Untuk Perbaiki Bali, “Ngiring Sareng-sareng Dados Balian”
“Ngiring je sareng-sareng dados Balian,” kata teman saya minggu lalu, saat ngopi di bawah rindang pohon bambu, siang di belakang rumahnya. Mimih, ucap saya spontan. “Kenapa harus...
“Apa yang membuat sesuatu
tampak indah atau buruk?”
tanyamu pada sebuah jalan.
Arah keluar
Arah masuk
Rasa cemas akan tersesat.
Menjelang pesta besar,
Orang-oang mabuk
Senantiasa sibuk
Akan was-was
Kita siapkan tungku sedini mungkin
Di awal pesta pernikahan, di upacara perkawinan
Suka-duka itu, Bu
kita masak dan bumbui. Sedap jadi tawa
Sebab esok, yang kenyang tak boleh hanya perut
Tapi hati kita juga.
Anak-anak menaruh bahagia dan sedih pada peluk, pada peluk
Karena ia lugu,
Peluk:
seperti lapar yang mengenyangkan
rumah yang menenangkan
Esok hari anak-anak menunggu bapak datang, menjemput
mengajak pulang,
Sambil berharap
bapak tanya:
“Besok mau Bapak datang lagi?”
Ulian sepagi ini bunga-bunga ladang mekar
senyum
Bapak di pintu rumah
Adakah yang hendak ia tawar kepada ibu
yang sibuk menata harap ke arah sujud?
Jangan terburu gugup, lalu takut, Pak
Ada sebagian perjalanan hidup
akhir lahirkan awal
Rasa lapang,
Terbuka bagi segala harap
Bagi segala cemas yang datang atau
berpulang.
Sampai laut,
anak-anak menawar
selembar harap kain tenun
ulatan gelang tangan,
“Untuk bekal,” serunya
Angin mengulum pintanya,
melebar buntalan ucap ke tengah-tengah laut
Lalu matahari berulang datang dan pulang ke arah yang pasti,
Ke tempat misteri
Anak-anak hari,
Jadi harap
setiap nanti
Jadi kelak
penuh mimpi
KLIK untuk BACA puisi-puisi lain
“Ngiring je sareng-sareng dados Balian,” kata teman saya minggu lalu, saat ngopi di bawah rindang pohon bambu, siang di belakang rumahnya. Mimih, ucap saya spontan. “Kenapa harus...
TAHUN 1920-an sampai tahun 1950-an bisa dikatakan masa gemilang intelektualitas Buleleng, Bali Utara. Pada masa tersebut intelektual Buleleng bermunculan dan menerbitkan berbagai j...
MENJADI berbeda bukanlah suatu kesalahan karena itu merupakan anugrah dari Tuhan. Manusia diciptakan berbeda-beda oleh Yang Kuasa. Ketika seorang anak berbeda dari orang di sekitar...
Cerpen: Yusna Safitri BINTANG, pantai, dan kamu: tiga hal kesukaanku. Kencangnya angin malam tak membuatku malas untuk beranjak dari tempat tidurku. “22.30 WITA” “Pantai yuk,” aja...
Judul: Montase (Kumpulan Puisi) # Penulis: Wayan Jengki Sunarta # Penerbit: Pustaka Ekspresi # Tahun: 2016 # ISBN: 978-602-7610-73-6 PUISI bisa jadi apapun, apapun bisa jadi puisi....
DI KAMAR BLUES MASIH MENGALUN Dulu kita tak pernah percaya cinta "Cinta taik kucing!" katamu sambil mengacungkan botol bir ke langit memaki dia yang telah pergi Kini pun kita ta...
SEJUJURNYA, saya tidak tiba-tiba pandai menulis. Dari jalur genetik, tidak satu pun di antara kedua orang tua memiliki profesi penulis. Ayah seorang guru olah raga yang menjadi per...
BERKARYA hingga akhir hayat. Hal itulah yang dilakukan perupa Tedja Suminar. Perupa yang banyak memberikan pengaruh bagi ranah seni rupa di Bali dan Jawa Timur itu, tetap berkarya...
MARILAH kita tonton proses Pilkada sebagai sebuah seni pertunjukan drama. Kita mulai dari prosesi pendaftaran pasangan calon kepala daerah ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) 21-23 Sept...
Apakah aksara bisa dipentaskan? Naskah teater untuk generasi masakini berhadapan langsung dengan aplikasi bahasa digital maupun teknologi media. Ini memiliki kemungkinan efek balik...