APA YANG akan kawan-kawan lakukan, ketika mempunyai deadline tugas atau pekerjaan, yang bisa dikatakan, waktunya masih lama atau tidak mepet? Mungkin, sebagian orang akan mengerjakannya dengan sistem dicicil sedari awal.
Tapi, tak jarang pula ada beberapa orang yang mengerjakannya dengan sistem kebut semalam. Dan tentu, hal itu dilakukan dengan alasan yang beragam.
Hal ini kerap kita lihat dan temui di lingkungan kampus. Ketika dosen pengampu mata kuliah memberikan tugas kepada mahasiswanya dengan deadline yang masih bisa dikerjakan seminggu bahkan dua minggu sebelumnya, misalnya, alih-alih mengerjakannya segera, para mahasiswa justru lebih sering mengerjakannya sehari sebelum deadline tugas tersebut dikumpulkan.
Lantas, julukan apa yang cocok untuk mahasiswa yang seperti itu?
“Deadliner”. Mungkin kata itu cocok bagi mahasiswa yang memiliki kebiasaan mengerjakan tugas ketika tenggat penyelesaiannya sudah sangat dekat. Menunda-nunda waktu untuk mengerjakannya merupakan hal yang sudah biasa.
Mahasiswa deadliner itu juga sering disebut “Generasi Santuy”.
Ya, sudah tidak asing lagi terdengar di telinga kita tentang generasi santuy. Istilah “santuy” yang sering digunakan oleh kaum milenial itu merupakan plesetan dari kata “santai”. Generasi santuy memang cenderung diasosiasikan kepada orang-orang yang sering merasa mageran dan suka menunda-nunda pekerjaan.
Jadi, memang benar, jika mahasiswa yang sering menunda pekerjaan atau tugas dan mengerjakannya sehari sebelum tenggat waktu yang diberikan, masuk dalam golongan Generasi Santuy.
***
Kata santuy, jika disearching di KBBI, sampai mati pun tidak akan kita jumpai. Namun, kata ini sangat populer di kalangan anak muda.
Dan dalam kaitannya dengan pekerjaan atau tugas, generasi santuy memiliki prinsipnya sendiri: “Jika bisa besok, kenapa harus sekarang?” Kalimat ini sering saya dengar di tengah percakapan bersama teman-teman di kampus.
Jika mahasiswa produktif memiliki kegiatan terstruktur (terjadwal dengan baik), menghabiskan waktunya dengan hal-hal positif, dan mengerjakan tugas lebih awal, maka sebaliknya, mahasiswa yang tergolong dalam generasi santuy akan menerapkan sistem kebut semalam dengan menunggu hingga H-1 deadline tugas dikumpulkan.
Dulu, ketika masih duduk di bangku sekolah menengah kejuruan, saya memiliki seorang teman dekat yang juga kebetulan sering menerapkan sistem santai dalam hidupnya.
Ya, begitulah, ketika guru kami memberikan tugas, ia mengerjakannya ketika mendekati deadline tugas itu dikumpulkan. Bahkan, lebih parahnya, pernah suatu hari ia mengerjakan tugas setengah jam sebelum tugas itu dikumpul.
Dan begini ceritanya:
Saat itu, di pagi hari sebelum mata pelajaran matematika dimulai, saya baru saja memasuki ruangan kelas yang jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat parkir sekolah. Alih-alih menemukan suasana kelas yang tenang, malah sebaliknya, kelas itu ributnya minta ampun.
Suara riuh itu datang dari teman-teman---termasuk teman dekat saya---yang mengerjakan tugas dengan deadline yang mepet. Layaknya orang yang sedang berjualan dan menjajakan barangnya di pasar, mereka begitu ribut, ramai, dan heboh.
Tak terkecuali teman saya. Ia mulai menanyakan jawaban-jawaban dari tugas yang di berikan guru kami hingga meminta hasil pekerjaan rumah yang telah saya buat dua hari sebelumnya---dan itu tentu sangat menyebalkan.
Tapi, karena saat itu pikiran saya masih stuck pada rasa solidaritas pertemanan yang tinggi. Sehingga, bagaimana lagi, toh juga teman dekat. Akhirnya, dengan rasa persahabatan, saya sharing jawaban-jawaban dari tugas itu.
Namun, kadang, kalau sudah seperti itu, karena merasa tidak nyaman dengan suasana kelas yang riuh dan ramai, biasanya saya membuat alasan untuk pergi ke kantin agar bisa menghindari kebisingan. Huh, damai sekali rasanya ketika saya bisa keluar dari ruangan yang penuh dengan hiruk-pikuk “orang-orang aneh” itu.
Sialnya, hal seperti itu terjadi berulang kali. Setiap paginya, di hari efektif sejam atau setengah jam sebelum mata pelajaran dimulai, ada saja teman-teman yang baru mengerjakan tugas rumahnya. Dengan alasan malas, mageran, sibuk main smartphone dan kalimat klise lainnya yang sering saya dengar, sering mereka lontarkan.
***
Awal tahun 2020, ketika untuk pertama kalinya saya menginjakkan kaki di kampus, saya membayangkan banyak mahasiswa berprestasi dan mungkin akan bertemu---dan bisa dekat---dengan teman-teman baru yang tidak menganut sistem kebut semalam.
Tetapi, seperti yang dikatakan banyak orang, ekspektasi tidak selamanya selaras dengan realita yang terjadi. Benar saja, alih-alih bertemu dengan mereka yang rajin mengerjakan tugas lebih awal, justru saya kembali---dan banyak---bertemu dengan mereka yang mengulur-ulur waktu atau yang mempunyai sistem last minute dalam mengerjakan tugas-tugasnya.
Tentu, hal ini akan berakibat buruk bagi diri sendiri. Khususnya bagi para mahasiswa. Bagaimana tidak, waktu yang seharusnya dimanfaatkan untuk lebih banyak mencari sesuatu yang bermanfaat dan mulai menambah pengalaman, malah digunakan untuk bermalas-malasan atau sekadar scrolling sosial media.
Pada akhirnya, ketika deadline tugas sudah menunggu, mereka akan mulai begadang untuk mengerjakannya, dari malam hingga pagi hari. Dan perlu diketahui, begadang itu tak baik bagi kesehatan tubuh. Begadang dapat berpengaruh pada kesehatan mental dan stress yang dipicu oleh pola tidur yang tidak baik.
Hal ini tentu bukan hanya sekadar pernyataan yang digunakan untuk mengintimidasi orang-orang, akan tetapi sudah dibuktikan melalui penelitian. Cary dan Pei melakukannya dalam “Sleep practies of University students living in residence” pada tahun 2017.
Kebiasaan begadang mengerjakan tugas ini, jika diteruskan, lama-kelamaan juga akan menjadi sebuah kebiasaan yang buruk---karena mempengaruhi waktu tidur yang seharusnya 8 jam dalam sehari bisa kurang dari itu.
Selain berakibat tugas tidak selesai dengan hasil yang kurang bagus, juga tentu akan timbul masalah kesehatan pada tubuh pula.
Jadi, bagaimana teman-teman. Apakah membiasakan diri menjadi santai dalam mengerjakan tugas itu masih pantas kita pertahankan?[T]
Penulis adalah mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja. Sedang menjalani Praktek Kerja Lapangan (PKL) di tatkala.co.
DERU puluhan sepeda motor bergema dari arah utara Kota Singaraja pada Senin, 29 Juni 2026. Satu per satu kendaraan itu bergerak perlahan melintasi Jalan Ngurah Rai menuju Gedung D...
Bali Kembali Diserang, Kali Ini Tanpa Ledakan
TANGGAL 12 Oktober 2002 menjadi salah satu hari paling kelam dalam sejarah Bali. Ledakan bom merenggut ratusan nyawa dan menggunca...
NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan usaha, hingga berbagai tr...
PEMBACA tak perlu mengukur jarak antara Plaju dan Hawkins, apalagi harus repot-repot mencari tahu apa yang hendak dihidangkan di sana, sebab keniscayaan yang akan pembaca dapati....
HAMPIR saja tim nasional sepak bola Republik Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026 yang dihelat di tiga negara, Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Iya, hampir saja. Itu berarti b...
Ketika anak-anak itu bermain riang, ruang Gedung Mario berubah menjadi area interaktif, sangat dinamis dan terkesan lebih hidup. Langit-langit tinggi dan tiang-tiang bangunan ikut...
KEMBALINYA seni Arja di Banjar Bukit Buwung, Kesiman, tidak dapat dipahami semata sebagai upaya revitalisasi kesenian tradisional, melainkan sebagai proses pemulihan roh kebudayaa...
IRONI terbesar abad ke-21 mungkin bukan ketika mesin mulai mampu berbicara. Ironinya justru ketika mesin mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang telah lama berhenti diajukan m...
PADA tahun 1999 sampai 2005 saya sempat membantu Bre Redana, mengkurasi karya-karya seni rupa yang berdialog dengan cerpen. Waktu itu, Bre Redaktur Kompas Minggu.
Bagi saya, it...