BEBERAPA BULAN BELAKANGAN ini permainan lato-lato berhasil membuat saya heran. Permainan ini bukanlah hal baru buat saya, dulu pada masa SD saya pun pernah gandrung dengan permainan ini. Kalau di daerah saya, orang menyebutnya dengan nama “tek-tekan”.
Tak hanya digandrungi oleh anak-anak, permainan ini bahkan sempat menghebohkan jagat internasional. Pasalnya lato-lato juga dimainkan oleh Paul Rudd—seorang aktor yang memerankan Ant Man. Semakin heboh jadinya karena ia bermain lato-lato di acara Red Carpet fan event untuk Ant-Man and The Wasp: Quantumania di Hoyts Entertainment Square, Sydney, Australia.
Animo di dalam negeri lebih besar lagi. Tidak hanya kalangan selebriti, lato-lato juga sering dimainkan oleh para pejabat di negeri ini. Mulai dari pejabat di tingkat kabupaten/kota, provinsi, hingga nasional.
Belakangan yang paling ramai adalah saat Presiden RI, Ir. H. Joko Widodo diminta bermain lato-lato di sela-sela kunjungannya di Jawa Barat. Tak hanya Jokowi, Ridwan Kamil yang mendampinginya pun tak mau ketinggalan untuk memainkan permainan ini.
Partai politik juga tak mau kalah. Untuk menjadi relevan di tengah masyarakat, partai politik pun mengadakan lomba lato-lato dengan ragam hadiah untuk menarik simpati rakyat, apalagi jelang Pemilu—momen-momen seperti ini wajib dimanfaatkan.
Berhenti sampai di sana? Tentu saja tidak.
Bahkan di Sulawesi Utara, salah satu lembaga negara—saya tidak mau menyebut namanya, menggunakan lato-lato sebagai media untuk membuka secara resmi acara tersebut. Itulah kekuatan lato-lato di negeri ini. Sebuah permainan tradisional yang tidak hanya mampu menyentuh masyarakat kalangan bawah, tapi juga mampu menjangkau dunia internasional. Perlu banyak latihan untuk jago memainkan permainan ini.
Seingat saya, dulu saya sangatlah jago bermain lato-lato. Bahkan kalau dilombakan, mungkin saya masuk tiga besar. Hehe.
Jadi lato-lato ini adalah mainan yang berbentuk dua bola, masing-masing bola diikatkan tali yang bertemu pada sebuah simpul. Kemudian simpul yang mempertemukan dua tali tersebut dipegang, lalu dimainkan hingga dua bola tersebut berbenturan satu sama lain. Benturan tersebut menghasilkan bunyi yang begitu khas—sampai-sampai permainan ini jadi cerita-cerita lucu di pelbagai platform digital.
Seperti itulah kira-kira permainan lato-lato yang berhasil menyita perhatian seluruh kalangan di Indonesia. Permainan yang dulu pernah hadir di masa kanak-kanak saya, kemudian beberapa belas tahun kemudian kembali eksis—bahkan dalam waktu yang cukup lama. Lalu, apa korelasi permainan lato-lato dalam catur perpolitikan Indonesia?
Politik “Lato-Lato”
Seperti yang saya katakan di awal, lato-lato jadi permainan yang sangat digandrungi oleh rakyat Indonesia, termasuk di dalamnya adalah elit-elit politik. Buat saya hal tersebut bukanlah hal baru. Mengikuti tren masa kini bagi sebagian elit adalah sarana untuk masuk lebih jauh ke dalam kehidupan rakyat—saya menyebutnya dengan “gimik politik”. Dan itu sah-sah saja dilakukan.
Menurut saya sendiri, kunci dari permainan lato-lato adalah benturan yang kemudian menghasilkan bunyi. Bunyi tersebut bisa saja mengganggu, bisa saja menarik—tergantung cara pandang kita.
Bagi saya, akan menjadi bahaya ketika konsep permainan lato-lato diterapkan dalam catur perpolitikan Indonesia hari ini. Para elit yang kini berperan sebagai pemegang kekuasaan sengaja membelah rakyatnya.
Kelompok-kelompok yang terbentuk akibat pembelahan tersebut kemudian dibenturkan satu sama lain, dan para elit memetik hasilnya dalam bentuk suara yang dikonversi menjadi kursi parlemen. Lalu rakyat dapat apa? Rakyat, yaitu saya dan anda sekalian hanya mendapatkan sentimen identitas yang tidak berkesudahan.
Benturan-benturan semacam ini sejatinya kerap kali terjadi. Pilkada DKI Jakarta tahun 2017 dan Pemilu di tahun 2019 telah memperlihatkan begitu dalamnya dampak dari pembelahan dan benturan yang terjadi. Politisasi SARA jadi bahan yang sangat ‘gurih’ untuk diolah menjadi pemicu pembelahan dan benturan. Perbedaan yang hadir bukannya menyatukan, justru perbedaan menjadi kunci membelah masyarakat.
Bagi Agnes Heller dalam Syafuan Rozi & tim menyebutkan bahwa politik identitas secara sederhana dapat dimaknai sebagai strategi politik yang memfokuskan pada pembedaan dan pemanfaatan ikatan primordial sebagai kategori utama. Ia juga menambahkan di satu sisi politik identitas mampu memunculkan toleransi dan kebebasan. Namun di sisi lain, politik identitas juga dapat memunculkan pola-pola intoleransi, kekerasan verbal-fisik, dan juga pertentangan etnik dalam kehidupan bermasyarakat.
Berangkat dari apa yang disebutkan oleh Agnes Heller, maka keberagaman suku, adat, tradisi, budaya, dan agama yang dimiliki Indonesia menjadi ladang subur bagi politik identitas. Apalagi aspeknya sangat beragam. Penggunaan politik identitas tentang simbol etnik, agama, ataupun masalah-masalah lainnya menjadi sebuah strategi untuk mendapatkan dukungan di saat Pemilu.
Politik identitas sebenarnya hadir di ruang-ruang nyata. Jadi, politik tidak hanya bicara soal hukum, undang-undang, dan institusi pengambil keputusan. Tetapi politik juga berada dalam ruang-ruang kontestasi atau pertarungan kekuasaan politik melalui kekuatan kultural, sosial, ekonomi, dan politik yang bersifat informal dan tidak kasat mata. Hal-hal yang tidak kasat mata semacam inilah yang memiliki dampak dan berpengaruh dalam proses pengambilan keputusan di isu-isu strategis.
Baiklah, kembali ke lato-lato. Sebagai sebuah permainan, lato-lato memberi banyak dampak positif. Lato-lato mampu mengalihkan perhatian anak-anak Indonesia dari gawainya untuk sementara waktu, dan sibuk memamerkan kemampuannya di depan teman sepermainannya.
Namun apabila konsep permainan ini di bawa ke ranah politik, maka ancaman disintegrasi bangsa akan kembali muncul ke permukaan. Saya juga dibuat heran saat mendengar bahwa salah satu partai politik baru yang berhasil menjadi peserta Pemilu, secara sadar mendeklarasikan diri untuk menggunakan politik identitas sebagai strateginya.
Bagi saya politik identitas tidak bisa dihindarkan—politik identitas adalah sebuah keniscayaan selama bangsa ini menganut sistem demokrasi. Hal yang paling penting adalah bagaimana kita mendewasakan diri, sehingga saya dan anda semua dapat bersikap bijak ketika dihadapkan dengan elit politik yang menggunakan politik identitas demi kepentingan pribadi dan kelompoknya.
Lato-lato dalam politik hanyalah sebuah analogi saja, lalu bagaimana menurut kalian soal politik identitas? [T]
DERU puluhan sepeda motor bergema dari arah utara Kota Singaraja pada Senin, 29 Juni 2026. Satu per satu kendaraan itu bergerak perlahan melintasi Jalan Ngurah Rai menuju Gedung D...
Bali Kembali Diserang, Kali Ini Tanpa Ledakan
TANGGAL 12 Oktober 2002 menjadi salah satu hari paling kelam dalam sejarah Bali. Ledakan bom merenggut ratusan nyawa dan menggunca...
NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan usaha, hingga berbagai tr...
PEMBACA tak perlu mengukur jarak antara Plaju dan Hawkins, apalagi harus repot-repot mencari tahu apa yang hendak dihidangkan di sana, sebab keniscayaan yang akan pembaca dapati....
HAMPIR saja tim nasional sepak bola Republik Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026 yang dihelat di tiga negara, Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Iya, hampir saja. Itu berarti b...
Ketika anak-anak itu bermain riang, ruang Gedung Mario berubah menjadi area interaktif, sangat dinamis dan terkesan lebih hidup. Langit-langit tinggi dan tiang-tiang bangunan ikut...
KEMBALINYA seni Arja di Banjar Bukit Buwung, Kesiman, tidak dapat dipahami semata sebagai upaya revitalisasi kesenian tradisional, melainkan sebagai proses pemulihan roh kebudayaa...
IRONI terbesar abad ke-21 mungkin bukan ketika mesin mulai mampu berbicara. Ironinya justru ketika mesin mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang telah lama berhenti diajukan m...
PADA tahun 1999 sampai 2005 saya sempat membantu Bre Redana, mengkurasi karya-karya seni rupa yang berdialog dengan cerpen. Waktu itu, Bre Redaktur Kompas Minggu.
Bagi saya, it...