YANG KUAT dalam antologi Penari (Dewa Nyoman Sarjana, 2023) adalah warna lokal. Tetapi dengan satu catatan, tidak penting lagi membicarakannya. Pada awal sejarah sastra, terminologi “lokal” tidak dikenal karena adanya isolasi. Pusat-pusat kebudayaan, ekonomi, politik, filsafat, tidak saling terhubung. Mereka membangun batas dunia masing-masing, pada bentangan laut, savana, gurun pasir, pegunungan, dan lain-lain. Dunia dibatasi oleh mobilitas yang pendek.
Kelak setelah periode penjelajahan darat dan perairan bumi, perdagangan, perang, penyebaran agama, kontak kebudayaan masyarakat, baru terjadi. Batas-batas dunia lokal runtuh. Masa penjelajahan dunia dan kolonialisasi akibat perut yang lapar, dengan ditemukan benua-benua baru setelah teknologi kapal berkembang, kompas, dan peta; konsep “global” dibangun. Di sini ada unitas baru yang dibatasi oleh keberadaan bumi atau dunia.
Sejarah mobilitas global dimulai dan terjadilah konstelasi terminologis dalam paradigma perbandingan antara berbagai aspek “lokal” dan isolasi. Di sini ditemukan keadaan umum yang berlaku luas melampau benua dan terjadinya tentu secara poligenesis: kebetulan sama asal mulanya walaupun sebelumnya tidak ada kontak. Lalu, yang lokal, yang tidak ada di lokasi kebudayaan lain, dikukuhkan sebagai yang lokal.
Dunia memasuki era pertarungan antara universal dan lokal. Yang lebih dihormati adalah segala yang berbau universal. Masa itu dan sampai beberapa abad kemudian, universalisme dijadikan rujukan. Manusia dibentuk dalam pikiran dikotomik antara yang lokal dan yang universal. Saking kuatnya hegemoni universalisme itu, masyarakat pemilik lokalisme mulai berkhianat dan beralih untuk menjadi bagian dari yang universal/global. Inilah cara kerja kolonialisme yang paling jahat dalam pikiran masyarakat.
Salah satu piranti ideologis dari modernisasi adalah tentu saja mengusung nilai-nilai universalisme. Modernisasi ingin menyatukan dunia dan di atas dunia, ingin dibangun satu kiblat penguasaan tunggal. Dunia pun terbentuk dalam relasi pusat dan pinggiran. Di pusat berkubang agen-agen global yang bertaring tajam, berrahang kuat untuk mencabik-cabik yang lokal, yang berada di pinggiran dan yang jauh.
Namun modernisasi tidak kuasa lagi bertahan karena menimbulkan rasa muak akibat segala keangkuhan dan standar-standar Barat atau Amerika yang menjelma dalam bahasa, pasar, kebudayaan, seni, pendidikan, ilmi pengetahuan, dan lain-lain. Kemuakan ini melahirkan penolakan terhadap modernisme dan masyarakat dunia memasuki era postmodern.
Berbicara lokal dan universal di Indonesia tentu adalah duplikasi bodoh nalar masyarakat yang terkolonialisasi jiwa dan pikirannya. Keagungan modernisasi barat dan kolonialismenya masih bercokol kukuh di dalam raga bangsa. Lantas, dibangun model dikotomi global dan lokal dan menjadi pusat/Jakarta/ibu kota dan ini dilawankan atau sengaja dihegemonikan dengan lokal (pinggiran, daerah).
Dalam dunia sastra duplikasi bodoh dan rendahan itu dilakukan dan dipraktikkan oleh para redaktur koran nasional. Mereka menguasai lokalisme tanah air atau mereka adalah agen penakluk segala kedaerahan. Yang diakui hanya persoalan nasional dalam sastra atau segala yang berkaliber nasional. Sebagai pusat hegemoni, ruang bagi yang “pusat” sangat terbatas.
Ruang ini senantiasa harus direbut, dipertahankan, dan sekaligus digunakan untuk menaklukan. Pemenangnya tentu saja yang menguasai atau menjadi bagian langsung dari pemilik industri cetak yang dimodali oleh kaum kapitalisme. Kaum ini mencuci uang modal mereka dengan segala kebaikan iklan yang mengusung budaya nasional sebagai atas nama.
Masih ingatkah dengan konsep sastra pedalaman? Ini adalah konsep yang lokal melawan atau mencoba hidup di hadapan yang nasional atau yang pusat. Bagi pusat ini adalah lawan dan itulah alasannya untuk membunuhnya atau tidak menyediakan ruang bagi mereka. Syukurnya, sastra lokal itu tetap tumbuh di seluruh Indonesia walaupun tidak mendapat perhatian dari pusat. Yang pada akhirnya mampu membunuh kuasa pusat sastra yang ditangkar oleh kapitalisme cetak yang angkuh itu adalah era digital.
Sastra dengan kategori pusat dan pinggiran yang diwarisi dengan bodoh dari kolonialisme dan modernisme tidak pernah diwariskan kepada generasi milineal. Sebagai wujud kesombongannya, para redaktur dan sastrawan yang tertangkar oleh koran-koran nasional yang disusui oleh kapitalis cetak adalah memandang sastra kaum milineal sebagai sampah!
Tapi generasa milineal tidak ambil pusing! Yang pusing adalah sastrawan kertas karena tidak siap terkubur dalam sejarah teknologi dan revolusi. Berbagai dalih untuk menjatuhkan martabat sastra kaum milineal dikemukakan. Tetapi semuanya bagai angin lalu. Kaum milineal bergeming!
Dalam dunia yang sudah tidak membutuhkan lagi kutub-kutub yang hanya menguntungkan pihak yang di pusat dan merugikan yang di pinggiran, tentu saja tidak tepat lagi memandang tema-tema lokal di dalam pembicaraan cerpen-cerpen DN Sarjana dalam antologi Penari. Lantas, persepektif apa yang lebih tepat untuk membaca cerita-cerita di dalam buku ini?
Sampai saat ini belum ada teori pembacaan baru bagi sastra. Sangat sedikit kritikus yang mengahrgai sastra digital. Mereka tidak melihat konteksnya tetapi melihat generasinya. Apakah ini sentimen yang memalukan? Teknologi sastra yang diberikan oleh era digital adalah teknologi penulisan sastra dan sistem sosial publikasi.
Terkait dengan pembacaan dan produksi karya, digitalisme membuka peluang yang luas bagi sastra dan siapapun. Sastra terintegrasi dengan moda-moda lain seperti grafis, gambar, musik, rekaman, dan sebagainya. Di kalangan kaum milineal, sastra tidak lagi memiliki definisi. Sastra dikubur oleh berbagai flatform medsos. Tidak ada lagi puisi, prosa, drama, cerpen atau apa lagi. Semuanya dikubur oleh instagram, twitter, facebook, dll. Berbagai platform medsolah yang menggantikan berbagai kategori genre sastra sepanjang sejarah hingga disrupsi melanda umat manusia.
Yang jelas, adanya pernyataan “yang kuat adalah yang lokal” di awal kata pengantar ini dimaksudkan untuk menunjukkan kecenderungan tematik cerpen-cerpen DN Sarjana. Pembaca menangkap kehadiran sastra dalam kategori-kategori yang kuat dan menyita perhatian. Sejalan dengan kecenderungan ini, M.H. Abrams telah membangun fondasi kuat prinsip-prinsip sastra.
Dengan pendekatan mimesis, cerpen-cerpen ini adalah keniscayaan saat sastra bersinggungan dengan realitas. Hal ini merupakan satu alasan, mengapa seting cerpen antologi Penari di Bali. Untuk kesekian kalinya, pandangan mimesis dalam sastra sebagai keniscayaan. Hal ini dilakukan oleh semua sastrawan di muka bumi ini.
Prinsip lainnya yang menonjol dalam produksi kreatif sastra adalah pendekatan ekspresif. Sastra dipandang sebagai ekspresi pengarangnya sendiri. Jadi, di atas prinsip ini, semua cerpen DN Sarjana adalah ekpresi dirinya, dalam pengertian yang sangat luas dan terbuka. Termasuk ekspresi kegelisahan dan kritis terhadap hancurnya subak di Bali. Namun demikian, antologi ini cenderung romantis dalam pengertian cerita-cerita cinta yang dihadirkan. Sebagian besar berbicara cinta dan pembaca merasakan efek romantis atau meneguk keindahan kisah-kisah cinta.
Dari segi “durasi” kisah, cerpen-cerpen dalam antologi Penari, termasuk pendek. Tetapi pendek tidak menjadi ukuran dalam sastra. Pendek atau kuantitas adalah bentuk akhir dari cerita dan bukan esensi batin. Karya bukan soal panjang dan pendek tetapi kategori ini hanya ruang yang dibutuhkan oleh cerita itu sendiri.
Epos membutuhkan ruang yang sangat luas tetapi satu kisah Tantri Kamndaka cukup ruang yang sempit saja: bagi persahabtan yang harus hancur dalam kisah “Angsa dan Empas”, bahkan cukup beberapa kata bagi Ida Pedanda Sidemen, “karang awake tandurin”, membikin pembaca tak mampu bernapas karena sesak diisap oleh pusaran energi lubang hitam yang diperam di dalam kata-kata dan relasi sitaksis yang dibangun.
Ukuran ruang kata sastra atau dengan kata lain, berapa banyak kata yang diperlukan, memang terkadang dipersyaratkan oleh angkatan pembaca. Tapi ini tidak fundamental dan hanya perampatan belaka untuk menyederhanakan kasus.
Tapi terkadang teknologi yang menuntut setelah ia terinstal di dalam badan manusia dan merasuki mentalnya. Aspek kuantitas teks untuk kaum milineal misalnya pendek, dangkal, atau parsial. Ini formula yang digandeng oleh teknologinya. Jadi, teknologi telah menyediakan takaran dan “aturan” produksi serta konsumsi.
Dari aspek “durasi”, tampaknya cerpen-cerpen DW Sarjana sangat cocok dengan persyaratan sastra kaum milineal. Namun demikian, tinggal memasukkannya ke dalam platform media sosial. Cerpen-cerpen ini dan pengarangnya sendiri memiliki potensi produksi fiksimini, genre teknodigital sastra. [T]
Kemegahan karya seni “The Octopus Queen” di kawasan Broken Beach, Nusa Penida, sukses mencuri perhatian salah satu perhelatan dunia dalam ajang internasional Red Bull Cliff Divin...
KETIKA dunia menyebut Kuta hari ini, ingatan kolektif yang muncul hampir selalu seragam, pesisir yang riuh, lanskap global pariwisata, komodifikasi ruang, dan denyut industri yang...
MEMASUKI tahun kesebelas penyelenggaraannya, Ubud Food Festival kembali digelar di Taman Kuliner Ubud dengan mengusung tema “Farmers: Guardians of Land and Sea”, sebuah ajakan unt...
LANGIT mendung siang itu terasa menenangkan. Sepasang turis asing berjalan pelan menyusuri jalan kecil yang dikelilingi semak dan rimbun pohon. Di depan mereka, seorang pemandu wi...
MENGGUNAKAN parfum wanita memang jadi cara paling simpel untuk meningkatkan rasa percaya diri dan meninggalkan kesan yang elegan. Tapi, tahukah kamu kalau cara pemakaian yang kura...
TERBITNYA ensiklik Magnifica Humanitas: On Safeguarding the Human Person in the Time of Artificial Intelligence karya Paus Leo XIV menandai babak baru dalam percakapan global tent...
SALAH satu paradoks kehidupan politik hari ini adalah semakin melimpahnya kritik di ruang publik tidak selalu berbanding lurus dengan kemampuan menghasilkan perubahan politik yang...
JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum sempat mengering di dedaunan, dan angin pagi masih...
“RASANYA legit, gurih, dan lebih bertekstur,” ujar I Wayan Agus Saputra di suatu siang yang mendung di Kantor Desa Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan. Pria yang diper...