“Full Day School”, Bentuk Generasi Emas atau Generasi Cemas?
GELI juga membaca berita tentang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy yang menggagas sistem "full day school" untuk pendidikan dasar (SD dan SMP), baik negeri maupun...
Semburat bulan
Menyelinap di sunyi barisan pinus
Sedang kita berusaha
Sibak kabut
Sisir bayang
Pada basah jalanan
Mengiratkan dingin
Sesekali kita kenang Les
Jua tak lupa
Menabung rindu untuk Pedawa
Sampai tiba saatnya
Bersemi dalam hangat perjumpaan
Namun jalan masih panjang
Gelap dan gerimis mesti ditempuh
Dalam saku baju hangatmu
Kubungkam gigil ujung jari
Tanpa tanya berapa jauh lagi
Kubenam lelah di balik punggung waktu
Di tikungan malam
Langkahku pelan melintas
Kutaruh pandang kiri kanan
Kios-kios sibuk menjaja sunyi
Tak jauh
Kulihat sepasang pedagang
Bersihkan wajan dan piring
Dari kerak dan sisa lapar
Menggosokkan sabun
Agar kikis pula tumpukan lelah
Dan cemas hari tua
Langkahku terus
Memungut cahaya
Dari lampu yang hanya satu, dua, menyala
Di ujung jalan
Seorang penjahit memecah hening
Memintal kusut-kusut kepala
Merajutnya jadi satu, dua, cerita
Untuk tawa yang akan datang
Saat bertambah satu, dua, usia
Doa mengepul di perapian
Mengayun lamunan
Di sela gerai rambutmu
Candumu mendesakku agar bergegas
Menyapu gugur rindu di halaman
Kemudian kurapikan dalam kotak waktu pemberianmu
Di perjalanan
Aku sibuk merangkai kemungkinan
Burung-burung hinggap di pucuk pinus
Bunga-bunga riuh menanti
Kita pun larut dalam seikat pertemuan
yang rekah dari kopi pahit kehidupan ini
Takkan henti kudaki terjalmu
Walau debu dan kerikil begitu bertingkah
Kupastikan akan sampai
Sebelum bibir cangkir itu mencuri kecupanmu
Seorang anak
sedang duduk di halaman
Lapang lamunan
membingkai gurat sesal bapak
yang tersesat pada ikal rambutnya
Dalam percakapan nyenyat
dilihatnya masa kecil mengudak
Menggagau wajah asing itu
Yang dulu membuyarkan lelap
dan permainkan igauku
hanya untuk bertanya siapa presiden Amerika
Diakah?
Yang kubuatkan kalimat bapak pulang malam
di buku tulis pertamaku
Dia juga?
Yang membiarkan celoteh masa kanakku tersiar di radio amatir itu
Dia?
Elehebeh!
Sekian lama kelana
belum jua matang mampunya
untuk bertanya
“Kapan kita pulang bersama?”
[][][]
KLIK untuk BACA PUISI-PUISI lainnya
GELI juga membaca berita tentang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy yang menggagas sistem "full day school" untuk pendidikan dasar (SD dan SMP), baik negeri maupun...
HAY, ges, Salam Sejahtera untuk ges ges semua di seantero jagad Indonesia tercinta. Semoga semua masih dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa dan selalu memegang teguh ideologi Panca...
RATUSAN anak mendadak berlarian dari sisi barat dan timur Taman Lumintang, Denpasar. Mereka menghambur begitu saja di tengah-tengah lapangan. Mereka menari, berlari, kejar-kejaran,...
Cerpen: Surya Gemilang PARA pengunjung Taman Palakosa dibuat menganga pada sore itu oleh kehadiran seorang pria bertubuh kekar yang wajahnya abnormal; ia bermata tiga—m...
RASANYA baru kemarin saya menjadi mahasiswa semester 6 dan kini sudah beranjak ke semester 7. Segala pahit getir hari-hari di semester 6 yang agak jahanam akhirnya bisa saya lalui...
“Dadi minum, sakewale abedik!” begitu pesan luhur dari Sembroli. Dan kalimat itu dikatakan berkali-kali. Setiap kali menyebut “pesan luhur”, ia selalu angkat gelas dan menenggak ar...
PAGI tadi aku duduk di sebuah kursi taman di belakang gedung kampusku yang baru. Sudah tiga hari aktivitas ini aku lakukan. Aku pun sebenarnya tidak betul-betul tahu untuk apa dan...
MEDIA Sosial tentunya memberikan banyak manfaat. Mulai dari sarana untuk mengekspresikan diri, bertukar informasi, mencari lebih banyak teman, bahkan untuk menjalankan sebuah bisni...
BELAJARLAH pencitraan dari kuliner khas Buleleng, terutama dari lawar getih. Karena pencitraan itu adalah pertunjukan tentang “rasa dan kesan” yang serupa antara apa yang dilihat m...
SINTHA Pramadewi terlihat serius melihat aksara demi aksara yang tertulis di atas selembar daun lontar. Dengan terbata-bata ia berusaha membaca aksara demi aksara, yang ukurannya t...