Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat
LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak tahu apa yang terjadi ke d...
Semburat bulan
Menyelinap di sunyi barisan pinus
Sedang kita berusaha
Sibak kabut
Sisir bayang
Pada basah jalanan
Mengiratkan dingin
Sesekali kita kenang Les
Jua tak lupa
Menabung rindu untuk Pedawa
Sampai tiba saatnya
Bersemi dalam hangat perjumpaan
Namun jalan masih panjang
Gelap dan gerimis mesti ditempuh
Dalam saku baju hangatmu
Kubungkam gigil ujung jari
Tanpa tanya berapa jauh lagi
Kubenam lelah di balik punggung waktu
Di tikungan malam
Langkahku pelan melintas
Kutaruh pandang kiri kanan
Kios-kios sibuk menjaja sunyi
Tak jauh
Kulihat sepasang pedagang
Bersihkan wajan dan piring
Dari kerak dan sisa lapar
Menggosokkan sabun
Agar kikis pula tumpukan lelah
Dan cemas hari tua
Langkahku terus
Memungut cahaya
Dari lampu yang hanya satu, dua, menyala
Di ujung jalan
Seorang penjahit memecah hening
Memintal kusut-kusut kepala
Merajutnya jadi satu, dua, cerita
Untuk tawa yang akan datang
Saat bertambah satu, dua, usia
Doa mengepul di perapian
Mengayun lamunan
Di sela gerai rambutmu
Candumu mendesakku agar bergegas
Menyapu gugur rindu di halaman
Kemudian kurapikan dalam kotak waktu pemberianmu
Di perjalanan
Aku sibuk merangkai kemungkinan
Burung-burung hinggap di pucuk pinus
Bunga-bunga riuh menanti
Kita pun larut dalam seikat pertemuan
yang rekah dari kopi pahit kehidupan ini
Takkan henti kudaki terjalmu
Walau debu dan kerikil begitu bertingkah
Kupastikan akan sampai
Sebelum bibir cangkir itu mencuri kecupanmu
Seorang anak
sedang duduk di halaman
Lapang lamunan
membingkai gurat sesal bapak
yang tersesat pada ikal rambutnya
Dalam percakapan nyenyat
dilihatnya masa kecil mengudak
Menggagau wajah asing itu
Yang dulu membuyarkan lelap
dan permainkan igauku
hanya untuk bertanya siapa presiden Amerika
Diakah?
Yang kubuatkan kalimat bapak pulang malam
di buku tulis pertamaku
Dia juga?
Yang membiarkan celoteh masa kanakku tersiar di radio amatir itu
Dia?
Elehebeh!
Sekian lama kelana
belum jua matang mampunya
untuk bertanya
“Kapan kita pulang bersama?”
[][][]
KLIK untuk BACA PUISI-PUISI lainnya
LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak tahu apa yang terjadi ke d...
ADA bunyi-bunyi yang hidup begitu lama di sekitar kita hingga akhirnya menghilang dari ingatan. Ia pernah hadir setiap hari, melintas di jalan-jalan kampung, menyelinap di antara...
DENPASAR – TATKALA.CO | Seniman-seniman dari Kabupaten Buleleng tampil dengan ciri khas Bali Utara pada Peed Aya (Pawai) Pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 202...
Antara Takdir dan Kebebasan: Pertanyaan Tua yang Tak Pernah Usai Sejak manusia mulai bertanya tentang dirinya sendiri, satu pertanyaan selalu muncul: apakah hidup ini ditentuka...
Tari Siwanataraja selalu menjadi bagian penting dalam Peed Aya (Pawai Budaya) pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) setiap tahunnya. Tari yang disajikan secara megah dengan iringan...
“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you, baby ….” Ponsel Garu masih mengalunkan musik tersebut berulang-ulang di tengah hu...
JESS BUAT PRANITA DEWI Meong-meong alih je bikule—suara itu melintas dari pelataran purake satelit, kabel bawah laut, ruang transit;atma mengikutinya seperti temayang berpindah...
BULELENG – TATKALA.CO | “Festival ini merupakan ruang bersama untuk menunjukkan potensi dan kreativitas masyarakat. Melalui kegiatan seperti ini, kita dapat memperkuat jati diri d...
Ida Kade Saka Rosanta, yang kerap dipanggil Gus Moyo memamerkan karya rupanya di Rumah Berdaya, jalan Raya Sesetan 280 Denpasar. Selain lukisan, Gus Saka juga memajang hasil ngebo...
SEJAK kapan sebuah kata harus tunduk pada makna yang kaku? Padahal, di tengah masyarakat, makna kata itu justru tumbuh dan meluas. Bagi seorang epigraf dan arkeolog, kata ...