SAYA AWALI tulisan ini dengan sebuah pertanyaan:“Apakah kehidupan seorang perempuan sebelum dan sesudah menikah itu berbeda?” Jawabannya jelas sangat berbeda. Berbeda bukan karena situasinya saja, melainkan juga kondisinya. Yang awalnya mungkin hanya memikirkan diri sendiri, setelah menikah harus memikirkan suami. Tidak sampai di situ, tanggung jawab seorang perempuan setelah menikah juga semakin bertambah.
Lantas, seperti apa peran dan tanggung jawab seorang perempuan sebelum dan sesudah menikah?
Berbicara soal ini, perempuan yang belum menikah biasanya memiliki sifat yang lebih manja daripada yang sudah menikah. Sebabnya karena orang tua masih bertanggung jawab atas kehidupannya, baik dari segi ekonomi maupun pendidikan. Sehingga, pada masa ini, seorang perempuan hanya memiliki peran dan tanggung jawab untuk menyelesaikan pendidikan─dan berbakti kepada kedua orang tua.
Namun, kita juga tak boleh menutup mata, bahwa banyak juga perempuan yang sebelum menikah sudah bisa mandiri─bahkan tanggung jawabnya seperti perempuan yang sudah menikah. Pertanyaannya, “mengapa demikian?” Karena tak sedikit perempuan─yang kadang usianya belum beranjak dewasa─sudah menjadi tulang punggung keluarganya.
Hal itu bisa jadi disebabkan karena faktor ekonomi atau bisa juga disebabkan karena kedua orang tuanya sudah tiada, sehingga mau tidak mau, untuk melanjutkan kehidupan ia harus bekerja.
Kehidupan perempuan sebelum menikah biasanya juga lebih bebas untuk melakukan atau menjalani apa pun yang dia mau─yang sesuai kata hatinya, entah itu dalam lingkup keluarga, pertemanan atau komunitasnya.
Dan hal tersebut tak jarang berakibat buruk untuk diri seorang perempuan. Narkoba, miras, sex bebas─yang pada akhirnya menyebabkan hamil di luar nikah, terpaksa nikah muda.
Akan tetapi, sekali lagi, banyak juga perempuan, sebelum menikah, yang berhasil menggapai cita-citanya. Buka usaha sendiri, memiliki pekerjaan atau jabatan sesuai yang diinginkan, dan sebagainya─yang biasanya dijuluki sebagai perempuan atau wanita karier.
Berbicara soal wanita karier, menurut saya, itu adalah seorang wanita yang memiliki pekerjaan dan mandiri secara finansial, baik bekerja membuka usaha sendiri, atau bekerja pada orang/perusahaan lain.
Tak sedikit pula perempuan yang belum menikah sudah menjadi wanita karier, bahkan ada juga wanita yang lebih mementingkan kariernya daripada menikah. Mengapa demikian? Karena merasa lebih bebas melakukan apa saja sendiri, seolah-olah tak membutuhkan bantuan orang lain─dan beranggapan bahwa ketika ia menikah akan ada yang mengaturnya, dan itu membuatnya tidak bebas lagi.
***
Ah, lalu, pertanyaan selanjutnya adalah: mana yang lebih baik, setelah menikah, seorang perempuan menjadi wanita karier, ibu rumah tangga atau justru keduanya?
Dari pandangan orang-orang sekitar yang saya lihat, dengar, dan amati, bahwa setelah menikah, wanita memang berhak memilih menjadi apa saja, tentu atas adanya kesepakatan antara suami dan istri terlebih dahulu.
Yang jelas, ada yang dipilih, tentu ada yang dikorbankan. Misalnya, banyak perempuan yang setelah menikah memilih menjadi wanita karier, tapi melupakan kewajibannya sebagai seorang istri─yang pada akhirnya menjadi pemicu hancurnya rumah tangga.
Ada pula wanita setelah menikah lebih memilih menjadi Ibu Rumah Tangga (IRT), memilih fokus pada keluarga kecilnya─untuk melayani suaminya dengan baik, mengurus rumah, dan fokus pada perkembangan anaknya.
Akan tetapi, banyak yang salah paham di sini. IRT dianggap seperti ART alias asisten rumah tangga atau bisa disebut pembantu─yang bisa disuruh-suruh, harus melakukan semua pekerjaan rumah sediri. Padahal, pekerjaan rumah tidak harus dikerjaan oleh seorang istri saja, tetapi bisa juga dikerjakan oleh seorang suami, atau dikerjakan secara bersama-sama. Kodrat kewajiban seorang perempuan itu hanya ada 3: hamil, melahirkan, dan menyusui. Untuk pekerjaan lainnya bisa dikerjakan secara bersamaan.
Selain dua pilihan di atas, ada juga perempuan yang memilih keduanya. Ia bisa memerankan dua hal sekaligus: menjadi Ibu Rumah Tangga (IRT) sekaligus wanita karier. Di samping mengembangkan kariernya─untuk membantu meringankan beban ekonomi keluarganya─ia juga menjadi istri untuk suaminya sekaligus ibu untuk anak-anaknya─melayani suami dengan baik, dan menjadi ibu yang hebat untuk tumbuh kembang anaknya.
Pada intinya, perempuan berhak memilih yang terbaik untuk kehidupannya, baik untuk diri sendiri maupun untuk keluarga. Yang terpenting mampu mengimbangi semuanya, jangan sampai salah satu pincang. Dan juga, harus paham risiko-risiko yang akan diambil dalam keputusannya.
Untuk wanita yang sudah berkeluarga, apa pun yang akan Anda lakukan, berdiskusilah terlebih dahulu dengan pasangan Anda. Berikanlah alasan-alasan yang logis untuk misalnya kenapa Anda memilih untuk menjadi wanita karier, ibu rumah tangga, atau memilih menjalani keduanya. Sebab, dalam rumah tangga, komunikasi itu sangat penting. Saya yakin, kalau cara menyampaikannya baik, tujuannya baik, itu tak akan menjadi duri dalam rumah tangga.[T]
SINGARAJA – TATKALA.CO | Wajah baru kawasan Titik Nol Kota Singaraja mulai terlihat. Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, didampingi Wakil Bupati Buleleng Gede Supriatna serta Ketu...
DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari Kabupaten Buleleng tampil dalam ajang Pesta Kesenian Bal...
SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan di kawasan Gedong Kirtya, Sin...
PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang murung, keduanya kembali bertemu ket...
“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya.
Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru saja pulang kerja mendapat pesan Instagram dari t...
PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita?
Sungguh menarik mengamati bagai...
TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih dalam, bagaimana seorang penuli...
LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan seni karawitan Bali. Ajang ini tidak ha...
BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade) Busana Adat pada Pesta Kesenian Bal...
Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman
TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan hari tersebut sebagai In...