya membaca kehadiran kumpulan naskah drama Raya-raya Cinta. Yang bisa saja hal ini kemudian terasa begitu subjektif atau juga tidak.
Seni menjadi bagian penting yang hadir dalam kehidupan manusia. Sebab banyak hal yang ditampilkan oleh karya-karya seni tak hanya menawar soal bentuk dan keindahan semata. Namun tak jarang, karya seni mengungkap identitas kekaryaan seperti, cara pandang atau pola pikir dari penciptanya, mengungkap sejarah identitas suatu daerah, dan hal lainnya yang kemudian bisa ditelisik dari unsur-unsur yang dihadirkan dalam cerita seperti tokoh, dialog, setting tempat, waktu, dan gaya bahasa yang digunakan.
Hal itu tentu juga berlaku dan hadir dalam karya-karaya Kadek Sonia Piscayanti. Dari kelima karya yang dimuat di dalamnya, menghadirkan lima variasi kisah yang menarik untuk tak jemu menikmatinya. Dan menjadi tak jemu lagi membaca kelima kisah itu saat saya menemukan bagaimana Kadek Sonia Piscayanti hadir di dalamnya sebagai kendali utama atas cerita yang dihadirkan.
Saya katakana kendali utama. Sebab bagaimana tokoh hadir dan bertindak pun, bagaimana kisah akan berawal dan berakhir adalah atas dasar dari penulisnya. Tak ada yang tak mendapat tempat dalam kisah. Bahkan jika kehadiranya untuk mati dalam cerita, ia menjadi penting dan memiliki posisi yang sama. Demikianlah tokoh-tokoh diciptakan dalam keseluruhan naskah. Tak memandang ia adalah perempuan atau lelaki, orang tua atau anak-anak, kaya atau miskin, jatuh cinta atau bersedih, pelajar atau bukan, tokoh di dalam cerita dihadirkan menjadi pemikir semua. Menjadi peran yang skeptis dalam mengambil tindakan dan keputusan.
Pada kisah Raya-raya Cinta misalnya, ada sembilan tokoh yang hadir di dalamnya. Meski Cinta adalah fokus utama dalam cerita, namun bagaimana cinta berpikir dan bertindak juga hadir pada tokoh lainnya.
Cinta: Ya itulah, aku tahu, semua terasa tak akan bisa sebab perempuan hanya punya satu pilihan saja, tak boleh salah melangkah.
Itu ungkapkan tokoh Cinta saat mengambil keputusan untuk bersama Raya. Dalam konflik cerita, setiap tokoh berperan memiliki posisi bertanggung jawab untuk menyelesaikan konflik. Ibu yang berperan memikirkan perasaan Cinta juga Ayah serta kondisi keluarga, Ayah yang menangguhkan keyakinan Cinta dalam mengambil keputusan agar tak ada yang dirugikan, Raya yang memberi berbagai keyakinan untuk merasa aman, serta adik-adik yang berupaya mengatasi keterhimpitan dan ketegangan situasi keluarga.
Pada kisah lain ‘Legenda Rasa Kopi Banyuatis deskripsi tokoh telah mencerminkan tak ada seorang pun tokoh yang tak cakap di dalamnya. Demikian jika saya memebaca sosok Sonia. Dalam kenyataannya terlepas dari naskah dan karya-karyanya, ia adalah karakter yang selalu memosisikan semua hal adalah penting.
Sebuah karya juga bisa mengungkap sejarah identitas suatu daerah. Di sinilah kemudian menjadi penting kehadiran kumpulan naskah ini. Sebab meski sejarah telah dicatat rapi dalam buku-buku pelajaran dasar, namun selalu ada yang luput dikemas jadi catattan penting. Dalam kumpulan naskah ini ada dua penanda lahirnya sejarah suatu daerah.
Karya pertama berjudul Nyoman Rai Srimben. Adalah naskah yang berhasil Menyusun akar awal mula Bangsa Indonesia lahir. Tokoh Ir. Soekarno yang diketahui berdarah Bali dari sosok ibunya adalah titik awal lahirnya pemikiran-pemikiran bersejarah Bangsa Indonesia. Dari kisah ini Pancasila bermula menjadi Bhineka Tunggal Ika.
Selain itu, sebuah desa di Bali Utara menjadi begitu terkenal lantaran sejarah kopi yang lahir mejadi penandanya. Tak hanya lahirnya sebuah daerah atau wilayah. Pada naskah Timang Ibu Sinang, dialog anatar tokoh ibu dan anak juga menajdi catatatn sejarah, bagaimana identitas ibu lahir dari seorang perempuan.pada titik ini penulis justru menjadi bagian pencipta sejarah tentang bagaimana perempuan mampu merumuskan transformasinya menjadi ibu. Meski secara judul naskah ini meminjam penamaan tokoh yang akrab secara personal penulis, namun bukan berarti naskah ini juga tak berlaku untuk orang lain.
Sebab pada kanyataannya apa yang diungkapkan penulis di dalam cerita adalah kenyataan yang dialami oleh sebagian besar perempuan yang mengalami tahap menjadi seorang ibu.
Ketika membaca, isi dalam bacaan akan menjadi sketsa gambar atas pemahaman pembaca. Pada kumpulan naskah ini, meski penulis memberi penanda latar dalam setiap cerita, rupa-rupanya kumpulan naskah Raya-raya Cinta memberi kemungkinan yang lebih luas dan bebas dalam penyutradaraan. Hal ini bisa ditarik dari penciptaan dialog-dialog tokoh. Pemilihan kalimat yang berima dan puitik dapat menjadi peluang dialog diolah menjadi lirik lagu.
Cinta:
Aku tidak sedang menguji kata-kata
Aku menguji hidup
Yang demikian keras
Tak bisa hanya tunduk pada kata-kata
Aku belajar menerima diriku apa adanya
Aku tak sedang bermain-main pada hidup
Penulis mengatur dialognya sebaris demi sebari. Percakapan antar tokoh kemudian tampak serupa lagu yang bersahutan. Dalam pertunjukan drama modern. Naskah ini akan menjadi begitu menarik Ketika digarap menjadi drama musikal. Tawaran lainnya adalah permainan tokoh. Dalam seni drama, tokoh adalah keharusan yang dipikirkan paling penting. Sebab tokoh adalah pembawa pesan utama cerita. Pada Sebagian besar naskah yang hadir, naskah-naskah ini juga memiliki peluang besar dimainkan secara monolog oleh aktor.
Sebagai pembaca, karya-karya ini tak hanya berhasil menghadirkan gagasan besarnya dalam tokoh-tokoh yang diciptakan, kemungkinan pengadegan oleh tokoh dan sutradara, namun juga berhasil lepas dari beban metafora dalam mengungkapkan gagasan-gagasan dalam cerita. Hal tersebut kemudian memperkuat ide cerita secara utuh dan menjadi pembuktian bahwa proses membuat orang lain mampu memahaminya karena kita berhasil menyederhanakannya. [T]
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
TIGA RAMU MENGKUDU Daun; Petiklah aku Tiga kepik muda Ramu padu dengan segenggam garam Dan tiga biji beras genggam Hingga padu resep moyang Hingga...
BAGAIMANA harus melukiskannya, sebagian besar anak kos (mahasiswa) memang dikenal selalu mumet dengan hiruk pikuk perekonomian. Dari media sosial, hingga sosial media, tahu perekon...
Bayangkan sebuah hutan hujan tropis dengan vegetasi yang hanya terdiri dari satu jenis pohon, atau sebuah partitur musik yang notasinya hanya tersusun dari nada ‘do’. Menjemukan se...
Saya salah satu penikmat tari. Saya lahir dari darah seorang ibu, yang dikala mudanya pernah menjadi Penari Zapin Melayu, di salah satu sanggar yang boleh dikata cukup tua di Ponti...
BEBERAPA bulan lagi, tahun akan segera berpindah. Bali punya acara spesial di tahun 2017 & 2018. Suksesi pemegang otoritas pemerintahan provinsi dan beberapa kabupaten di Bali...
MENJADI kota niscaya menjadi modern. Premis ini berlaku pada cara pandang yang menempatkan dua kutub berbeda antara kota dan desa. Desa diasumsikan berbau tradisional, kota identik...
PARA penggiat sastra dan teater di Bangkalan, Madura, Jawa Timur, bersorak ketika dua penulis dari kota itu, Joko Sucipto (puisi) dan Arung Wardana (drama), lolos untuk tampil dala...
Cerpen: Satia Guna Sebutlah aku wanita, mahluk yang menikmati penderitaan dengan berbagai macam rasa sakit. Sebutlah aku tanah, yang selalu diinjak tanpa menerima r...
KABAR DARI ZWOLLE Kenalkan aku pada wangi musim gugur Di tengah pesta roti dan remah-remahnya Yang terbang mengitari sungai Lalu singgah di beranda penuh cerita &n...