Buleleng Terkaya di Bali, Sesungguhnyalah Tak Perlu Investor
DI Bali hanya dua kabupaten yang memiliki danau sekaligus laut: Buleleng dan Tabanan. Bangli punya danau besar tapi tak punya laut. Semua kabupaten lain punya laut, tapi lacur tak...
ADA BANYAK BURUNG di hutan desa. Beberapa burung bersiap untuk menonton upacara Perang Pandan yang digelar setahun sekali di Desa Tenganan Pengringsingan.
"Heiii, Kenari ingat mandi ya, biar baumu harum," goda burung Cucak Rawa.
Burung-burung yang lain tertawa mendengar gurauan Cucak Rawa. Burung-burung itu tahu, kalau Burung Cucak Rawa memang begitu, dia tak akan puas kalau tidak dapat ngoceh dan bicara, makanya burung yang lain tak pernah menanggapinya terlalu serius.
Burung-burung yang lain juga merasa berterima kasih pada Cucak Rawa, karena kebiasaannya ngoceh dan bertanya ini itu, membuat keluarga burung banyak tahu tentang alam sekitar, termasuk tentang upacara Perang Pandan dan maknanya.
"Cit cit cit..., saya penasaran melihat para pemuda desa saling memukulkan pandan ke punggung lawannya. Hihihi, perih, " kata Burung Gelatik sambil bergidik membayangkannnya.
"Hihhh perihh, hihhh perihhh, " ceroteh Burung Beo menirukan Gekatik.
Burung-burung yang lain geli melihat kelakuan teman-temannya.
"Kurkurkurr kutukurrr, saya pernah melihatnya, saya tak tega, ada banyak darah dan luka, tiga hari sampai seminggu baru sembuh. Aneh sekali orang-orang itu, yang kena dan sakit malah disoraki, disemangati," kata Burung Tekukur.
" Iya, kenapa dipukul dengan gulungan daun pandan berduri, kan tajam, pasti perihlah, kenapa tidak pakai daun kelapa saja, daun kelor atau daun gamal saja," Burung Dara ikut-ikutan berkomentar.
Burung Cucak Rawa yang biasa ribut dan mengabarkan teman-temannya akan adanya upacara Perang Pandan itu diam, ikut memikirkan apa yang dikatakan burung yang lain. Selama ini Burung Cucak Rawa hanya ikut-ikutan saja, menonton dan ikut bersorak-sorak, Ia tak pernah berpikir seperti yang dikatakan Burung Perkutut dan Burung Dara. Kadang-kadang Cucak Rawa juga ikut merasa perih saat ada pemain yang terkena duri pandan, tapi rasa itu akan hilang ditelan sorak sorai suara penonton.
Lama juga burung-burung itu terdiam dengan pikiran masing-masing, bertanya-tanya kenapa harus ada upacara Perang Pandan dan kenapa harus memakai duri. Burung Cendrawasih yang jarang bergaul dengan burung-burung lain, turun mendekati teman-temannya.
"Saya tahu yang kalian pikirkan. Baiklah akan saya beritahu pengetahuan yang diceritakan seorang Rsi Agung kepada kalian, " kata Burung Cendrawasih.
Burung-burung yang lain terkesima melihat bulu Cendrawasih yang Indah juga suaranya yang tenang dan lembut.
"Upacara Perang Pandan digelar karena dulu desa itu terkena wabah, ada orang yang kerauhan yang memberitahu agar menggelar upacara Perang Pandan agar terhindar dari wabah penyakit," jelas Cendrawasih.
"Kalau tentang itu saya pernah dengar, tetapi kenapa harus dengan pandan berduri," itu yang kami tidak dapat tahu," kata Cucak Rawa memotong cerita Cendrawasih.
Cendrawasih tersenyum melihat ketidaksabaran Cucak Rawa.
"Sabar... ketidaksabaran adalah ciri mahluk hidup yang belum mampu mengendalikan pikirannya. Pikiran itu tajam, banyak, panas, tak terlihat dan bebas, sama seperti duri-duri pandan. Jika kita tak hati-hati menggunakan pikiran, duri-durinya akan melukai orang lain dan diri sendiri," lanjut Cendrawasih lagi. Cucak Rawa diam menunduk, ia merasa sedang diingatkan.
"Keahlian menggunakan pikiran yang merupakan energi panas membuat manusia bisa menciptakan teknologi yang terlihat maupun tak terlihat. Pikiran adalah energi api, bisa membakar, melebur dan mengubah bentuk-bentuk energi yang bisa dikirim melalui zat padat, zat cair, api, gas maupun ruang kosong. Energi panas bisa ditangkap dan dinetralisir oleh duri pandan yang tajam dan banyak, yang material padat dan berair. Pemakaian pandan berduri pada Perang Pandan adalah untuk mengingatkan kita agar berhati-hati menggunakan pikiran, juga mengajarkan kita tentang manfaat pandan berduri untuk menetralisir energi panas yang tercipta dari kecerdasan pikiran, "jelas Burung Cendrawasih.
Burung-burung yang lain hanya melongo, hanya Burung Tekukur dan Burung Dara yang manggut-manggut tanda mengerti. Burung Cucak Rawa malah menguap beberapa kali, membuat geli burung-burung lain.
Sebelum Cendrawasih terbang meninggalkan burung-burung lainnya. Burung Tekukur mengucapkan terima kasih dan memuji pengetahuan Burung Cendrawasih.
"Terima kasih atas pengetahuan yang kamu berikan Burung Cendrawasih yang indah dan suci, salam hormat kami pada Rsi Agung, pengabdianmu menemani orang suci itu memberimu pengetahuan suci dan membuatmu jadi burung suci, hormat kami untukmu, janganlah pernah lelah untuk berbagi pengetahuan, " kata Burung Tekukur sambil melambaikan sayapnya, diikuti oleh burung-burung lain. [T]
KLIK untuk BACA dongeng menarik lainnya
DI Bali hanya dua kabupaten yang memiliki danau sekaligus laut: Buleleng dan Tabanan. Bangli punya danau besar tapi tak punya laut. Semua kabupaten lain punya laut, tapi lacur tak...
INI adalah komentar seorang teman pebisnis sukses, orang Bali yang tinggal di Amerika “Orang Bali harusnya ajarkan anak-anaknya berbisnis bukan hanya sembahyang”. Dan comment yang...
WABAH Pokémon Go sepertinya sudah masuk ke ceruk kehidupan orang Bali. Di Pulau Seribu Pura ini, tentu bukan hal aneh jika sarang Pokémon banyak terdapat di Pura. Di Pura besar ata...
Cerpen: Ni Kadek Desi Nurani Sari Purnama pasah, tiga anak bajang berjalan melenggang ke arah barat tempat di mana, rusuk seorang ibu tersesat jalan pulang. Mereka kembara, membawa...
BUNGA KECOMBRANG (1 ) Pada kelopak mudaku kau temukan rasa yang enggan pergi dari tiap ujung papila Kau terbakar rasa larut dalam liur kuntum kuntumku membuat...
SALAH satu cara mengatasi kerumitan pilihan hidup dalam dunia, --- yang mana orang-orangnya kian jauh dari kesempatan untuk berbeda adalah mengikuti ke mana arah pemikiran pergi,...
"Itulah pekerjaan, saya profesional, keluarga tahu saya bekerja sebagai penari joged, tidak jual diri," KERUMUNAN tampak dari kejauhan. Iringan suara gamelan rindik berpadu dengan...
HARI sekolah tiba. Orang tua harap-harap cemas. Apakah si anak bisa berprestasi di sekolah. Jika iya tentunya membanggakan. Namun, hilangkan harapan itu. Baiknya, jangan paksa anak...
Judul: Magening # Pengarang: Wayan Jengki Sunarta # Penerbit: Kakilangit Kencana # Tahun: April 2015 # Tebal: vi, 164 halaman # ISBN: 978-602-8556-53-8 899.221 3 NOVEL Magening...
PADA suatu masa, tak terlalu lama, di negeri ini pernah ada penggemar cicak dan ada penggemar buaya, ada juga yang suka melihat ribut-ribut antara keduanya. Tapi saya sendiri lebih...