Hey, Ndul, sudah lama tidak berkabar, gimana kabarnya, Ndul? Semoga senantiasa diberi kelancaran ya, Ndul. Akhir-akhir ini aku ada kegiatan, Ndul. Ya biasa, ini dan itu, kadang begini, kadang begitu, udah biasa, Ndul, namanya juga manusia, penuh kesibukan, apapun itu.
O, iya, Ndul, kalo ada orang yang tidak bisa menghadiri acara karena kesibukan, menurutmu bagaimana, apakah relevan, Ndul? Ya kan semua orang punya kesibukan.
Ya kalo menurut ku, hanya soal prioritas, Ndul. Diantara kesibukan yang ada, manusia punya hak untuk memilih, mana yang perlu diprioritaskan, yang ini atau yang itu. Kalo yang ini, berarti yang itu tidak bisa diikuti, atau mengikuti itu dilain waktu, kan begitu to, Ndul?
Baiklah, jika dirimu multitalenta, mungkin bisa saja mengambil semua pilihan yang ada. Tapi hasilnya bagaimana, apakah bisa maksimal? Perlu diingat, di antara pilihan yang ada, tentu masing-masing mempunyai konsekuensi yang harus dipertanggungjawabkan, Ndul. Artinya ada usaha lebih keras yang perlu diperhitungkan, misalnya, dirimu akan memerlukan waktu, pikiran dan mungkin biaya tambahan.
Kalo kata orang pintar ya, Ndul, selesaikan dulu satu urusan, jika satu urusan selesai, lanjutkan urusan yang lain. Nah kalo dirimu ambil lebih dari satu pilihan, bagaimana dirimu mengatur tanggung jawab atas konsekuensi pilihan yang dirimu ambil.
Coba renungkan dulu, Ndul, mana yang menjadi prioritas. Apa yang menjadi landasan dasar dirimu mengambil pilihan tersebut.
Pikirkan, konsultasikan dengan orang tua, ceritakan kepada orang yang pernah mengalami hal serupa, atau bila perlu mendeklarasikan seseorang untuk bersedia menjadi gurumu atau mentor mu malah lebih bagus, Ndul. Karena referensi mu dalam pengambilan keputusan tentu masih terlalu sedikit, takutnya salah langkah.
Ya meskipun, salah langkah pun, menjadi pembelajaran proses tumbuh mu, tapi kalo bisa diantisipasi, mengapa harus mencoba gagal?
Toh, tanpa harus gagal pun, dirimu bisa mengevaluasi dari orang tua atau mentor mu yang pernah ga gagal kan lebih baik. Bukankah begitu, Ndul? [T]
SINGARAJA – TATKALA.CO | Wajah baru kawasan Titik Nol Kota Singaraja mulai terlihat. Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, didampingi Wakil Bupati Buleleng Gede Supriatna serta Ketu...
DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari Kabupaten Buleleng tampil dalam ajang Pesta Kesenian Bal...
SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan di kawasan Gedong Kirtya, Sin...
PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang murung, keduanya kembali bertemu ket...
“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya.
Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru saja pulang kerja mendapat pesan Instagram dari t...
PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita?
Sungguh menarik mengamati bagai...
TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih dalam, bagaimana seorang penuli...
LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan seni karawitan Bali. Ajang ini tidak ha...
BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade) Busana Adat pada Pesta Kesenian Bal...
Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman
TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan hari tersebut sebagai In...