ERA 1990-AN ADALAH masa-masa emas telenovela di Indonesia. Cerita diangkat dari—bisa jadi—kisah nyata. Kebanyakan produksi dari negara-negara Amerika Latin. Wilayah ini sepertinya punya kemiripan dengan Indonesia, baik budaya, alam, dan pemikiran.
Maka itu, Che Quevara dan Fidel Castro, dua tokoh kenamaan Kuba, sangat dekat dengan Bung Karno, presiden kebanggaan kita di masa lalu.
Telenovela, alur ceritanya sangat alami. Tidak dibuat-buat, apalagi dibuat hanya untuk mengejar jumlah pemirsa yang menambah pundi-pundi uang iklan.
Ibu angkat saya, sangat suka menonton telenovela kala itu. Air matanya mengalir ketika adegan sedih berlangsung. Itu saya pahami kini setelah belajar psikologi secara otodidak, adalah sebuah terapi.
Dipicu cerita yang ditampilkan secara visual, membuat emosi penonton muncul. Menangis, tertawa, menjadi katarsis yang menenangkan. Hingga televisi dimatikan, ada kepuasaan batin yang dirasakan. Menunggu serial berikutnya keesokan hari, ada yang dinanti, bagaimana kelanjutan nasib tokoh ini dan itu.
Tujuh tahun belakangan hampir saya tidak pernah menonton televisi. Bukan apa-apa, skizofrenia (dulu) membuat saya berhalusinasi. Seakan apa yang disampaikan di televisi menjadi pesan untuk saya.
Agak aneh memang. Padahal itu hanya mesin, mengapa saya merasa dia bicara pada saya? Alasan lain, acara-acara televisi di Indonesia agak membosankan. Tak salah, anak-anak muda sekarang lebih suka menonton video di media sosial. Gawai pun kini menjadi seperti televisi di genggaman tangan.
Kini menonton televisi mesti menggunakan STB. Kotak pemancar pelengkap selain antena yang biasanya ditaruh di tempat tinggi dengan tiang, membuat pemandangan rumah di Indonesia khas, jika dilihat pada foto-foto jurnalistik, pada laman penyedia layanan foto gratis yang bisa diunduh dan digunakan kapan saja.
Karena masih belum ingin membeli televisi, saya hanya bisa berharap kualitas tontonan yang ada semakin bagus. Saya dengar kini banyak serial dari India. Juga Iran. Apakah masih ada cerita dari Amerika Latin? [T]
JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh dari sastra tampaknya tidak berala...
UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan skateboard mungil itu meluncur, lalu melompat. La...
PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti Panyembrama, Seka...
SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai simbol kedekatan dengan alam. Mel...
KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love poetry", tulisnya dalam buku barunya M...
PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni adalah ‘bahasa universal’ yang mampu menjembatani...
DUA PULUH lima tahun lalu, tepat saat 2 bulan setelah Milenium ketiga dimulai, segerombol anak muda yang menyebut diri mereka Kamasra (Keluarga mahasiswa Seni Rupa) STSI Den...
MANUSIA adalah makhluk yang gemar mengembara.
Tubuhnya berada di sini, tetapi pikirannya berlari ke hari esok. Atau sebaliknya, tubuhnya telah meninggalkan kemarin, tetapi bati...
Sorak-sorai penonton menyemangati temannya ketika tampil sebagai peserta lomba Matajog (egrang bambu) dalam ajang Jantra Tradisi Bali serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII,...