‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan
MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang kompleks, bahkan traumatik....
SEJAK MEMUTUSKAN merantau ke Singaraja, Bali, pada 2015 silam, sekarang saya merasa bahwa ciri khas ke-Tuban-nan saya nyaris sudah hilang. Hal itu bisa terjadi mungkin karena banyaknya budaya, kebiasaan, bahasa, dan manusia (yang berinteraksi) yang saya temui; tapi barangkali ini alasan yang paling kuat: saya jarang dan lama tak pulang ke Tuban---dan sekalinya pulang memang tak pernah lama. Dengan kata lain, saya sudah jarang berinteraksi dengan orang Tuban.
(Selama saya hidup di Singaraja, sekuat yang saya ingat, saya hanya akan pulang saat menjelang Idul Fitri. Artinya, saya hanya pulang sekali dalam setahun. Bahkan, saat pandemi corona sedang berada di puncaknya, saya merayakan Idul Fitri di Singaraja---dan itu, tentu saja, tidak enak. Tapi sebenarnya hanya karena pertimbangan ekonomi sajalah jika kemudian saya lebih jarang pulang kampung dan, oleh karena itu, lebih berjarak dengan desa kelahiran.)
Ya, sejak saya tercatat sebagai mahasiswa di salah satu perguruan tinggi negeri di Singaraja, saya lebih banyak berinteraksi dengan orang, budaya, kebiasaan, dan bahasa dari luar Tuban. Tentu bukan berarti di Singaraja tidak ada mahasiswa dari Tuban, tapi mahasiswa asli Tuban di Singaraja jumlahnya tak lebih banyak dari jari tangan (kanan-kiri) manusia (sekarang bahkan sudah lenyap tak tersisa). Bahkan, antar mahasiswa asli dari Tuban pun, saat berinteraksi, tak jarang malah menggunakan kebiasaan orang lain, alih-alih kebiasan sendiri.
Soal bahasa, dialek, atau logat, misalnya. Di Singaraja, saya dan teman-teman lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia daripada bahasa Jawa (atau lebih tepatnya bahasa Jawa khas Tuban). Bukannya hendak gaya-gayaan, tapi orang bodoh macam apa, sebagai orang Tuban, Jawa Timur, saat berbicara dengan orang Bali, Lombok, Sumatera, Makassar, Kupang sampai Papua, menggunakan bahasa Jawa? Alih-alih akrab, bisa jadi malah babak-belur.
Sialnya, menggunakan bahasa Indonesia nyaris setiap hari, membuat lidah saya seperti lupa mengucapkan kata, dialek, atau logat khas Tuban dengan baik dan benar.
Saya sudah jarang menggunakan kata “ngamuk” untuk kata “terserah”; “srengen”---e dibaca seperti kata serem---untuk kata “marah”; “ndhêngêr” = paham; “mlété” = sombong; “mbaít” = lihai; “ngêmpròs” = berbohong; “mêgilan” = terkenal (dalam konteks negatif); “jêmbêrên” = jijik; atau mengunakan “-êm” dan “-nêm” sebagai imbuhan di akhir kata. Ya, alih-alih menggunaka kata “ngamuk”, misalnya, dalam konteks bahasa Jawa, sekarang saya lebih banyak menggunakan kata “sembarang” atau “terserah” sebagai penggantinya.
Sekadar informasi, dalam bahasa Indonesia, imbuhan “-êm” dan “-nêm” sama seperti kata ganti kepemilikan “-mu”. Sedangkan penggunaannya didasarkan pada huruf akhir kata yang diimbuhi tersebut berupa huruf vokal atau konsonan.
Misal, jika Anda ingin mengimbuhkan kata ganti kepemilikan pada kata yang berakhiran huruf vokal seperti “jahe”, imbuhan yang berlaku adalah “-nêm”, sehingga menjadi jahenêm (jahemu). Lalu, jika Anda ingin mengimbuhkan kata ganti kepemilikan pada kata yang berakhiran huruf konsonan, seperti “kipas”, misalnya, imbuhan yang berlaku adalah “-êm”, sehingga menjadi kipasêm (kipasmu). Contoh lain: bapakêm (bapakmu), adikêm (adikmu), dan, jarinêm (jarimu), sapinêm (sapimu), atau sapunêm (sapumu), dst.
Bukan hanya itu saja, saya juga sudah jarang menggunakan seruan “lèh” sebagai penegasan pada akhiran kalimat perintah, kalimat berita, maupun kalimat tanya. Soal ini, dalam bahasa Indonesia, seruan “lèh” sama halnya seperti seruan “dong” untuk akhiran kalimat perintah dan sama seperti seruan “lho” untuk akhiran kalimat berita, juga serupa dengan seruan “kan” untuk kalimat tanya. Misal: ayo, lèh! = ayo, dong!; Iya, lèh = iya, loh; dan iku, lèh? = itu, kan? Dst.
Sampai di sini, sekali lagi, seingat saya, saat berbicara menggunakan bahasa Jawa, saya memang sudah tidak pernah lagi menggunakan kosa kata atau istilah-istilah di atas atau menggunakan “-êm” dan “-nêm” sebagai imbuhan di akhir kata---untuk yang terakhir, soal imbuhan “-êm” dan “nem”, sudah lama saya menggantikannya dengan kata ganti kepemilikan “-mu”.
Saya tidak paham betul kenapa kita gampang sekali terpengaruh oleh lingkungan. Tetapi, soal bahasa, saya meyakini bahwa bahasa yang digunakan oleh seseorang sangat dipengaruhi oleh konteks sosial budaya yang ada di sekelilingnya. Dan konteks budaya tersebut, tentu juga bergantung pada status sosial, aktivitas, daerah geografis, usia, dan lainnya.
Dengan begitu, maka wajar jika bahasa yang digunakan masyarakat di perkotaan akan berbeda dengan bahasa yang digunakan masyarakat daerah perdesaan. Hal itu karena konteks sosial budaya di masing-masing wilayah berbeda dan menyertai kehidupan masyarakatnya.
***
Bagi sebagain orang, mungkin hal ini tampak sepele. Tapi, bagi orang yang sering mempersoalkan banyak hal seperti saya, tentu ini cukup serius dan, tentu saja, membuat saya ketar-ketir. Dan rasa itu semakin memenuhi dada saat saya pulang ke kampung halaman.
Di kampung saya di Dusun Karang Binangun, Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban, tak mungkin saya menggunakan bahasa Indonesia (memangnya orang Karang Binangun aneh macam apa yang melakukannya. Alih-alih kagum, sepertinya malah akan dibacakan mantra, sebab dianggap kesurupan). Maka, mau tidak mau, suka tidak suka, saya harus menggunakan bahasa Jawa. Sialnya, bahasa Jawa saya sudah campur aduk dengan kekhasan daerah lain.
Ya, seperti yang sudah saya sampaikan di awal, bahwa saya berinteraksi dengan banyak orang, budaya, kebiasaan, dan bahasa, termasuk bahasa dari belahan bumi Jawa yang lain---yang membuat bahasa Jawa saya tak lagi memiliki ciri khas, dangkal, blasteran, dan tak jelas.
Maka betapa remuk redam hati saya saat tetangga, kerabat, teman dekat, bahkan orang tua saya sendiri mengatakan: “Wis berubah yo sak iki. Wis gak koyo wong Karang Binangun maneh.” “Sudah berubah ya sekarang. Sudak tidak seperti orang Karang Binangun lagi.” Wah, saya pikir ungkapan ini bukan hanya sekadar ungkapan spontanitas atau sekadar bercandaan, lebih dari itu, khususnya saya pribadi, saya merasa, ucapan itu semacam bentuk kehilangan, kekecewaan, secara tidak langsung.
Parahnya, tak berhenti sampai di situ, dari urusan logat, dialek, kemudian merembet sampai urusan makanan dan hubungan kekerabatan.
Banyak orang di kampung saya mengatakan---cenderung menuduh dan tak jarang menghakimi---bahwa saya sudah tidak lagi doyan makanan kampung dan melupakan batehane (kerabatnya). “Sudah lama hidup di kota, pasti nggak mau makanan orang kampung seperti ini” juga “Dia pasti sudah lupa sama kerabatnya sendiri.” Oh, maaf, saya ralat: bukan hanya kerabat dan tetangga saja yang begitu, beberapa teman lama saya juga mengatakan hal yang sama.
Ya, ini alasan kenapa saya menganggap urusan ini cukup serius. Dan saya paham, bahwa ini adalah efek, konsekuensi, merantau.
Wajar mereka mengatakan seperti itu, wong saya sendiri merasa sudah jauh dari kampung halaman, kok. Jauh bukan hanya soal geografis, tapi juga soal-soal yang lebih filosofis dan esensial. Saya tak lagi tahu siapa orang yang meninggal, siapa yang lahir, dan siapa menikah dengan siapa. Seperti saat misan perempuan saya menikah dan betapa malunya saya saat suaminya memanggil saya sedangkan saya tidak tahu dia siapa dan menganggap dia orang lain. Atau ketaktahuan yang fatal bahwa seorang bocah tak saya kenal yang bermain di depan rumah adalah anak dari seorang sepupu.
Sampai di sini, bukankah apa yang terjadi pada saya juga terjadi dengan kebanyakan perantau? Saya tak tahu betul soal itu.
Tetapi, pada akhirnya saya cukup lega saat nenek saya dari pihak ibu berkata: “Sekolah kok nggak selesai-selesai. Garap ladang sana, bantu bapakmu!” Ia selalu menyebut saya sekolah, meskipun saat ini saya adalah seorang editor di sebuah perusahaan media dan telah setahun lulus kuliah. Saya tertawa saat pertama kali mendengarnya, tapi rasa-rasanya saya mesti berterima kasih kepada Nenek, orang yang tak pernah menggap saya berubah.
Ya, di bagian diri saya yang lain, secara psikologis, saya merasa tak pernah berubah dari pertama kali saya meninggalkan desa nyaris sembilan tahun lalu. Saya adalah bocah yang sama yang, kata Nenek, “sekolah tak selesai-selesai”. Tak peduli selama sembilan tahun saya hidup di Singaraja dan mengalami semua lika-liku ala perantau; tak peduli ke-Tuban-nan saya sudah luntur atau bahkan hilang, yang jelas, saya tetap orang Tuban dan akan tetap menjadi bagian di dalamnya---walaupun sudah jarang menggunakan “-êm” dan “-nêm” sebagai imbuhan di akhir kata. Itu bisa saya pelajari kembali, suatu saat nanti.[T]
MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang kompleks, bahkan traumatik....
BUNG Karno adalah presiden Indonesia yang memiliki cita rasa seni yang tinggi. Dari 8 PresidenIndonesia,Bung Karno, Abdul Rachman Wahid (Gus Dur), dan Susilo Bambang Yudoyonomenon...
SAYA menulis ini bukan hanya untuk diri saya sendiri, tetapi untuk banyak seniman yang mungkin merasakan hal yang sama. Mereka yang menghabiskan waktu bertahun-tahun menempuh pend...
DESA Pedawa di Kecamatan banjar, Buleleng, yang dikenal dengan adat dan budaya yang unik kembali menjadi tujuan pengabdian akademik. Pada hari Rabu, 10 Juni 2026, tim Pengabdian k...
Hari itu, Kamis, 11 Juni 2026, para siswa yang tergabung dalam OSIS dan MPK (Majelis Perwakilan Kelas) SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) berkunjung ke Yayasan Bali Baby...
DALAM kehidupan sehari-hari, kata "absen" sangat akrab digunakan oleh masyarakat. Di sekolah, guru sering mengatakan, "Ayo, sebelum belajar kita absen dulu." Di lingkungan peke...
SUATU pagi di Ubud, seorang wisatawan asing duduk bersila di atas matras yoga. Ia memejamkan mata. Di hadapannya terbentang hamparan sawah yang hijau. Burung-burung berkicau. Angi...
KOMITMEN dalam menjaga kelestarian lingkungan terus ditunjukkan oleh Fakultas Vokasi Institut Pariwisata dan Bisnis Internasional (IPB Internasional). Melalui Program Studi D4 Man...
DARI balik kaca bus berkapasitas empat puluh lima kursi saya melihat malam hari di Banyuwangi, Jawa Timur, cukup gemerlap. Lampu-lampu menebar cahaya sekaligus memberi sihir warna...
DI atas meja makan rumah tangga Indonesia, tempe bukan sekadar lauk pendamping yang hadir sebagai pelengkap nasi. Melainkan pilar ketahanan pangan yang paling jujur, sebuah warisa...