Sajak-sajak IBG Parwita | Kerta Ghosa: Aksara yang Terjaga

IBG Parwita
by IBG Parwita — April 28, 2023 in Puisi

Tatkala.co

KERTA GHOSA: AKSARA YANG TERJAGA

Mengalirlah para roh dalam bentangan lautan sunyi
mengitari pohon pohon tua berbuah keris
menyusuri jembatan di atas sungai
yang mengering dengan api membakar sukma

nyanyian sendu para dewa menyiasati kesejatian
menjelmakan ketulusan dalam mimpi mimpi abadi
kejernihan nurani melepas aksara sukma
mengasah rindu lautan surgawi
telaga aksara berbunga bunga kasih
dalam lantunan kurban pemujaan

langit jadi hening menatap deretan lukisan tua di dinding
lekuk matanya menyimpan rahasia ilahi yang dalam
senjata penuh di tangan memutar dalam tarian
bintang bintang berguguran menyiram semesta
mengiringi gemuruh nyanyian di bumi

saat terjaga mimpi mimpi kehilangan bentuk
laut terdampar tanpa gelombang
gemuruh hanya angin berlabuh
mengusap dinding
lukisan tua berdebu

09 – 2013

PEREMPATAN KLUNGKUNG
MENJELANG NYEPI

Ada yang menunggu dalam kesunyian
angin gunung merembes pelan
gerimis menyiram semesta
menuang laut bergelora
menjadi hening
menyinar keteduhan

perempatan Klungkung awal peradaban
berbenah menggali kesunyian
dari dasar samudera menuju puncak semesta
dalam kebisuan cahaya
bulan padam matahari diam
laut benua tenggelam
di bawah pusaran abadi
dalam perahu tanpa kemudi

cahaya meredup
menimang segala yang hidup
dalam denyut nurani di persilangan bumi
yang selalu mengusik hati insani

09 – 2013

DI PELABUHAN KUSAMBA

Sunyi menerawang jauh di kebiruan langit
melepas gelisah burung burung
merapatkannya pada pasir pesisir

senyum rindu terkubur bilah bilah batu
melukis bulan bisu
daun daun layu
gemuruh berseteru
hati membatu

ketika pancaran senja tiba
gelombang menyisakan air mata
untaian kata kata
ketulusan tiada makna

angin berembus meratakan pasir terserak
perahu perahu tertambat kesunyian merambat
mengubur dinding dinding batu
dalam kesunyian menderu

9–2013

PESAN TERAKHIR

Pelita itu menggeliat tertiup angin
mengekalkan luka lama
dan nafas yang tertahan
tatapan sunyi kata tak terucap
hanya kerlip mata
memberi isyarat

ruangan ini dingin dan sepi
langit langit kamar yang mengurung
benderang bulan terkubur
pintu malam membaur
membuka semesta berbagi

isak nafas dan air mata
jerit panjang terlepas
hampa harapan
hanyalah kenangan yang hilang

angin malam mengalir pelan
semua kenangan telah kembali
sunyi telah menjadi miliknya

12112020

LUKISAN TUA

Pelabuhan ini masih menyimpan impian
sungai kecil yang mengalirinya
batu batu menahan rindu
riak kecil terlelap
membasuh ingatan
bayangan masa silam

langit biru mengurung
lukisan cahaya wajah terluka
terserak di pasir pesisir

angin bisu mengusap hati berdebu
nyanyian kalbu menerawang beku
luka kata mengubur rindu
melepas kesetiaan
untuk berbagi

141120

NYANYIAN LUKA

Dingin semesta melukis cahaya bulan
saat gelisah makin berdenyut
membasuh keheningan
melepas kesetiaan

mimpi mimpiku hanyalah laut beku
nyanyian rindu
mengelus sendu
dan luka menembus kalbu

jiwa ini kering mengalir bersama kerinduan
impian dan kenangan hanyalah kehampaan
tersimpan dalam kebisuan

langit masih menyisakan bayangan
kerinduan mengalir menjemput bintang bintang
melukis semua luka dalam jiwa

15112020

NYANYIAN YANG HILANG

Nyanyian ini berkali kali telah kudendangkan
waktu telah menguburnya jauh
hati ini selalu bergetar
melukis ketulusan
ataukah kita lupa mengenangnya
kesetiaan yang selalu bersama

Jiwa ini dingin dan sepi
mengalir bersama derai ombak
dan guguran daun daun
bayang bayang mengambang perlahan
gemuruh berlabuh
dalam perjalanan hari hariku

bulan dan bintang terlepas
langit terlelap
kata tak terucap

perjalanan ini tak akan kembali
rinduku beku tertutup waktu
gerimis bisu luka membatu
kita tak sanggup berbagi

15112020

LUKISAN

Nama itu selalu terlukis di jiwa
berbagi tentang masa lalu yang hilang
kesunyian ini terpahat penuh kenangan
dalam kebekuan yang dalam

cinta mengalir bersama harapan
kesetiaan yang tak mesti kita ragukan
gerimis yang luruh
pepohon yang rapuh
laut akan selalu menjemput

kita selalu mengenangnya sendiri
jejak langkah yang terdiam
menutup masa silam

gerimis senja menulis segala kenangan
dalam hening lautan menyimpan kelelahan
kerinduan ini dingin
tersimpan di dasar hati

16112020

SAJAK ULANG TAHUN

Angin senja melepas keheningan
ketika senyuman menghias lampu taman
menutup malam dalam mimpi kesunyian
ataukah perjalanan ini akan berhenti
ketika kelelahan berganti

Cahaya yang kutiup mengingatkan sisa waktu
musim musim yang mengikuti langkahku
memahatkan kebekuan yang dalam
kerinduan berlabuh ke muara

Perahu yang terdampar terhenyak dalam kebisuan
air laut menahan dingin cahaya bulan
menutup jauh tatapan diantara riuh canda
nyanyian yang mengantar gelisahku

Mimpiku hanyalah kesunyian terluka
getar kata yang menyulut bintang bintang
ataukah perjalanan yang melelahkan
selalu berpulang mengikuti arus waktu

Catatan yang terpahat penuh warna
cahaya bulan dan gerimis tertahan
kuabadikan dalam irama hati
sebelum letih melelapkan luka semesta

161120

  • Catatan: Sajak-sajak yang dimuat ini diambil dari buku Luka Purnama, 2020

TENTANG PENYAIR:

IDA BAGUS GDE PARWITA dilahirkan di Desa Tihingan, Klungkung, 19 November 1960. Mengabdi sebagai guru ASN (aparatur sipil negara) di SMP-PGRI dan SMA Pariwisata PGRI Klungkung. Kini menjabat Kepala SMA Pariwisata PGRI Dawan, Klungkung. Pada November 2020 memasuki masa pensiun sebagai ASN.

Parwita mengawali menulis puisi dan esai budaya berbahasa Indonesia pada tahun 1980. Karya-karyanya dimuat di koran Bali Post, Nusa Tenggara, Karya Bhakti, dan Berita Buana. Sajak-sajaknya dimuat dalam sejumlah antologi bersama penyair lain, antara lain, Pintu Ilalang, Spektrum, Teh Ginseng, Puisi Indonesia 87, Antologi Puisi Indonesia (API) 1997, Nuansa Tata Warna Batin, serta Klungkung: Tanah Tua Tanah Cinta. Parwita juga menulis dalam bahasa Bali.

Tulisan-tulisannya dalam bahasa Bali dimuat di koran Nusa Tenggara. Tahun 1983, satwa (cerita bersambung) yang ditulisnya yang berjudul “Sutasoma” dimuat di mingguan Prima serta berlanjut belakangan dimuat di majalah Burat Wangi, Canang Sari dan Bali Orti. Sajak-sajak Bali modern karya IBG Parwita dimuat dalam antologi Pupute tan Sida Puput (2001). Antologi sajak Bali modern karya Parwita terbit dengan judul Wayang dan mengantarkannya meraih penghargaan Widya Pataka dari Pemerintah Provinsi Bali tahun 2009.

IBG Parwita pernah meraih juara I penulis esai berbahasa Bali se-Bali di Balai Bahasa Denpasar tahun 2001, juara III penulis tembang Puputan Klungkung tahun 2001, juara I penulis tembang Puputan Klungkung tahun 2002. Pada tahun 2005, bersama penyair I Wayan Suartha, diundang membacakan sajak-sajaknya dalam Ubud Writers and Readers Festival. Tahun 2020, buku puisi tunggalnya terbit dengan judul Luka Purnama.
Kini tinggal di Desa Tihingan, Kecamatan Banjarangkan, Klungkung. [T]

https://tatkala.co/2023/04/28/sajak-sajak-i-wayan-suartha-kusanegara-kusamba/embed/#?secret=oqfonaqBua#?secret=Uvs39DvwIS
https://tatkala.co/2023/04/28/perempuan-di-bawah-rembulan-cerpen-ibw-widiasa-keniten/embed/#?secret=QntUbcLYSp#?secret=U2nCB1PT1t
https://tatkala.co/2023/04/22/lagu-rindu-untuk-ibu-membaca-sajak-sajak-i-wayan-suartha/embed/#?secret=GffjcYtcod#?secret=DBaulgK77N
https://tatkala.co/2023/04/28/semarapura-rumah-sejarah-membaca-klungkung-dalam-sajak/
https://tatkala.co/2023/04/15/dari-sunyi-kembali-ke-sunyi-membaca-sajak-sajak-ibg-parwita/embed/#?secret=6Kf9QHo3tF#?secret=qEs5oriVLG
Tag: Puisi
Avatar

IBG Parwita

Related Posts