’Free Bird’: Manusia Merdeka dalam Kandang Wi-Fi
If I leave here tomorrow, would you still remember me? Pertanyaan dalam lagu Free Bird Lynyrd Skynyrd itu terdengar sederhana, tetapi di zaman kontemporer ia menjelma gugatan eksi...
PEREMPUAN ADALAH sosok istimewa yang diciptakan Tuhan. Perempuan layak untuk dihargai dan dihormati.
Namun seringkali perempuan hanyalah dipandang sebelah mata. Perempuan hanya bekerja di dapur, atau bahkan perempuan hanyalah dianggap budak seks bagi laki-laki.
Jika dalam buku-buku sejarah sudah banyak terjadi fenomena-fenomena kekerasan pada perempuan, maka Eka Kurniawan menyuguhkan sebuah novel berjudul “Lelaki Harimau”.
Novel yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama (2004) ini menghidangkan kisah-kisah perempuan yang mengalami kekerasan fisik dan juga kekerasan bathin.
Dalam novel ini terdapat dua keluarga yang berbeda kasta. Yakni keluarga Komar Bin Syueb yang terdiri dari istrinya Nuraeni, dan tiga anaknya yaitu Margio, Mameh, dan Marian. Dan satu lagi adalah keluarga dari Anwar Sadat yang terdiri dari istrinya Kasia, dan tiga anak perempuan yaitu Laila, Maesa Dewi, dan Maharani. Namun sayangnya pertemuan dua keluarga ini melahirkan sebuah tragedi.
Dunia patriarki mengingatkan saya pada sinetron di TV. Ya pada hampir tiap episodenya menyuguhkan tentang perempuan yang menjadi korban monster patriarki. Perempuan seolah-olah terjebak dalam penjara dunia patriarki itu. Perempuan itu manusia. Ia juga memiliki hak yang sama seperti lelaki.
B.J. Habibie pernah berkata, “Tak perlu yang sempurna, cukup temukan orang yang selalu membuat anda bahagia dan berarti lebih dari siapa pun”.
Ya, mantan Presiden yang satu ini merupakan orang sangat amat menghargai wanitanya, Bu Ainun. Sosok Bu Ainun adalah wanita beruntung yang menemukan pangeran baik hati.
Setiap Pak Habibie pulang, Bu Ainun sudah menunggu di depan, dan saat Pak Habibie turun dari kereta kaki empatnya itu mereka akan bergandengan tangan masuk ke dalam istananya.
Namun Nuraeni, dalam novel Lelaki Harimau, tak seberuntung Bu Ainun. Jika Komar Bin Syueb, suaminya, pulang setelah mencukur clien-nya, Nuraeni tak akan mendapat senyuman manis dari Komar atau bahkan bergandengan tangan menuju rumahnya, melainkan hadiah rotanlah yang akan diterimanya.
Nuraeni adalah gadis cantik. Ia dipinang bak pernikahan gambaran jaman Siti Nurbaya. Orang tua selalu ingin yang terbaik untuk anaknya namun tak semua pilihan orang tua itu juga baik. Kala Nuraeni berumur enam belas tahun, usia yang masih dini, ia sudah harus duduk di pelaminan bersama lelaki yang empat belas tahun lebih tua dari usianya. Ia adalah Komar Bin Syueb.
Keinginan untuk berbakti pada orang tuanya memaksa Nuareni duduk di samping Komar saat bejabat tangan dengan penghulu.
“Nyai, kelak kau akan menikah dengan Komar Bin Syueb” --hlm 96
Sejak awal pernikahan inilah kisah bak film The Invisible Man dimulai, Di rumah 131 reot milik seorang janda veteran bernama Ma Rabiah ini terekam kisah pilu Nuraeni yang selalu ditonton Margio dan Mameh anaknya, dan setiap hari-hari berlalu selalu diwarnai dengan pukulan dan sabetan rotan.
Itulah yang membuat Nuraeni seperti orang sinting, tingkah aneh berbicara pada panci dan kompor yang ada di dapurnya sudah menjadi ritual yang dilakukannya setiap hari. Jika bagi setiap pasutri, seks menjadi obat stress, tetapi itu tidak berlaku bagi Nuraeni.
Nuraeni tak pernah menikmati indahnya surga dunia ketika melakukan senggama dengan suaminya. Lelaki bengis itu hanya memuaskan nafsunya saja, tidak peduli apa yang dirasakan istrinya.
Nuraeni adalah wanita yang begitu malang, kekerasan demi kekerasan yang dialaminya tidak dapat terelakkan. Jika dalam perang Bharata Yudha, Abimanyu tidak dapat keluar dalam sangkar Cakrabyuha, maka Nuraeni tidak dapat keluar dari sangkar patriarki ini.
Bercinta memang hal yang diidam-idamkan setiap pasangan, namun rasa enggan nuraeni ketika bercinta dengan Komar membuatnya tidak pernah menikmati getaran-getaran cinta yang dinginkan Nuraeni. Komar kerap kali melemparkan dan menyetubuhi Nuraeni layaknya Ia sedang diperkosa.
“Ayahmu Anwar Sadat meniduri ibuku Nuraeni, dan lahirlah si gadis kecil yang mati di hari ke tujuh Bernama Marian, sebab ayahku mengetahuinya dan memukuli ibuku hingga Marian lahir bahkan telah sekarat,” kata Margio pada Maharani (hal 186)
Bibit-bibit patriarki yang membudaya pada masyarakat akhirnya menjadi alat untuk seseorang melakukan penindasan serta kekerasan pada perempuan. Perlakuan kasar yang kerap diterima Nuraeni menyebabkan ia berpaling pada lelaki hidung belang Anwar Sadat.
Rayuan manis bak madu membuat wanita melayang ke angkasa, namun wanita tidak sadar ada udang di balik batu. Hasil senggama Nuareni dan Anwar Sadat telah membuahkan jabang bayi. Hal ini membuat Nuraeni kembali mendapat kekerasan dari Komar sedangkan Anwar sendiri tidak memperdulikan Nuraeni lagi.
Sementara Kasia, perempuan yang berprofesi sebagai bidan juga merupakan anak dari orang yang kaya raya. Ia dipersunting oleh seniman yang bernama Anwar Sadat, berbeda dengan lelaki pada umumnya yang membanting tulang untuk istri dan anaknya, lelaki simbiosis parasitisme ini hanya menjadi benalu dalam kehidupan Kasia.
Namun nasib Kasia lebih beruntung dari pada Nuraeni. Ia tidak pernah mendapat perlakuan kasar, tetapi perilaku suaminya juga sama menjijikannya dengan Komar Bin Syueb, suami mata keranjangnya itu kerap jajan di luar rumah.
Nuraeni maupun Kasia adalah dua wanita korban patriarki, nasib mereka tidak jauh berbeda, tetapi keduanya adalah wanita tangguh yang mampu menjalani kekerasan dan sakit hati dari suami yang menjadi parasit dalam kehidupannya.
Nuraeni yang mendapat perlakuan kasar dari suaminya dan Kasia yang harus menerima kenyataan bahwa teman hidupnya telah menjadi rafflesia bagi dirinya yang menjadi pohon mangga. Tidak penting seberapa banyak Anwar Sadat bermain perempuan asalkan tidak tercipta jabang bayi.
Pengalaman Nuraeni dan Kasia bukanlah hanya sekedar tayangan suara hati istri dalam sinetron TV lagi, tetapi ini merupakan fenomena sosial yang kerap terjadi.
Masih banyak orang yang mengaggung-agungkan lelaki dan menyepelekan perempuan, karena tugas perempuan dianggap hanya memasak, menjadi budak seks, dan melahirkan anak.
Perspekstif masyarakat seperti inilah yang harus dikesampingkan. Perempuan juga layak untuk mendapat perlakuan sama seperti laki-laki. [T]
If I leave here tomorrow, would you still remember me? Pertanyaan dalam lagu Free Bird Lynyrd Skynyrd itu terdengar sederhana, tetapi di zaman kontemporer ia menjelma gugatan eksi...
SASTRA lama sering kali dipandang sebelah mata, dianggap sebagai artefak usang yang sudah ketinggalan zaman (out of fashion). Namun, sebuah pertanyaan kritis muncul: sejauh mana k...
LEBARAN tahun ini saya tidak ikut larut seperti masyarakat lain mengunjungi objek wisata. Tidak juga berdesak-desakan menghabiskan uang di pusat perbelanjaan. Hari fitri tahun ini...
PANGGUNG itu kecil saja. Tapi cukup untuk menampung ekspresi masyarakat Desa Les, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng. Di atas panggung kecil itu pula, narasi tentang filosofi...
Di tengah hiruk-pikuk malam pengerupukan, sehari menjelang Hari Raya Nyepi Tahun Baru Çaka 1948, ketika ogoh-ogoh diarak dalam gegap gempita, sosok ini justru hadir dalam kea...
BEL istirahat berbunyi. Anak-anak tampak sangat antusias dan sumringah keluar dari kelas melepas jenuh setelah hampir satu jam lamanya duduk menyimak pelajaran. Bebera...
Di Bali, pertanian sawah dan Subak bukan sekadar cara bercocok tanam, melainkan manifestasi dari political will penguasa sejak era awal terbentuknya kerajaan Bali kuno. Ketika...
— Catatan Harian Sugi Lanus, 22 Maret 2026 TAHUN 1995-1997 secara khusus saya mengatur waktu teratur berkunjung ke Ubud dan menginap bahkan tinggal di sana. Niatnya sederha...
YANG orang ingat dari Pramoedya Ananta Toer (Pram) adalah ikhtiarnya untuk menyelamatkan martabat manusia. Ia menulis tentang mereka yang kalah, yang dilindas sejarah besar....
Di hari yang seharusnya penuh pelukan, tidak semua orang benar-benar merasa pulang. Lebaran selalu datang dengan janji yang sama. Tentang maaf, tentang kembali, tentang kebahag...