“Full Day School”, Bentuk Generasi Emas atau Generasi Cemas?
GELI juga membaca berita tentang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy yang menggagas sistem "full day school" untuk pendidikan dasar (SD dan SMP), baik negeri maupun...
Ndul, beberapa waktu lalu, aku bertemu dengan orang istimewa, dia perempuan. Usianya setara anak kuliahan, namun dia didewasakan oleh keadaan. Berjibaku ke sana kemari untuk mempertahankan eksistensinya, mengangkat harkat martabat keluarganya.
Dia menjadi tulang punggung keluarga. Dia merasakan bagaimana kerasnya dunia, pantang mengeluh, mengupayakan ketegaran dalam tubuh. Di hadapan orang lain, dia berkamuflase baik-baik saja. Tapi sebenarnya, dia sedang berisik dengan isi di kepala.
Hari-hari, mulutnya komat-kamit dalam doa, jarinya berhitung, siapa saja yang akhirnya berpihak kepada dia, selain Tuhan. Apa dan bagaimana esok, dan lusa, Ndul?
Dirimu tahu, Ndul, dia sering kali mengabaikan dirinya, urusan makan dia bilang nanti-nanti saja. Waktunya, dia habiskan fokus berusaha mendapatkan kebutuhan keluarga. Dalam benaknya, ada adik-adiknya harus tetap sekolah, kompor di dapur harus tetap menyala, setoran untuk keluarga harus ada setiap bulannya dan lain sebagainya, Ndul.
Sejauh ini, dia santai saja, berperan seperti seorang lelaki, yang memenuhi kebutuhan keluarga. Dia bukan perempuan yang sedikit-sedikit mengeluh. Bahkan dia merasa cukup mampu untuk hidup tanpa lelaki. Karena untuk apa ada laki-laki? Toh dia juga sanggup berperan seperti laki-laki.
Tapi, akhir-akhir ini dia bertanya padaku, Ndul, sampai kapan dirinya akan kuat sendiri tanpa seorang laki-laki? Begitu kira-kita dia bertanya, Ndul.
Apa yang sebenarnya dibutuhkan dari berpasangan ya, Ndul? Apa hanya sekedar kebutuhan biologis saja? Dia masih mencari, Ndul. Tapi untuk kebutuhan biologis, dia belum terlalu memikirkan bagaimana baiknya. Karena, memang belum ada laki-laki yang datang meminta dari orang tuanya. Eh, Ndul, apa perlu ya, berpasangan?
Sejauh ini, kalau kata orang-orang yang sudah berpasangan ya, Ndul, katanya, dengan berpasangan mampu menstabilkan emosi, saat mengambil keputusan tidak gegabah, dan katanya mampu 'mengerem' kenakalan, Ndul.
Ya kurang tahu, Ndul, itu kata orang-orang yang sudah mengalami lhoo ya. Tentu masih banyak lagi manfaat, dari orang yang berpasangan. Aku sendiri masih menimbang dan memperbanyak referensi.
Pertanyaannya masih sama, apa yang sebenarnya dibutuhkan dari berpasangan ya, Ndul? Jawab yang dirimu tahu, meskipun aku tau, dirimu juga belum berpasangan. Coba, Ndul, bagaimana menurutmu? [T]
GELI juga membaca berita tentang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy yang menggagas sistem "full day school" untuk pendidikan dasar (SD dan SMP), baik negeri maupun...
HAY, ges, Salam Sejahtera untuk ges ges semua di seantero jagad Indonesia tercinta. Semoga semua masih dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa dan selalu memegang teguh ideologi Panca...
RATUSAN anak mendadak berlarian dari sisi barat dan timur Taman Lumintang, Denpasar. Mereka menghambur begitu saja di tengah-tengah lapangan. Mereka menari, berlari, kejar-kejaran,...
Cerpen: Surya Gemilang PARA pengunjung Taman Palakosa dibuat menganga pada sore itu oleh kehadiran seorang pria bertubuh kekar yang wajahnya abnormal; ia bermata tiga—m...
RASANYA baru kemarin saya menjadi mahasiswa semester 6 dan kini sudah beranjak ke semester 7. Segala pahit getir hari-hari di semester 6 yang agak jahanam akhirnya bisa saya lalui...
“Dadi minum, sakewale abedik!” begitu pesan luhur dari Sembroli. Dan kalimat itu dikatakan berkali-kali. Setiap kali menyebut “pesan luhur”, ia selalu angkat gelas dan menenggak ar...
PAGI tadi aku duduk di sebuah kursi taman di belakang gedung kampusku yang baru. Sudah tiga hari aktivitas ini aku lakukan. Aku pun sebenarnya tidak betul-betul tahu untuk apa dan...
MEDIA Sosial tentunya memberikan banyak manfaat. Mulai dari sarana untuk mengekspresikan diri, bertukar informasi, mencari lebih banyak teman, bahkan untuk menjalankan sebuah bisni...
BELAJARLAH pencitraan dari kuliner khas Buleleng, terutama dari lawar getih. Karena pencitraan itu adalah pertunjukan tentang “rasa dan kesan” yang serupa antara apa yang dilihat m...
SINTHA Pramadewi terlihat serius melihat aksara demi aksara yang tertulis di atas selembar daun lontar. Dengan terbata-bata ia berusaha membaca aksara demi aksara, yang ukurannya t...