Pesta Kesenian Bali: Keroncong Tidak Mati
KETIKA tubuh meragang nyawa, dalam perukan persada. Tinggal nafas yang masih tersisa. Kau pekikkan merdeka. Bait lagu Puji Bagi Pahlawan ciptaan Basuki itu mengalun dalam sunyi. La...
BULAN MARET 2023 ini bulan istimewa, karena pada tanggal 22 Maret 2023 jatuh sebagai Hari Raya Nyepi yang diperingati oleh umat Hindu, dan keesokannya untuk saudara kita umat muslim sudah mulai menjalankan ibadah puasa pada bulan suci ini.
Hal ini istimewa, karena pada perayaan Nyepi untuk umat Hindu dituntut untuk melakukan catur brata penyepian, yang di dalamnya bermakna mengistirahatkan buana agung dan buana alit.
Nah dalam buana alit yaitu diri kita sendiri, dituntut untuk kita berpuasa. Juga pada umat muslim yang akan menjalani ibadah puasa. Setiap agama selalu mengajarkan untuk belajar mengendalikan diri dengan berpuasa.
Dalam kehidupan kita di masyarakat, sebagai umat beragama yang kita lihat umat Hindu melalui hari raya Nyepi dan umat Muslim pada menjelang hari raya Idul fitri satu bulan melakukan laku puasa Dan dalam konteks yang lebih umum, ternyata puasa memiliki manfaat besar untuk kehidupan kita.
Jika kita menoleh ke belakang jelas bahwa puasa cukup dikenal oleh para rsi kita dan dilaksanakan oleh umat Hindu, bahkan oleh umat-umat lain juga, karena puasa diyakini memberi keuntungan-keuntungan baik fisik atau mental kepada pelakunya, bahkan puasa merupakan salah satu cara untuk mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Filosof besar bangsa Yunani seperti Socrates, Plato, Phytagoras, selalu berpuasa sebelum menulis karya karya filsafat, mereka tahu berpuasa itu merangsang kekuatan mental dan mereka berpendapat “perut yang penuh tidak suka berpikir “.
Dan kenyataannya itu benar, ketika selesai makan, apalagi makan banyak, tiba-tiba kita terasa ngantuk dan mau tidur, hal ini tentunya dikarenakan saat habis makan, maka aliran darah semuanya dipusatkan ke organ pencernaannya, sehingga secara relatif darah di otak akan berkurang.
Dengan berkurangnya darah sudh pasti akan menurunkan oksigen di otak juga yang berakibat ngantuk. Phytagoras ketika pergi ke Mesir untuk mempelajari ilmu spritual okultisme, pertama-tama ia harus menjalani puasa selama 40 hari, supaya bisa menangkap dan menerima ilmu yang didapatkannya.
Orang-orang pandai di jaman dulu sangat mengetahui keampuhan puasa untuk mencegah dan mengobati semua jenis penyakit, tidak salah kalau dikatakan bahwa puasa adalah metoda pengobatan universal bagi penyakit.
Hipokrates, tabib bangsa Yunani, yang terkenal sebagai bapak ilmu kedokteran yang hidup sampai usia 90 tahun mengatakan dalam tulisannya “setiap orang memiliki dokter dalam dirinya, kita hanya membantu dokter itu bekerja, makan ketika kamu sakit hanyalah memberi makan kepada penyakitmu itu.”
Dalam kehidupan sehari-hari, kita menyaksikan dan melihat bahwa tidak ada orang yang sakit karena berpuasa, justru kenyataannya pada mereka yang sakit untuk kesembuhannya harus melakukan puasa atau pembatasan jenis makanan-makanan tertentu.
Kenyataannya tubuh memang harus diistirahatkan, dan salah satu cara untuk mengistirahatkan tubuh kita adalah dengan berpuasa, dan saat tubuh istirahat untuk mencerna, maka tubuh kita dengan sistem autophaginya akan membersihkan tubuh itu sendiri, sehingga ketika kita selesai melakukan puasa, justru bukan lemas yang kita rasakan, tapi kesegaran fisik dan pikiran yang lebih baik.
Phenomena yang muncul dimasyarakat, menjelang hari raya baik itu Nyepi untuk umat Hindu, dan umat Muslim berdesak-desakan dan berebut di pasar-pasar dan supermarket untuk membeli bahan makanan dan makanan yang sudah jadi sebagai “bekal” di hari raya. Padahal saat hari raya tersebut justru kita disarankan untuk berpuasa.
Puasa juga dikatakan dapat menunda proses penuaan tubuh, sebab puasa memberi kesempatan kepada sel, saluran pencernaan, dan enzim-enzim dalam tubuh beristirahat selama 14 jam. Hal ini membuat radikal bebas dalam tubuh lebih rendah dibandingkan dengan orang yang tidak puasa.
Radikal bebas bisa memicu berbagai penyakit degeneratif. Pengistirahatan sel -sel tubuh itu bisa optimal asalkan pengaturan makan selama puasa dilakukan secara benar. Kesalahan sering timbul karena menerapkan teori “balas dendam” dengan mengkonsumsi makanan sebanyak-banyaknya saat berbuka puasa.
Agar dampak positif puasa untuk membuat tubuh sehat, maka jangan makan berlebihan pada saat berbuka puasa.
Menghentikan mengkonsumsi makanan selama periode tertentu memberikan kesempatan kepada tubuh untuk membersihkan diri sendiri dan menghilangkan racun-racun yang terkumpul. Juga karena tenaga tidak digunakan untuk mencerna, maka tenaga ekstra itu diarahkan ke otak untuk untuk mendapatkan proses jiwa yang lebih tinggi.
Para ahli sepakat puasa dapat dipakai sebagai salah satu metode pembersihan diri yang tentunya akan meningkatkan kesehatan diri, bahkan lebih dari itu puasa bisa dimasukkan sebagai salah satu strategi anti penuaan.
Secara spiritual puasa yang berasal dari kata upa yang berarti dekat, dan wasa yang berarti Tuhan, yang berarti mendekatkan diri kepada Tuhan. Puasa memang salah satu cara untuk kita mendekatkan diri kepada sang pencipta, dalam puasa ada proses latihan, ya latihan mengendalikan diri, karena sejatinya orang yang hidupnya menjadi “bermasalah” justru karena tidak mampu mengendalikan dirinya.
Contoh dalam kehidupan kita sangat banyak, perkelahian, pembunuhan, kasus korupsi termasuk sakit dan sebagainya semua itu disebabkan karena tidak mampu mengendalikan diri.
Untuk diingat hidup ini adalah proses belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik, mulailah belajar “berpuasa” untuk bisa mengendalikan diri kita, sehingga kita akan terhindar dari hal-hal buruk yang tidak kita inginkan demi kebaikan dan kedamaian kita bersama. [T]
KETIKA tubuh meragang nyawa, dalam perukan persada. Tinggal nafas yang masih tersisa. Kau pekikkan merdeka. Bait lagu Puji Bagi Pahlawan ciptaan Basuki itu mengalun dalam sunyi. La...
Apakah yang paling membanggakan dari makhluk yang bernama manusia? “Kreativitas.” Itulah jawabnya. Manusia menjadi “lebih” ketimbang binatang karena memiliki ruang yang sangat luas...
Sebagai orang yang tidak berkompeten dalam bidang bahasa Bali, mungkin saya akan tulah idup karena apa yang akan saya paparkan barangkali banyak bohongnya. Saya bukan orang yang la...
Kaohsiung adalah kota terbesar kedua di Taiwan setelah Taipe. Di kota itulah saya berada, awal Juni 2016. Seperti sebuah mimpi, dari Singaraja – kota tempat tinggal saya - segalany...
FENOMENA The Great Pacific Garbage Patch menjadi bukti betapa kita sebagai manusia telah membunuh bumi dengan plastik. Miliaran ton sampah plastik terapung di laut, membuat jutaan...
KEMISKINAN, di Bali, bisa berarti sebuah upacara. Warga Desa Trunyan di Desa Kintamani, Kabupaten Bangli, sebelum berperilaku menjadi manusia miskin melakukan ritus kecil: membakar...
JIKA hobi facebook-an, singgahlah sesekali ke halaman Punk Kwala Ngibur. Bisa kita nikmati komik berbahasa Bali dari tingkat paling kepara sampai sor se-singgih-singgihnya. Tulisan...
MUNGKIN saya sudah terlambat menguraikan hal ini. Karena saat ini sudah makin banyak masyarakat yang menolak reklamasi Teluk Benoa. Namun dalam konteks ini, saya meyakini bahwa leb...
Bahasa menunjukkan bangsa. Itu peribahasa yang akrab saya dengar di Sekolah Dasar dulu yang bertahun-tahun kemudian saya amini kebenarannya. Kultur sebuah bangsa, seturut makna per...
Judul Buku : Badriyah Pengarang : Ayu Weda Penerbit : Gambang Buku Budaya Tahun Terbit : Maret 2016 Jumlah Halaman : xiv + 207 halaman ISBN : 978-602-6776-15-0 SELURUH cerita dala...