Malam Minggu bagi “Darah Muda”: Tak Sekadar Pacaran
PERNAHKAH tersirat di pikiran anda apa itu “Malam Minggu”? Dan apa bedanya dengan “Sabtu Malam”? Rasanya hanya beda istilah dengan makna yang sama. Istilah mana yang lebih sering a...
BAGI PECINTA SEPAK BOLA, Piala Dunia adalah pesta akbar. Seluruh energi akan tercurahkan untuk menyaksikan tiap gocekan bola si kaki emas. Terkadang fanatisme juga hadir di tengahnya, mengibarkan bendera negara jagoan di halaman rumah. Tak peduli negara jagoan tak mampu lolos dari fase grup.
Tidak sedikit pula orang yang memanfaatkan ini untuk mengais keuntungan. Ada yang jual jersey, bendera negara, hingga adakan nonton bareng dengan sedikit prediksi ala-ala (baca: taruhan). Semua demi semarakan pesta akbar bagi si pecinta bola.
Sebagai salah satu negara dengan basis pecinta bola terbesar di dunia, Indonesia sangat merindukan timnasnya tampil di panggung termegah sepak bola dunia. Meski sempat tampil sebagai kontestan pertama Asia di ajang empat tahunan, kala itu Indonesia masih bernama Hindia Belanda, tepatnya pada tahun 1938 di Prancis.
Namun setelah merdeka, tak sekalipun Indonesia mampu menjejakkan kakinya di ajang prestisius itu lagi. Momen mengibarkan bendera Indonesia di halaman rumah tatkala piala dunia tentu menjadi hal yang ditunggu seluruh rakyatnya.
Kini rindu akan bertemu dengan yang didamba. Indonesia pada akhirnya berhasil menjadi salah satu peserta piala dunia. Meski bukan diperuntukkan untuk timnas senior, setidaknya Piala Dunia U-20 sedikit banyak dapat mengobati dahaga kompetisi internasional bagi negara yang merdeka hampir 78 tahun ini.
Indonesia pada akhirnya ditetapkan sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20 berdasar keputusan Dewan Rapat FIFA pada 24 Oktober 2019 di Shanghai, China. Gelaran ini akan diikuti 24 peserta yang rencananya akan mulai berkompetisi di bulan Mei 2023 mendatang.
Ada enam stadion yang telah disiapkan oleh Indonesia untuk menyambut gelaran ini, yaitu Stadion Gelora Bung Karno (Jakarta), Si Jalak Harupat (Bandung), Manahan (Solo), Gelora Bung Tomo (Surabaya), I Wayan Dipta (Bali), dan Gelora Sriwijaya (Palembang).
Sebelum perhelatan Piala Dunia U-20 dimulai, sudah dipastikan bahwa enam stadion tersebut telah memenuhi standar FIFA. Kabar yang menggembirakan tentunya, Indonesia akan memiliki lebih banyak stadion dengan standar internasional.
Politik Coba Menggelitik
Orang bijak pernah berkata, buta yang paling berbahaya adalah buta politik. Hal ini dikarenakan setiap aspek kehidupan manusia ditentukan oleh jalannya politik, termasuk juga di bidang olahraga.
Bahkan bisa dikatakan, terpilihnya Indonesia sebagai tuan rumah pun juga andil dari politik. Kemudian, persoalan politik apa yang coba menggelitik jelang perhelatan Piala Dunia U-20?
Belakangan, ramai perbincangan soal penolakan pelbagai pihak dengan kehadiran Israel di Indonesia sebagai salah satu peserta Piala Dunia U-20. Tentu banyak hal yang menyertai, dan semua tersebar di lini massa mesin pencari.
Belakangan, penolakan juga datang dari Gubernur Bali, I Wayan Koster. Sebagai orang nomor satu di Bali, ia melayangkan surat kepada Menpora RI ihwal keberatannya atas hadirnya Israel di Bali.
Dalam surat tersebut, disampaikan bahwa latar belakang penolakan tersebut disebabkan oleh kebijakan politik Israel terhadap Palestina yang tidak sesuai dengan kebijakan politik Indonesia, dan hari ini masih menjadi persoalan serius.
Tidak adanya hubungan diplomatik antara Indonesia dan Israel juga jadi argument tambahan dalam surat itu. Berangkat dari hal tersebut, Bali melalui surat Gubernur tersebut menyatakan penolakan Israel untuk bertanding di Bali.
Adalah hal yang sah ketika sebuah otoritas daerah menyampaikan pandangannya terhadap sebuah fenomena. Tapi dalam konteks ini, saya sangatlah menyangkan keputusan yang diambil Gubernur Bali.
Sebagai salah satu tuan rumah, Bali semestinya sudah siap dengan segala konsekuensi yang ditimbulkan. Apalagi persiapan sudah dilakukan jauh-jauh hari. Belum lagi Bali dikenal dengan surganya turis—tanpa memandang latar belakangnya untuk plesiran di Bali.
Saya coba menduga, sikap ini tidak terlepas dari sikap partai yang menaungi I Wayan Koster. Ramai di media, PDI Perjuangan juga menjadi salah satu pihak yang menolak kehadiran Israel di Indonesia sebagai peserta Piala Dunia U-20. Alasannya serupa dengan apa yang dijelaskan Gubernur Bali dalam surat yang dilayangkan kepada Menpora RI.
Apakah ini menjadi manuver politik untuk menggaet simpati pemilih jelang Pilkada 2024 mendatang? Semoga saya salah menduga.
Sebagai Tuan Rumah, Indonesia Tidak Siap
Bagi saya, pelbagai penolakan yang terjadi hari ini, termasuk yang datangnya dari Bali itu sendiri adalah sebuah bentuk ketidaksiapan Indonesia umumnya, dan Bali pada khususnya.
Sebagai negara yang telah ditunjuk sebagai tuan rumah, semestinya seluruh komponen di Indonesia menyiapkan diri dengan pelbagai kemungkinan. Piala Dunia adalah ajang untuk seluruh negara anggota FIFA, dan seperti yang diketahui bersama, dalam statuta FIFA tidak mengizinkan adanya intervensi pemerintah. Dan kita harus hormati itu, jika tidak, kita harus siap dengan konsekuensinya.
Rata-rata, penolakan yang datang berangkat dari kebijakan politik Israel terhadap Palestina. Sampai detik ini, Israel masih terus menggempur Palestina. Jalur Gaza menjadi medan perang yang mendunia hingga hari ini.
Tentu sebagai bagian dari Indonesia yang percaya bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, saya tidak membenarkan kebijakan politik yang dilakukan oleh Israel, merenggut ribuan nyawa tak berdosa adalah hal yang mesti kita kecam bersama-sama.
Sebagai orang yang awam dalam dunia hubungan internasional saya berpikir, apabila menggunakan logika yang sama, seharusnya pada saat Indonesia berperan sebagai pemegang Presidensi G20, kehadiran Rusia semestinya mendapatkan penolakan yang serupa—terlepas dari apakah Indonesia memiliki hubungan diplomatik atau tidak. Hal ini disebabkan karena pada saat itu, di bawah intruksi Vladimir Putin, Rusia melakukan invansi ke negara Ukraina yang kemudian menyebabkan gejolak di seluruh dunia, termasuk Indonesia.
Sanksi FIFA di Depan Mata
Meski politik menjadi sarana untuk menentukan segala aspek kehidupan manusia, tapi alangkah baiknya olahraga menjadi sebuah pengecualian. Olahraga, khususnya Indonesia adalah hiburan dan pemersatu rakyat Indonesia. Hal itu tak terbantahkan.
Hadirnya politik dalam sepak bola, khususnya di Indonesia telah berkali-kali menjadikan rakyat sebagai korbannya. Mulai dari dualisme liga, sampai pemberian sanksi oleh FIFA. Semua tak lepas dari andil campur tangan politik.
Bayang-bayang sanksi dari FIFA pun kini digadang-gadang bakal kembali diterima oleh Indonesia. Polemik Israel menjadi ihwal utama. Alih-alih menyambut gelaran Piala Dunia U-20, FIFA justru berencana menunda drawing Piala Dunia U-20 yang rencananya akan diselenggarakan di Bali pada 31 Maret 2023.
Jika benar, tentu ini menjadi berita buruk bagi Indonesia selaku tuan rumah. Polemik yang terjadi saat ini tentu menggiring FIFA untuk mempertanyakan komitmen Indonesia sebagai tuan rumah. Sebagai tuan rumah, Indonesia harus menjamin keamanan bagi seluruh peserta yang akan bertanding, termasuk Israel di dalamnya.
Begitulah sepak bola, meski telah memberi luka berkali-kali, tetapi saya dan anda selalu cinta mati terhadap olahraga ini.
Akankah tahun ini rakyat Indonesia berhasil menumpahkan kerinduannya terhadap timnas yang berlaga di Piala Dunia U-20, atau justru rakyat Indonesia kembali gigit jari sembari menyimpan jersey kesayangan kembali ke dalam lemari? [T]
BACA artikel lain dari penulis TEDDY CHRISPRIMANATA PUTRA
PERNAHKAH tersirat di pikiran anda apa itu “Malam Minggu”? Dan apa bedanya dengan “Sabtu Malam”? Rasanya hanya beda istilah dengan makna yang sama. Istilah mana yang lebih sering a...
SEBAGAI mahasiswa yang menuntut ilmu di universitas yang bergerak dalam bidang keguruan, tentu “kegiatan mengajar” tidak lagi asing di telinga mereka. Bahkan “kegiatan mengajar” ak...
Bapak/Ibu Guru yang kami cintai, pidato ini saya buka dengan kutipan dari penyair Kahlil Gibran… “Cinta tidak punya hasrat selain mewujudkan maknanya sendiri.” BEGITU bijaknya Ka...
GENERASI yang cerdas dan berakhlak mulia terwujud dari adanya guru yang cerdas dan berkompetensi. Sebuah ungkapan sederhana namun memiliki banyak makna dan usaha. Dewasa ini, guru...
MELIHAT pendidikan Indonesia memasuki milineum ketiga, ketika teknologi digital melahirkan generasi baru (generasi Y), makin kentara paradoks dunia pendidikan, biang kerok stagnasi...
SEBUAH percakapan mengejutkan di ruang kelas: Saya : Anak-anak, kalian punya cita-cita? Ada yang jawab punya, ada yang menjawab tidak. Saya lontarkan pertanyaan ini kepad...
DUNIA ini adalah panggung sandiwara. Tuhan penulis skenario sekaligus sebagai sutradara. Dan kita umat manusia sebagai aktornya. Segala sesuatu yang kita lakukan sudah ada skenari...
POLITIK mungkin sesuatu yang asing bagi saya terutama mengenai politik praktis. Memang sedikit paham, secara garis besar politik didefinisikan sebagai “ilmu mempengaruhi”. Sebagai...
HARI masih pagi. Jarum jam baru menunjukkan pukul 08.30. Namun entah mengapa, matahari bersinar begitu terik. Meski begitu, suasana di Lapangan Umum Desa Bebetin, terlihat riuh. Pu...
MEDIA massa baik itu cetak maupun elektronik setahu saya adalah sebagai “tukang lapor” kepada masyarakat luas terhadap apa yang terjadi pada suatu tempat dan suatu waktu di belahan...