Papuk, Cucu dan Puisi
Cerpen: DG Kumarsana Di negeri ini apa saja bisa terjadi/Untuk mendapatkan keadilan kalau perlu membeli/Yang hitam bisa menjadi putih, yang putihpun begitu/Terhadap yang benar saja...
Ndul, kemarin dapat kabar, ada yang meninggal dunia. Kalau kebanyakan orang akan bilang "Turut Berduka Cita", ada makna kedukaan dari kalimat tersebut.
Tapi, keluarga yang ditinggalkan, malah bilang, "Nak, Ayah dan Ibu sayang kamu, tapi Tuhan lebih sayang kamu".
Meskipun mereka sedih, tapi berani mengungkapkan kalimat demikian. Kita sama-sama tahu, Ndul, semua yang ada di dunia ini adalah titipan Tuhan. Kalau udah titipan, ya berarti kapan saja bisa diambil oleh pemiliknya.
Aku masih bingung lhoo,Ndul. Kok bisa ya, orang tuanya kuat bilang begitu. Sebagai manusia dan berperan sebagai orang tua, berat lhoo, Ndul. Berusaha mengambil sisi terbaik dari sebuah ketetapan Tuhan, mencoba menguatkan diri dan keluarga, untuk belajar sabar, tegar, dan mengikhlaskan.
Saat bingung dengan sikapku, aku coba bertanya pada orang pintar, Ndul. "Kalau bayi yang meninggal dunia, bagaimana ya, pak?" tanyaku.
Orang pintar tersebut, menjawab, "bersedihlah secukupnya, bayi yang meninggal belum ada dosa, Tuhan akan menempatkannya di surga". Kata orang pintarnya begitu, Ndul.
Akhirnya aku mengerti, owh pantas saja, orang tuanya merespon 'kehilangan' dengan cara seperti itu, ternyata anaknya sudah dijanjikan surga, Ndul.
Aku belajar banyak, dari kejadian itu. Termasuk menemukan kata yang tepat dalam memaknai kehilangan. Bukan menggunakan "turut berduka cita". Tetapi aku akan menggunakan, "selamat jalan, dan hutang rasa". Kalimat itu, disampaikan oleh Mbah Sudjiwo Tedjo dalam memaknai kehilangan.
Dan benar saja, menurutku, sebenarnya orang yang telah meninggal dunia, tidak benar-benar meninggal, tapi tetap hidup di dalam hati orang-orang yang menantikan kehadirannya pada dimensi yang berbeda.
Kalau kata eyang Sapardi Djoko Damono, manusia abadi, yang fana itu waktu. Begitu Ndul, kira-kira beberapa orang memaknai kehilangan. Kalau dirimu, bagaimana Ndul, memaknai kehilangan? [T]
Cerpen: DG Kumarsana Di negeri ini apa saja bisa terjadi/Untuk mendapatkan keadilan kalau perlu membeli/Yang hitam bisa menjadi putih, yang putihpun begitu/Terhadap yang benar saja...
BERCERITA Aku menemukan ibuku di masa lalu Yang memaksaku menjadi ayah masa lalu Aku teringat cerita ibuku masa SMA saat aku masih di dalam rahim Ibu berkata...
PADA akhir hidup seorang manusia, dunia tidak mengenal orang yang setengah-setengah. Hitam ya hitam, putih ya putih. Pahlawan atau Penjahat. Tidak ada yang mengenal si abu-abu. Bai...
PINTU besi itu terlihat mencolok. Pintu besi berkarat itu benar-benar menonjol. Saat memasuki galeri pameran Bentara Budaya Bali, pintu besi itu langsung menarik perhatian. Sepinta...
SALAH satu gitaris terbaik Indonesia bahkan dunia, Wayan Balawan, akan hadir dan konser di Kupang Agustus nanti. Wayan Balawan, master tapping asal Bali, akan didampingi drummer da...
HAJATAN besar sejarah pemilu di Indonesia telah dimulai Rabu, 9 Desember 2015. Ada sembilan provinsi dan 260 kabupaten/kota se-Nusantara waktu itu yang melaksanakan pilkada serenta...
BERANGGAPAN bahwa kampus adalah sebuah lembaga independen yang tidak boleh memihak kekuatan politik memang adalah sebuah kebenaran. Namun, bukan berarti tidak ambil bagian dalam pr...
(Tulisan ini dibuat dalam rangka menyongsong Serasehan Drama Gong yang rencananya digelar di Denpasar, 6 Agustus 2016) DI Bali, sebelum lahirnya institusi pendidikan seni dan Pesta...
ISU kesetaraan gender masih menjadi topik relevan yang dibahas melalui media verbal maupun non verbal. Tak terkecuali melalui medium seni rupa. Topik soal gender yang seolah ingin...
Judul Buku: Istana Para Kuli # Penulis: Yahya Umar # Penerbit: Salsabila – Pustaka Al-Kautsar Grup # Tebal: 229 halaman # ISBN: 978-602-1695-36-4 MADURA memiliki bentangan tanah ta...