Genjek Kolosal, Politik Warna, dan Kebiasaan Buruk Politikus
RIBUAN sekaa genjek dari pelbagai penjuru di tanah Karangasem, Bali, tumpah ruah di Taman Ujung, Karangasem, Rabu (10/8/2016) siang. Ada yang datang menggunakan truk, mobil pik-up,...
PERNAH MENDENGAR kata healing? Tentunya istilah ini tidak asing lagi di kalangan Gen Z. Dewasa ini istilah Healing menjadi semakin populer di kalangan para wisatawan dengan jargonnya 'Healing Yuk'.

Healing yang dalam bahasa Indonesia artinya penyembuhan. Tentunya ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk 'penyembuhan'. Namun, pada umumnya banyak bestie yang melalukan traveling untuk penyembuhan---yang dalam hal ini kita artikan sebagai refreshing atau upaya penyegaran pikiran.
Menyegarkan pikiran dari hiruk-pikuk aktivitas dan beban pekerjaan sehari-hari. Ya, tentunya untuk mencari sebuah ketenangan bukan? Namun, tidak sedikit pula orang-orang yang memiliki waktu terbatas untuk berpergian menggunakan alternatif lain sebagai sebuah solusi.
Salah satunya ialah dengan menggunakan media musik (sound) sebagai alternatif penyembuhan atau untuk sekedar me-refesh diri kepenatan yaitu dengan cara mendengarkan musik untuk mendapatkan ketenangan pikiran.
Lalu, apa hubungannya dengan Selonding?

Secara etimologi, asal usul kosa kata “Selonding” itu bermula dari kata “Salunding”. Kata tersebut termuat di setiap prasasti atau manuskrip terkait yang ditemukan pada periode abad ke IX.
C.F.Zoetmulder & S.O. Robson dalam bukunya Kamus Jawa Kuna Indonesia terjemahan Darusuprapta, kosa kata Salunding sama dengan kunci musik yang tergantung seperti gender (wilahan). Atau disebut juga sebuah alat yang ditabuh , sederet lempengan-lempengan besi digantung di atas sebuah kotak kayu.
Meier, seorang etnomusikolog dari Swiss, menafsirkan kata Selonding itu dengan Salon-Ning yang berarti tempat suci.
Sedangkan Tim peneliti guru-guru Kokar yang sempat mengadakan penelitian Selonding di Tenganan tahun 1971 menemukan bahwa kata Selonding dengan uraian: Salon=saron, sedangkan Ding sebagai nada (Tonika).
Dan Pande Tusan (nama welaka) berpendapat bahwa istilah Selonding timbul dari gejala alitrasi atau onomatope (peniruan pemberian nama lokal yang timbul dari gejala peniruan bunyi dari benda bersangkutan).
Di mana bunyi yang khas dan dominan pada instrumen ini menurut pendengaran orang Bali berbunyi Dlung-ding dlung-ding dari aspek cara pukulannya yang menggunakan dua panggul.
***

Penulis mencoba melakukan kajian lebih komprehensif untuk membedah etimologi “Selonding” tersebut melalui pendekatan perspektif Sastra, Musikologi dan Psikologi.
Istilah Selonding berawal dari kata “Salunding” yang disebutkan pada berbagai prasasti terkait.
Kosa kata “Salunding” berasal dari kata Salu dan Nding, di mana kata Salu artinya Ruang atau Dimensi, kata Nding diartikan sebagai tonika dari bunyi nada Ding yang disimbolkan dengan aksara Ulu. Di mana Ulu tersebut artinya dalam bahasa Bali yaitu dulu: bagian atas atau kepala (motorik).
Secara etimologi, tonasi Nding tersebut berasal dari kata Ening/Ning yang dalam Bahasa Bali artinya kejernihan, ketenangan pikiran. Etimologi Nding tersebut selaras dengan perspektif sastra mengenai aksara suara Ulu. Jadi, nada Ding dengan aksara Ulu merupakan simbol dari kejernihan atau keheningan pikiran. Hening yang dalam bahasa Bali disebut Ening/Ning.
Sedangkan secara Psikologis, dari survei beberapa audiens yang mendengarkan suara Selonding mengatakan bahwa ketika setiap mendengarkan lantunan Selonding mereka merasakan ketenangan pikiran.
(Sebilang ningehang munyin Selonding jeg tis, sejuk, tenang, ning rasa pikirane), kurang lebih seperti itu ungkapan meraka. Berdasarkan hal tersebut bisa dikatakan bahwa vibes dari bunyi Selonding mampu menstimulasi ketenangan pikiran.

Jadi, mengapa gamelan ini disebut sebagai Selonding, karena secara musikal vibes atau gelombang bunyi dari lantunan suara Selonding tersebut mampu membangun ruang atau dimensi (salu) bunyi yang menstimulasi keheningan dan ketenangan pikiran (nding).
Tentu para tetua terdahulu menyelipkan makna dalam sebuah metafor yang estetik yang diperlukan sebuah usaha mendalam dan kejelian untuk memahaminya. Sehinga ini bisa menjadi jawaban terdekat mengapa gamelan ini bernama Selonding.
Dengan begitu, bisa jadi Selonding memiliki makna The Sound of Healing. Sebuah doa meditasi melalui keyakinan bunyi.
Selonding (vibrasi bunyinya) mampu menghantarkan pendengarnya seakan berada pada dimensi murni yang hening, khusuk sehingga mampu menstimulasi ketenangan dan kesejukan yang dapat menjernihkan pikiran.
Nah, ketengan dan kesejukan pikiran itu yang kita cari dalam konsep healing ‘kan?
Sungguh luar biasa para pendahulu kita, menempa nilai-nilai kearifan melalui cipta, rasa, dan karsanya dibungkus dengan metafor estetik yang diwujudkan dalam 'Selonding' ini. Sebuah tempaan spiritual dari local wisdom yang beruntung masih bisa kita warisi hingga masa kini.
Tetapi, barangkali ini menjadi jawaban terdekat mengapa gamelan ini dinamai Selonding. Ya, 'mungkin' para tetua pendahulu kita menitipkan sebuah harapan dengan adanya gamelan ini diharapkan mampu menjadi solusi alternatif untuk membangun ketenangan rohani dalam meditasi bunyi.
Terakhir, apa iya para Bestie merasakan ketenangan atau kesejukan pikiran saat mendengar lantunan Selonding? Kalau iya Berarti…?
Oke, salam dari Bongkol Gunung Agung, Pegunungan Bali (Bali Aga). Rahayu.[T]
RIBUAN sekaa genjek dari pelbagai penjuru di tanah Karangasem, Bali, tumpah ruah di Taman Ujung, Karangasem, Rabu (10/8/2016) siang. Ada yang datang menggunakan truk, mobil pik-up,...
PEREMPUAN mana sih yang tidak menginginkan tubuh indah dan dipuji banyak orang? Memiliki tubuh indah adalah impian setiap perempuan di dunia. Tapi, bagaimana dengan perempuan yang...
“Mama, please take this badge off of me, I can’t use it anymore.” (Knockin’ on Heaven’s Door - Bob Dylan) JAUH sebelum seniman besar pengusung musik balada itu berbicara murung pe...
KULIAH Kerja Nyata (KKN) seringkali menjadi senjata tajam yang dengan segala keunikannya dapat memisahkan pasangan yang bahkan telah menjalin hubungan selama bertahun-tahun. Karena...
Catatan Harian Sugi Lanus 10 Agustus 2016 . APA Bahasa Bali "Happy Birthday" & "Happy Anniversary"? Jawaban untuk pertanyaan itu adalah "rahajeng dina otonan" dan "rahajen...
BOLEH jadi, setelah membaca tulisan ini saya menjadi cukup terkenal karena mendapat protes dari kelompok pro KKN tanpa cinlok atau cinta lokasi. Bagaimana tidak, pendapat saya just...
SIAPA pun yang bicara jalur shortcut Denpasar-Singaraja selalu tampak bersemangat. Optimis. Seakan-akan setelah jalur shortcut terwujud, masyarakat akan langsung sejahtera. Padaha...
SELEBRITI artinya orang terkenal, termasyur, tersohor. Untuk menjadi terkenal, banyak hal bisa dilakukan. Jika seseorang berbuat aneh-aneh, masuk dalam kategori pemecah rekor, dia...
KULIAH Kerja Nyata (KKN) mahasiswa dulu dan sekarang itu sangat jauh berbeda. Sekitar tahun 1970-an hingga 1980-an KKN benar-benar program yang ditunggu-tunggu masyarakat desa. Mah...
Judul Buku : Badriyah # Pengarang : Ayu Weda # Penerbit : Gambang Buku Budaya # Tahun Terbit : Maret 2016 # Jumlah Halaman : xiv + 207 halaman # ISBN : 978-602-6776-15-0 PEREMPUAN...