Gabriela
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
APA YANG akan kawan-kawan lakukan, ketika mempunyai deadline tugas atau pekerjaan, yang bisa dikatakan, waktunya masih lama atau tidak mepet? Mungkin, sebagian orang akan mengerjakannya dengan sistem dicicil sedari awal.
Tapi, tak jarang pula ada beberapa orang yang mengerjakannya dengan sistem kebut semalam. Dan tentu, hal itu dilakukan dengan alasan yang beragam.
Hal ini kerap kita lihat dan temui di lingkungan kampus. Ketika dosen pengampu mata kuliah memberikan tugas kepada mahasiswanya dengan deadline yang masih bisa dikerjakan seminggu bahkan dua minggu sebelumnya, misalnya, alih-alih mengerjakannya segera, para mahasiswa justru lebih sering mengerjakannya sehari sebelum deadline tugas tersebut dikumpulkan.
Lantas, julukan apa yang cocok untuk mahasiswa yang seperti itu?
“Deadliner”. Mungkin kata itu cocok bagi mahasiswa yang memiliki kebiasaan mengerjakan tugas ketika tenggat penyelesaiannya sudah sangat dekat. Menunda-nunda waktu untuk mengerjakannya merupakan hal yang sudah biasa.
Mahasiswa deadliner itu juga sering disebut “Generasi Santuy”.
Ya, sudah tidak asing lagi terdengar di telinga kita tentang generasi santuy. Istilah “santuy” yang sering digunakan oleh kaum milenial itu merupakan plesetan dari kata “santai”. Generasi santuy memang cenderung diasosiasikan kepada orang-orang yang sering merasa mageran dan suka menunda-nunda pekerjaan.
Jadi, memang benar, jika mahasiswa yang sering menunda pekerjaan atau tugas dan mengerjakannya sehari sebelum tenggat waktu yang diberikan, masuk dalam golongan Generasi Santuy.
***
Kata santuy, jika disearching di KBBI, sampai mati pun tidak akan kita jumpai. Namun, kata ini sangat populer di kalangan anak muda.
Dan dalam kaitannya dengan pekerjaan atau tugas, generasi santuy memiliki prinsipnya sendiri: “Jika bisa besok, kenapa harus sekarang?” Kalimat ini sering saya dengar di tengah percakapan bersama teman-teman di kampus.
Jika mahasiswa produktif memiliki kegiatan terstruktur (terjadwal dengan baik), menghabiskan waktunya dengan hal-hal positif, dan mengerjakan tugas lebih awal, maka sebaliknya, mahasiswa yang tergolong dalam generasi santuy akan menerapkan sistem kebut semalam dengan menunggu hingga H-1 deadline tugas dikumpulkan.
Dulu, ketika masih duduk di bangku sekolah menengah kejuruan, saya memiliki seorang teman dekat yang juga kebetulan sering menerapkan sistem santai dalam hidupnya.
Ya, begitulah, ketika guru kami memberikan tugas, ia mengerjakannya ketika mendekati deadline tugas itu dikumpulkan. Bahkan, lebih parahnya, pernah suatu hari ia mengerjakan tugas setengah jam sebelum tugas itu dikumpul.
Dan begini ceritanya:
Saat itu, di pagi hari sebelum mata pelajaran matematika dimulai, saya baru saja memasuki ruangan kelas yang jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat parkir sekolah. Alih-alih menemukan suasana kelas yang tenang, malah sebaliknya, kelas itu ributnya minta ampun.
Suara riuh itu datang dari teman-teman---termasuk teman dekat saya---yang mengerjakan tugas dengan deadline yang mepet. Layaknya orang yang sedang berjualan dan menjajakan barangnya di pasar, mereka begitu ribut, ramai, dan heboh.
Tak terkecuali teman saya. Ia mulai menanyakan jawaban-jawaban dari tugas yang di berikan guru kami hingga meminta hasil pekerjaan rumah yang telah saya buat dua hari sebelumnya---dan itu tentu sangat menyebalkan.
Tapi, karena saat itu pikiran saya masih stuck pada rasa solidaritas pertemanan yang tinggi. Sehingga, bagaimana lagi, toh juga teman dekat. Akhirnya, dengan rasa persahabatan, saya sharing jawaban-jawaban dari tugas itu.
Namun, kadang, kalau sudah seperti itu, karena merasa tidak nyaman dengan suasana kelas yang riuh dan ramai, biasanya saya membuat alasan untuk pergi ke kantin agar bisa menghindari kebisingan. Huh, damai sekali rasanya ketika saya bisa keluar dari ruangan yang penuh dengan hiruk-pikuk “orang-orang aneh” itu.
Sialnya, hal seperti itu terjadi berulang kali. Setiap paginya, di hari efektif sejam atau setengah jam sebelum mata pelajaran dimulai, ada saja teman-teman yang baru mengerjakan tugas rumahnya. Dengan alasan malas, mageran, sibuk main smartphone dan kalimat klise lainnya yang sering saya dengar, sering mereka lontarkan.
***
Awal tahun 2020, ketika untuk pertama kalinya saya menginjakkan kaki di kampus, saya membayangkan banyak mahasiswa berprestasi dan mungkin akan bertemu---dan bisa dekat---dengan teman-teman baru yang tidak menganut sistem kebut semalam.
Tetapi, seperti yang dikatakan banyak orang, ekspektasi tidak selamanya selaras dengan realita yang terjadi. Benar saja, alih-alih bertemu dengan mereka yang rajin mengerjakan tugas lebih awal, justru saya kembali---dan banyak---bertemu dengan mereka yang mengulur-ulur waktu atau yang mempunyai sistem last minute dalam mengerjakan tugas-tugasnya.
Tentu, hal ini akan berakibat buruk bagi diri sendiri. Khususnya bagi para mahasiswa. Bagaimana tidak, waktu yang seharusnya dimanfaatkan untuk lebih banyak mencari sesuatu yang bermanfaat dan mulai menambah pengalaman, malah digunakan untuk bermalas-malasan atau sekadar scrolling sosial media.
Pada akhirnya, ketika deadline tugas sudah menunggu, mereka akan mulai begadang untuk mengerjakannya, dari malam hingga pagi hari. Dan perlu diketahui, begadang itu tak baik bagi kesehatan tubuh. Begadang dapat berpengaruh pada kesehatan mental dan stress yang dipicu oleh pola tidur yang tidak baik.
Hal ini tentu bukan hanya sekadar pernyataan yang digunakan untuk mengintimidasi orang-orang, akan tetapi sudah dibuktikan melalui penelitian. Cary dan Pei melakukannya dalam “Sleep practies of University students living in residence” pada tahun 2017.
Kebiasaan begadang mengerjakan tugas ini, jika diteruskan, lama-kelamaan juga akan menjadi sebuah kebiasaan yang buruk---karena mempengaruhi waktu tidur yang seharusnya 8 jam dalam sehari bisa kurang dari itu.
Selain berakibat tugas tidak selesai dengan hasil yang kurang bagus, juga tentu akan timbul masalah kesehatan pada tubuh pula.
Jadi, bagaimana teman-teman. Apakah membiasakan diri menjadi santai dalam mengerjakan tugas itu masih pantas kita pertahankan?[T]
Penulis adalah mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja. Sedang menjalani Praktek Kerja Lapangan (PKL) di tatkala.co.
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
TIGA RAMU MENGKUDU Daun; Petiklah aku Tiga kepik muda Ramu padu dengan segenggam garam Dan tiga biji beras genggam Hingga padu resep moyang Hingga...
BAGAIMANA harus melukiskannya, sebagian besar anak kos (mahasiswa) memang dikenal selalu mumet dengan hiruk pikuk perekonomian. Dari media sosial, hingga sosial media, tahu perekon...
Bayangkan sebuah hutan hujan tropis dengan vegetasi yang hanya terdiri dari satu jenis pohon, atau sebuah partitur musik yang notasinya hanya tersusun dari nada ‘do’. Menjemukan se...
Saya salah satu penikmat tari. Saya lahir dari darah seorang ibu, yang dikala mudanya pernah menjadi Penari Zapin Melayu, di salah satu sanggar yang boleh dikata cukup tua di Ponti...
BEBERAPA bulan lagi, tahun akan segera berpindah. Bali punya acara spesial di tahun 2017 & 2018. Suksesi pemegang otoritas pemerintahan provinsi dan beberapa kabupaten di Bali...
MENJADI kota niscaya menjadi modern. Premis ini berlaku pada cara pandang yang menempatkan dua kutub berbeda antara kota dan desa. Desa diasumsikan berbau tradisional, kota identik...
PARA penggiat sastra dan teater di Bangkalan, Madura, Jawa Timur, bersorak ketika dua penulis dari kota itu, Joko Sucipto (puisi) dan Arung Wardana (drama), lolos untuk tampil dala...
Cerpen: Satia Guna Sebutlah aku wanita, mahluk yang menikmati penderitaan dengan berbagai macam rasa sakit. Sebutlah aku tanah, yang selalu diinjak tanpa menerima r...
KABAR DARI ZWOLLE Kenalkan aku pada wangi musim gugur Di tengah pesta roti dan remah-remahnya Yang terbang mengitari sungai Lalu singgah di beranda penuh cerita &n...