Semburat bulan Menyelinap di sunyi barisan pinus Sedang kita berusaha Sibak kabut Sisir bayang Pada basah jalanan
Mengiratkan dingin Sesekali kita kenang Les Jua tak lupa Menabung rindu untuk Pedawa Sampai tiba saatnya Bersemi dalam hangat perjumpaan
Namun jalan masih panjang Gelap dan gerimis mesti ditempuh Dalam saku baju hangatmu Kubungkam gigil ujung jari Tanpa tanya berapa jauh lagi Kubenam lelah di balik punggung waktu
TELUSUR
Di tikungan malam Langkahku pelan melintas Kutaruh pandang kiri kanan Kios-kios sibuk menjaja sunyi
Tak jauh Kulihat sepasang pedagang Bersihkan wajan dan piring Dari kerak dan sisa lapar Menggosokkan sabun Agar kikis pula tumpukan lelah Dan cemas hari tua
Langkahku terus Memungut cahaya Dari lampu yang hanya satu, dua, menyala
Di ujung jalan Seorang penjahit memecah hening Memintal kusut-kusut kepala Merajutnya jadi satu, dua, cerita Untuk tawa yang akan datang Saat bertambah satu, dua, usia
DI PERJALANAN
Doa mengepul di perapian Mengayun lamunan Di sela gerai rambutmu
Candumu mendesakku agar bergegas Menyapu gugur rindu di halaman Kemudian kurapikan dalam kotak waktu pemberianmu
Di perjalanan Aku sibuk merangkai kemungkinan Burung-burung hinggap di pucuk pinus Bunga-bunga riuh menanti Kita pun larut dalam seikat pertemuan yang rekah dari kopi pahit kehidupan ini
Takkan henti kudaki terjalmu Walau debu dan kerikil begitu bertingkah Kupastikan akan sampai Sebelum bibir cangkir itu mencuri kecupanmu
KELANA
Seorang anak sedang duduk di halaman Lapang lamunan membingkai gurat sesal bapak yang tersesat pada ikal rambutnya
Dalam percakapan nyenyat dilihatnya masa kecil mengudak Menggagau wajah asing itu
Yang dulu membuyarkan lelap dan permainkan igauku hanya untuk bertanya siapa presiden Amerika Diakah?
Yang kubuatkan kalimat bapak pulang malam di buku tulis pertamaku Dia juga?
Yang membiarkan celoteh masa kanakku tersiar di radio amatir itu Dia? Elehebeh!
Sekian lama kelana belum jua matang mampunya untuk bertanya “Kapan kita pulang bersama?”
Setiap bertemu orang yang bertanya, “Sudah kerja? Kerja di mana sekarang?” Saya kesal. Selalu kesal. Bukan lantaran karena tak punya pekerjaan. Namun betapa bingung mesti dengan ap...
Judul Buku: Cupak Tanah – Enam Naskah Drama
Pengarang : Putu Satria Kusuma
Penerbit : Mahima Institute Indonesia
Tahun Terbit : 2015
Jumlah Halaman : xvi + 216 halaman
ISBN :978-60...
Lucu itu pembawaan, tak bisa dipaksakan. Tidak banyak orang yang fasih melucu. Kebanyakan orang gigih mencoba melucu, justru jadinya tidak lucu. Kalaupun kemudian ada yang tertawa,...
SETIAP zaman punya ciri khasnya masing-masing. Zaman kita saat ini adalah zaman ‘dunia maya’. Dan, setiap zaman selalu melahirkan sejumlah konflik. Zaman kita sekarang ini melahirk...
Bila ditanya, manakah karya sastra yang benar-benar mampu berbaur dengan segala hal, barangkali puisilah jawabannya. Sebagaimana ia diistilahkan dengan berbagai nama di setiap bida...
KETIKA ideologi komunis atau sosialis dikatakan bangkrut, lantas apa yang mendasari kedatanganku ke kuburan Karl Marx, lelaki yang identik dengan ideologi itu?
"Untuk memenuhi ras...
Bali memahami konflik dengan sangat bijaksana. Ia adalah konsep rwa binedha, pertentangan yang menjadi satu, pertentangan yang melahirkan dinamika dan keberlangsungan hidup.
Ada ru...
Judul Buku: EKSPLO(RA)SI TUBUH - ESAI-ESAI KURATORIALSENI RUPAPenulis: HardimanPenerbit: Mahima Institute IndonesiaTebal : viii + 307 ISBN : 978-602-18311-7-5 Buku Eksplo(ra)si Tub...
Judul Buku : Perempuan Tanpa Nama
Pengarang : Kadek Sonia Piscayanti
Penerbit : Mahima Institute Indonesia
Tahun Terbit : 2015
Jumlah Halaman : x + 288 halaman
ISBN :978-602-18311-...
Berbahagia sekali saya masih diberi kesempatan untuk bernapas, kemudian tadi pagi masih berak dengan lancar, dan menyusun pidato ini dengan keadaan suhu tubuh serta kejiwaan yang n...