Razia Warung? Ah, Saya Selalu Sukses Puasa Dikurung Warung
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
PERNAH MENDENGAR kata healing? Tentunya istilah ini tidak asing lagi di kalangan Gen Z. Dewasa ini istilah Healing menjadi semakin populer di kalangan para wisatawan dengan jargonnya 'Healing Yuk'.

Healing yang dalam bahasa Indonesia artinya penyembuhan. Tentunya ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk 'penyembuhan'. Namun, pada umumnya banyak bestie yang melalukan traveling untuk penyembuhan---yang dalam hal ini kita artikan sebagai refreshing atau upaya penyegaran pikiran.
Menyegarkan pikiran dari hiruk-pikuk aktivitas dan beban pekerjaan sehari-hari. Ya, tentunya untuk mencari sebuah ketenangan bukan? Namun, tidak sedikit pula orang-orang yang memiliki waktu terbatas untuk berpergian menggunakan alternatif lain sebagai sebuah solusi.
Salah satunya ialah dengan menggunakan media musik (sound) sebagai alternatif penyembuhan atau untuk sekedar me-refesh diri kepenatan yaitu dengan cara mendengarkan musik untuk mendapatkan ketenangan pikiran.
Lalu, apa hubungannya dengan Selonding?

Secara etimologi, asal usul kosa kata “Selonding” itu bermula dari kata “Salunding”. Kata tersebut termuat di setiap prasasti atau manuskrip terkait yang ditemukan pada periode abad ke IX.
C.F.Zoetmulder & S.O. Robson dalam bukunya Kamus Jawa Kuna Indonesia terjemahan Darusuprapta, kosa kata Salunding sama dengan kunci musik yang tergantung seperti gender (wilahan). Atau disebut juga sebuah alat yang ditabuh , sederet lempengan-lempengan besi digantung di atas sebuah kotak kayu.
Meier, seorang etnomusikolog dari Swiss, menafsirkan kata Selonding itu dengan Salon-Ning yang berarti tempat suci.
Sedangkan Tim peneliti guru-guru Kokar yang sempat mengadakan penelitian Selonding di Tenganan tahun 1971 menemukan bahwa kata Selonding dengan uraian: Salon=saron, sedangkan Ding sebagai nada (Tonika).
Dan Pande Tusan (nama welaka) berpendapat bahwa istilah Selonding timbul dari gejala alitrasi atau onomatope (peniruan pemberian nama lokal yang timbul dari gejala peniruan bunyi dari benda bersangkutan).
Di mana bunyi yang khas dan dominan pada instrumen ini menurut pendengaran orang Bali berbunyi Dlung-ding dlung-ding dari aspek cara pukulannya yang menggunakan dua panggul.
***

Penulis mencoba melakukan kajian lebih komprehensif untuk membedah etimologi “Selonding” tersebut melalui pendekatan perspektif Sastra, Musikologi dan Psikologi.
Istilah Selonding berawal dari kata “Salunding” yang disebutkan pada berbagai prasasti terkait.
Kosa kata “Salunding” berasal dari kata Salu dan Nding, di mana kata Salu artinya Ruang atau Dimensi, kata Nding diartikan sebagai tonika dari bunyi nada Ding yang disimbolkan dengan aksara Ulu. Di mana Ulu tersebut artinya dalam bahasa Bali yaitu dulu: bagian atas atau kepala (motorik).
Secara etimologi, tonasi Nding tersebut berasal dari kata Ening/Ning yang dalam Bahasa Bali artinya kejernihan, ketenangan pikiran. Etimologi Nding tersebut selaras dengan perspektif sastra mengenai aksara suara Ulu. Jadi, nada Ding dengan aksara Ulu merupakan simbol dari kejernihan atau keheningan pikiran. Hening yang dalam bahasa Bali disebut Ening/Ning.
Sedangkan secara Psikologis, dari survei beberapa audiens yang mendengarkan suara Selonding mengatakan bahwa ketika setiap mendengarkan lantunan Selonding mereka merasakan ketenangan pikiran.
(Sebilang ningehang munyin Selonding jeg tis, sejuk, tenang, ning rasa pikirane), kurang lebih seperti itu ungkapan meraka. Berdasarkan hal tersebut bisa dikatakan bahwa vibes dari bunyi Selonding mampu menstimulasi ketenangan pikiran.

Jadi, mengapa gamelan ini disebut sebagai Selonding, karena secara musikal vibes atau gelombang bunyi dari lantunan suara Selonding tersebut mampu membangun ruang atau dimensi (salu) bunyi yang menstimulasi keheningan dan ketenangan pikiran (nding).
Tentu para tetua terdahulu menyelipkan makna dalam sebuah metafor yang estetik yang diperlukan sebuah usaha mendalam dan kejelian untuk memahaminya. Sehinga ini bisa menjadi jawaban terdekat mengapa gamelan ini bernama Selonding.
Dengan begitu, bisa jadi Selonding memiliki makna The Sound of Healing. Sebuah doa meditasi melalui keyakinan bunyi.
Selonding (vibrasi bunyinya) mampu menghantarkan pendengarnya seakan berada pada dimensi murni yang hening, khusuk sehingga mampu menstimulasi ketenangan dan kesejukan yang dapat menjernihkan pikiran.
Nah, ketengan dan kesejukan pikiran itu yang kita cari dalam konsep healing ‘kan?
Sungguh luar biasa para pendahulu kita, menempa nilai-nilai kearifan melalui cipta, rasa, dan karsanya dibungkus dengan metafor estetik yang diwujudkan dalam 'Selonding' ini. Sebuah tempaan spiritual dari local wisdom yang beruntung masih bisa kita warisi hingga masa kini.
Tetapi, barangkali ini menjadi jawaban terdekat mengapa gamelan ini dinamai Selonding. Ya, 'mungkin' para tetua pendahulu kita menitipkan sebuah harapan dengan adanya gamelan ini diharapkan mampu menjadi solusi alternatif untuk membangun ketenangan rohani dalam meditasi bunyi.
Terakhir, apa iya para Bestie merasakan ketenangan atau kesejukan pikiran saat mendengar lantunan Selonding? Kalau iya Berarti…?
Oke, salam dari Bongkol Gunung Agung, Pegunungan Bali (Bali Aga). Rahayu.[T]
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
JUDUL tulisan ini merupakan tema diskusi Kupang Pesta Monolog yang coba menggali daya vital teater dan perannya dalam kehidupan konkret (aktual). Bahwa teater sebagai seni...
DI Bali, lumrah bila di tempat atau kawasan yang disucikan, jika melihat sesuatu, umpamanya benda, hewan atau binatang (langka), orang sering menyebutnya “Due”. (“Due” dibaca seper...
“KINI banyak pengarang muda yang bagus. Banyak sekali,” kata Seno Gumira Ajidarma saat ngobrol singkat pada suatu pagi dengan tatkala.co di Honeymoon Guest House, Ubud, 6 Juni lalu...
SEBUAH analog yang saya anggap pas untuk menggambarkan budaya korupsi di Indonesia adalah tradisi buang sampah sembarangan. Meski lingkungan jadi kotor, menghilangkan rasa nyaman,...
HALO sahabat mahasiswa super di manapun kalian berada, selamat beraktivitas. Semoga semua hidup berbahagia dan dalam lindungan dosen yang maha buasnya. Sangat super sekali kita mas...
Buta paling buruk adalah buta politik. Dia yang buta politik adalah dia yang tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahw...
DUNIA pendidikan, modal utama dalam perkembangan peradaban manusia. Inovasi-inovasi dalam ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir terlahir di dalamnya. Sejarah perubahan besar-bes...
PAWAI pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-38 dibuka Presiden Joko Widodo alias Jokowi, di depan Monumen Bajra Sandi, Denpasar, Sabtu (11/6). Dan betapa senang mendengar Presiden...
Menikah itu sulit, tapi bercerai ternyata jauh lebih sulit. Saat mau menikah, yang penting hanya sedikit kemantapan hati, komitmen untuk sama susah sama senang, izin orang tua, sed...