Rumor Demo 4 November - Provokasi Media dan Jurnalisme Damai
KEMARIN banyak yang bertanya, “Benar akan ada demonstrasi besar-besaran 4 November nanti?” “Demo penistaan agama di Jakarta?” “Isu yang diseret-seret ke ranah politik.” Bukan orang...
SAYA AWALI tulisan ini dengan sebuah pertanyaan: “Apakah kehidupan seorang perempuan sebelum dan sesudah menikah itu berbeda?” Jawabannya jelas sangat berbeda. Berbeda bukan karena situasinya saja, melainkan juga kondisinya. Yang awalnya mungkin hanya memikirkan diri sendiri, setelah menikah harus memikirkan suami. Tidak sampai di situ, tanggung jawab seorang perempuan setelah menikah juga semakin bertambah.
Lantas, seperti apa peran dan tanggung jawab seorang perempuan sebelum dan sesudah menikah?
Berbicara soal ini, perempuan yang belum menikah biasanya memiliki sifat yang lebih manja daripada yang sudah menikah. Sebabnya karena orang tua masih bertanggung jawab atas kehidupannya, baik dari segi ekonomi maupun pendidikan. Sehingga, pada masa ini, seorang perempuan hanya memiliki peran dan tanggung jawab untuk menyelesaikan pendidikan─dan berbakti kepada kedua orang tua.
Namun, kita juga tak boleh menutup mata, bahwa banyak juga perempuan yang sebelum menikah sudah bisa mandiri─bahkan tanggung jawabnya seperti perempuan yang sudah menikah. Pertanyaannya, “mengapa demikian?” Karena tak sedikit perempuan─yang kadang usianya belum beranjak dewasa─sudah menjadi tulang punggung keluarganya.
Hal itu bisa jadi disebabkan karena faktor ekonomi atau bisa juga disebabkan karena kedua orang tuanya sudah tiada, sehingga mau tidak mau, untuk melanjutkan kehidupan ia harus bekerja.
Kehidupan perempuan sebelum menikah biasanya juga lebih bebas untuk melakukan atau menjalani apa pun yang dia mau─yang sesuai kata hatinya, entah itu dalam lingkup keluarga, pertemanan atau komunitasnya.
Dan hal tersebut tak jarang berakibat buruk untuk diri seorang perempuan. Narkoba, miras, sex bebas─yang pada akhirnya menyebabkan hamil di luar nikah, terpaksa nikah muda.
Akan tetapi, sekali lagi, banyak juga perempuan, sebelum menikah, yang berhasil menggapai cita-citanya. Buka usaha sendiri, memiliki pekerjaan atau jabatan sesuai yang diinginkan, dan sebagainya─yang biasanya dijuluki sebagai perempuan atau wanita karier.
Berbicara soal wanita karier, menurut saya, itu adalah seorang wanita yang memiliki pekerjaan dan mandiri secara finansial, baik bekerja membuka usaha sendiri, atau bekerja pada orang/perusahaan lain.
Tak sedikit pula perempuan yang belum menikah sudah menjadi wanita karier, bahkan ada juga wanita yang lebih mementingkan kariernya daripada menikah. Mengapa demikian? Karena merasa lebih bebas melakukan apa saja sendiri, seolah-olah tak membutuhkan bantuan orang lain─dan beranggapan bahwa ketika ia menikah akan ada yang mengaturnya, dan itu membuatnya tidak bebas lagi.
***
Ah, lalu, pertanyaan selanjutnya adalah: mana yang lebih baik, setelah menikah, seorang perempuan menjadi wanita karier, ibu rumah tangga atau justru keduanya?
Dari pandangan orang-orang sekitar yang saya lihat, dengar, dan amati, bahwa setelah menikah, wanita memang berhak memilih menjadi apa saja, tentu atas adanya kesepakatan antara suami dan istri terlebih dahulu.
Yang jelas, ada yang dipilih, tentu ada yang dikorbankan. Misalnya, banyak perempuan yang setelah menikah memilih menjadi wanita karier, tapi melupakan kewajibannya sebagai seorang istri─yang pada akhirnya menjadi pemicu hancurnya rumah tangga.
Ada pula wanita setelah menikah lebih memilih menjadi Ibu Rumah Tangga (IRT), memilih fokus pada keluarga kecilnya─untuk melayani suaminya dengan baik, mengurus rumah, dan fokus pada perkembangan anaknya.
Akan tetapi, banyak yang salah paham di sini. IRT dianggap seperti ART alias asisten rumah tangga atau bisa disebut pembantu─yang bisa disuruh-suruh, harus melakukan semua pekerjaan rumah sediri. Padahal, pekerjaan rumah tidak harus dikerjaan oleh seorang istri saja, tetapi bisa juga dikerjakan oleh seorang suami, atau dikerjakan secara bersama-sama. Kodrat kewajiban seorang perempuan itu hanya ada 3: hamil, melahirkan, dan menyusui. Untuk pekerjaan lainnya bisa dikerjakan secara bersamaan.
Selain dua pilihan di atas, ada juga perempuan yang memilih keduanya. Ia bisa memerankan dua hal sekaligus: menjadi Ibu Rumah Tangga (IRT) sekaligus wanita karier. Di samping mengembangkan kariernya─untuk membantu meringankan beban ekonomi keluarganya─ia juga menjadi istri untuk suaminya sekaligus ibu untuk anak-anaknya─melayani suami dengan baik, dan menjadi ibu yang hebat untuk tumbuh kembang anaknya.
Pada intinya, perempuan berhak memilih yang terbaik untuk kehidupannya, baik untuk diri sendiri maupun untuk keluarga. Yang terpenting mampu mengimbangi semuanya, jangan sampai salah satu pincang. Dan juga, harus paham risiko-risiko yang akan diambil dalam keputusannya.
Untuk wanita yang sudah berkeluarga, apa pun yang akan Anda lakukan, berdiskusilah terlebih dahulu dengan pasangan Anda. Berikanlah alasan-alasan yang logis untuk misalnya kenapa Anda memilih untuk menjadi wanita karier, ibu rumah tangga, atau memilih menjalani keduanya. Sebab, dalam rumah tangga, komunikasi itu sangat penting. Saya yakin, kalau cara menyampaikannya baik, tujuannya baik, itu tak akan menjadi duri dalam rumah tangga.[T]
KEMARIN banyak yang bertanya, “Benar akan ada demonstrasi besar-besaran 4 November nanti?” “Demo penistaan agama di Jakarta?” “Isu yang diseret-seret ke ranah politik.” Bukan orang...
Hai Gess! Kenken Kabare, Gess? Nu inget nyoblos, Gess? Calon Tunggal di Buleleng jani, Gess. Memusuh jak KOTAK KOSONG, Gess. Musuh ngenah aluh ngelawan! Musuh sing ngenah, kaden al...
Sekilas MEA ASEAN sebagai pasar tunggal kemudian disebut Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), seperti dimuat pada laman Kementerian Luar Negeri RI (www.kemlu.go.id), Selasa 17 Maret 20...
BELAJAR dari figur dan tokoh perempuan, itulah barangkali pesan utama dari buku kumpulan cerpen berbahasa Bali terbaru I Made Suarsa, “Luh-Luh”. Buku ini memuat 19 cerpen yang kese...
Dear para jomblo di muka Bumi ini, Aku adalah kawanmu yang masih setia. Menjomblo bersama kalian adalah sebuah anugerah tak terbatas. Terima kasih karena kalian juga masih setia...
TIDAK banyak yang mengira bahwa kini masyarakat Eropa ternyata malas dalam mempelajari bahasa asing. Meski perkembangan pendidikan di Eropa sangatlah pesat, siapa sangka bahwa mere...
Prodi Pendidikan Seni Rupa, FBS, Undiksha, Singaraja, menggelar pameran bertajuk “Qilin” (Membaca Sosial Budaya Warga Pecinan Kota Singaraja) di Neka Art Museum, Jalan Sanggingan C...
SARJANA. Bak mobil yang telah turun kastanya dari kebutuhan tersier menjadi kebutuhan primer. Sarjanapun, maknanya semakin memudar. Terlalu banyak sarjana modern yang merasa sal...
ANDA pernah jatuh cinta? Baiklah, yang sudah pernah jatuh cinta sebelumnya pasti akan mengerti tentang pembahasan kali ini. Jika belum pernah, sayang sekali, anda hanya akan bisa...
Cerpen: Komang AstiariAKU rindu kampung halaman. Aku rindu nenek. Kepergiannya masih menyakitkan bagiku, batinku belum mampu menerima dia sudah pergi, selamanya. Apakah Tuhan mengg...