'Kabung' adalah "kain putih yang diikatkan di kepala sebagai tanda berduka cita"; 'berkabung' artinya "memakai kabung (sebagai tanda berduka cita karena ada keluarga yang meninggal)"; atau pertanda "berduka cita karena keluarga, kerabat, dan sebagainya meninggal" — silakan lihat KKBI.
Umumnya orang Indonesia tidak lagi mengenali arti kata 'kabung'. Apalagi bendanya. Sebabnya mungkin karena sebagian orang Indonesia telah meninggalkan tradisi berkabung. Tinggal kata 'berkabung' sebagai peristilahan untuk berduka cita akibat kematian seseorang yang masih dipakai dalam bahasa Indonesia. Kata 'berkabung' terlupakan asal muasal katanya, hanya tertinggal maknanya.
Kabung, sepertinya hanya tertinggal dalam budaya Bali, dalam tradisi mengantar jenazah ke kubur.
Ikat kepala dari kain kasa putih kain kasa atau kain kafan — atau biasa disebut kain mori atau kain kaci, kain yang identik digunakan untuk membungkus mayat — kita kenal dengan nama 'kabung'.
Ikat kepala putih itu bernama kabung
Menjelang mayat diantar ke kuburan, sisa kain pembungkus mayat itu sobekan atau guntingannya, menyerupai pita, dibagikan kepada masing-masing anggota keluarga, lalu diikatkan di kepala masing-masing untuk mengantar ke kubur sang berpulang.
Dalam selembar kabung ada pertautan yang berpulang dengan yang ditinggalkan. Sesampai para pengantar di kuburan, diadakan doa terakhir sebelum jasad dikubur atau dikremasi. Semua kain kabung dilepas, dikumpulkan oleh anggota keluarga, lalu dikubur atau dibakar bersama sang berpulang.
Mengenakan kabung itu sama dengan dukacita atau belasungkawa. Berbelasungkawa itulah berkabung (mengenakan kabung) secara metaforik dalam pertautan kain kafan dan kabung. Yang ditinggal dan yang berpulang.
Berkabung (mengenakan kabung) secara fisik buat orang Bali selesai ketika kain kabung dibakar atau dikubur di kuburan. Tetapi secara batiniah, tidak sama. Dianjurkan 12 hari selesai masa perkabungan bagi orang Bali, sebab dipercaya di hari ke 12 adalah berangkatnya jiwa sang berpulang ke alam lain. Pada saat inilah diharapkan bagi orang Bali perkabungannya dicukupkan. Kabung selesai dikenakan secara batiniah.
Melepas kabung batiniah ini dikenal dengan nama "ngrorasin" [upakara masa 12 hari] yang disakralkan. Pada masa lalu nama sang berpulang tidak lagi boleh disebut-sebut karena telah 'meraga angin' [bertubuh angin], dan berada di alam dimensi seberang yang tidak lagi tersambung langsung dengan dimensi kita.
Sang jiwa yang berpulang tidak lagi menoleh ke alam ini, ia berjalan memasuki alam seberang. Tidak lagi menoleh ke belakang. Kita yang di dunia ini pun juga diharapkan merela-lepaskan yang berangkat ke alam seberang.
Setelah 12 hari keluarga yang ditinggalkan diharapkan kembali menjalani 'perjalanan dharma' masing-masing, tidak lagi mengenakan kabung.[T]
JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh dari sastra tampaknya tidak berala...
UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan skateboard mungil itu meluncur, lalu melompat. La...
PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti Panyembrama, Seka...
SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai simbol kedekatan dengan alam. Mel...
KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love poetry", tulisnya dalam buku barunya M...
PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni adalah ‘bahasa universal’ yang mampu menjembatani...
DUA PULUH lima tahun lalu, tepat saat 2 bulan setelah Milenium ketiga dimulai, segerombol anak muda yang menyebut diri mereka Kamasra (Keluarga mahasiswa Seni Rupa) STSI Den...
MANUSIA adalah makhluk yang gemar mengembara.
Tubuhnya berada di sini, tetapi pikirannya berlari ke hari esok. Atau sebaliknya, tubuhnya telah meninggalkan kemarin, tetapi bati...
Sorak-sorai penonton menyemangati temannya ketika tampil sebagai peserta lomba Matajog (egrang bambu) dalam ajang Jantra Tradisi Bali serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII,...