Rumor Demo 4 November - Provokasi Media dan Jurnalisme Damai
KEMARIN banyak yang bertanya, “Benar akan ada demonstrasi besar-besaran 4 November nanti?” “Demo penistaan agama di Jakarta?” “Isu yang diseret-seret ke ranah politik.” Bukan orang...
SERBA INSTAN, mungkin kata tersebut bisa mewakili kehidupan manusia pada masa sekarang ini. Semakin bergulirnya waktu dan berkembangnya IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi), ternyata menjadi pedang bermata dua dalam perkembangan kehidupan manusia. IPTEK memiliki peran penting dalam memajukan peradaban dan memudahkan segala pekerjaan manusia.
Namun, di samping manfaat luar biasa tersebut, tanpa disadari, perkembangan IPTEK juga membawa momok yang teramat mengerikan bagi kehidupan manusia. Tumbuhnya sifat pemalas serta sifat terburu-buru dalam mengambil keputusan dan menyimpulkan segala sesuatunya bahkan tanpa menelusuri kebenarannya terlebih dahulu. Sungguh mengerikan!
Nah, sifat-sifat tersebutlah yang menyebabkan munculnya fenomena self diagnose, yang merupakan seni mendiagnosis atau mengklaim diri sendiri sebagai orang yang mengidap sebuah penyakit berdasarkan pengetahuan dan informasi yang didapatkan secara mandiri tanpa dibantu dengan orang yang profesional.
***
Maraknya self diagnose dipengaruhi oleh perkembangan teknologi, salah satunya media sosial. Bukan berarti media sosial tersebut buruk, tidak! Hanya saja mental dan pengetahuan kita yang belum cukup untuk memanfaatkan media sosial dengan baik.
Banyak orang menelusuri gejala kesehatan mental di internet (Google, Instagram, Twitter, dan media sosial lainnya), lalu percaya mentah-mentah bahwa mereka sedang mengalaminya dengan mengasumsikan (memaksakan) bahwa apa yang dirasakan sesuai dengan apa yang tertera di internet, padahal belum tentu sesuai.
Sering saya jumpai orang-orang di sekitar saya mencari tahu tentang kondisinya di Google (tak jarang saya juga… Hehehe), seperti misalnya ketika mengalami suasana hati yang buruk/sedih dan merasa putus asa, lalu melakukan penelusuran di Google dan Google menyatakan bahwa orang tersebut mengalami depresi.
Secara tidak sengaja, orang tersebut pasti akan memikirkan hal tersebut secara terus menerus, yang pada akhirnya justru menimbulkan stress.
Self diagnose bisa berakibat fatal terhadap kesehatan mental, yang memungkinkan seseorang mengalami mental illness (kondisi Kesehatan yang berpengaruh pada pemikiran, perasaan, perilaku, atau suasana hati seseorang).
Mental illness memiliki jenis yang beragam, namun yang biasanya cukup sering terjadi adalah gangguan kecemasan, kepribadian, gangguan makan, psikotik, suasana hati, stress pascatrauma, dan depresi.
Self diagnose sangat berbahaya bagi kesehatan karena akan menyebabkan hal-hal mengerikan seperti di bawah ini:
Salah obat
Setelah menelusuri Google dan mendapat jawaban bahwa Anda sedang mengalami suatu penyakit, lalu dengan tergesa-gesa mencari obat yang dianjurkan oleh Google. Padahal belum tentu Anda mengalami suatu penyakit atau bisa jadi dosis obat tersebut tidak sesuai dan mengandung bahan berbahaya untuk tubuh.
Mengabaikan kesehatan
Tak jarang kita abai ketika tubuh mengalami gejala-gejala aneh seperti tidak ingin bertemu dengan orang lain, mengalami perubahan emosi dalam waktu yang cepat dan tidak jelas penyebabnya. Lalu Anda menganggap hal tersebut hanyalah terjadi karena kelelahan biasa.
Padahal, bisa saja gejala-gejala tersebut merupakan gejala penyakit yang membutuhkan perawatan intens sebelum memasuki kondisi yang parah, seperti misalnya depresi atau gejala ODGJ.
Timbulnya penyakit yang lebih serius
Kebiasaan self diagnose bisa mebimbulkan penyakit baru seperti penyimpangan obat karena tidak sesuai dengan dosis, obat tersebut malah menimbulkan suatu penyakit baru dalam tubuh kita yang sebelumnya sehat.
Self diagnose juga menimbulkan penyakit baru khususnya penyakit mental, karena terlalu sering memikirkan diagnosis yang kita lakukan sendiri dan menimbulkan kecemasan yang berlebihan sehingga menimbulkan penyakit mental.
Belum lagi sekarang ini banyak sekali remaja-remaja yang membuat konten mengenai gangguan kesehatan mental di media sosial, bahkan tak tanggung-tanggung mengklaim dirinya sedang mengalami gangguan mental tingkat akut.
Biasanya konten-konten tersebut disampaikan dengan beberapa cuplikan video yang sedang mengiris pergelangan tangan atau menjambak rambutnya, memotong rambut pendek bagi perempuan dengan alasan stress, menangis di kamar yang gelap dan diiringi dengan lagu-lagu sedih, atau sebuah quote yang mampu mencuci pikiran orang-orang yang melihatnya.
Tak lupa menambahkan caption yang penuh dramatisasi, terkait penyebab dia melakukan hal seperti itu, terkait kondisinya yang mungkin menyatakan bahwa dia sedang mengalami gangguan depresi akut, mengalami stress atau trauma.
Lalu, secara tidak sengaja, konten-konten tersebut lewat di beranda media sosial Anda, dan mungkin saja ketika menonton video tersebut Anda sedang mengalami kelelahan atau menghadapi sedikit masalah. Nah, dalam kondisi tersebut sudah pasti Anda akan setuju dengan video di konten tersebut lalu mengasumsikan bahwa Anda juga mengalami hal yang sama.
Dengan tergesa-gesa membagikan konten tersebut di media sosial Anda sendiri yang secara tidak langsung mengajak orang lain untuk merasakan hal yang sama dan mendiagnosis dirinya mengalami penyakit mental.
Tindakan di atas berdampak sangat buruk, bahkan seperti membentuk rantai penyakit. Padahal, untuk mengetahui apakah kita mengalami suatu penyakit kita hanya perlu berkonsultasi ke dokter. Atau, khususnya mengenai penyakit mental, kita diwajibkan untuk berkonsultasi ke psikolog.
***
Semakin ke sini manusia semakin sok pintar dan menganggap dirinya tahu segalanya hanya dengan modal hasil penelusuran di Google atau postingan di media sosial yang sengaja di buat dengan capslock dan bercetak tebal untuk mempengaruhi pemikiran seseorang.
Postingan-postingan seperti “5 TANDA KAMU MENGALAMI TRAUMA”, “7 TANDA KAMU MENGALAMI GEJALA STRESS AKUT” atau “TANDA-TANDA KAMU MENGALAMI INSOMNIA” dan postingan-postingan sejenis lainnya---yang di dalam konten tersebut menyebutkan hal-hal lumrah yang biasa terjadi.
Tidaklah mudah untuk mengetahui apakah kita mengalami suatu penyakit, untuk itu kita wajib berkonsultasi dengan dokter yang telah menempuh Pendidikan kesehatan bertahun-tahun dan menghabiskan biaya hingga ratusan juta juga memerluka pengecekan dengan alat-alat kedokteran sebelum mendiagnosis seseorang.
Dan khusus untuk penyakit mental, hanya seorang psikolog saja yang memiliki otoritas mendiagnosis.
Namun, zaman sekarang, berkonsultasi ke dokter dirasa membuang-buang waktu, tanpa memperhatikan kesehatan sendiri. Dengan tingkat pengetahuannya, seseorang percaya bisa mendiagnosis dirinya hanya dengan media sosial dan internet, lalu mencari obat sendiri.
Terakhir, untuk bisa mengetahui kondisi kesehatan khususnya kesehatan mental, Jadilah psikolog bukan seperti psikolog.[T]
KEMARIN banyak yang bertanya, “Benar akan ada demonstrasi besar-besaran 4 November nanti?” “Demo penistaan agama di Jakarta?” “Isu yang diseret-seret ke ranah politik.” Bukan orang...
Hai Gess! Kenken Kabare, Gess? Nu inget nyoblos, Gess? Calon Tunggal di Buleleng jani, Gess. Memusuh jak KOTAK KOSONG, Gess. Musuh ngenah aluh ngelawan! Musuh sing ngenah, kaden al...
Sekilas MEA ASEAN sebagai pasar tunggal kemudian disebut Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), seperti dimuat pada laman Kementerian Luar Negeri RI (www.kemlu.go.id), Selasa 17 Maret 20...
BELAJAR dari figur dan tokoh perempuan, itulah barangkali pesan utama dari buku kumpulan cerpen berbahasa Bali terbaru I Made Suarsa, “Luh-Luh”. Buku ini memuat 19 cerpen yang kese...
Dear para jomblo di muka Bumi ini, Aku adalah kawanmu yang masih setia. Menjomblo bersama kalian adalah sebuah anugerah tak terbatas. Terima kasih karena kalian juga masih setia...
TIDAK banyak yang mengira bahwa kini masyarakat Eropa ternyata malas dalam mempelajari bahasa asing. Meski perkembangan pendidikan di Eropa sangatlah pesat, siapa sangka bahwa mere...
Prodi Pendidikan Seni Rupa, FBS, Undiksha, Singaraja, menggelar pameran bertajuk “Qilin” (Membaca Sosial Budaya Warga Pecinan Kota Singaraja) di Neka Art Museum, Jalan Sanggingan C...
SARJANA. Bak mobil yang telah turun kastanya dari kebutuhan tersier menjadi kebutuhan primer. Sarjanapun, maknanya semakin memudar. Terlalu banyak sarjana modern yang merasa sal...
ANDA pernah jatuh cinta? Baiklah, yang sudah pernah jatuh cinta sebelumnya pasti akan mengerti tentang pembahasan kali ini. Jika belum pernah, sayang sekali, anda hanya akan bisa...
Cerpen: Komang AstiariAKU rindu kampung halaman. Aku rindu nenek. Kepergiannya masih menyakitkan bagiku, batinku belum mampu menerima dia sudah pergi, selamanya. Apakah Tuhan mengg...