Komunitas Perempuan Bali Utara Rayakan Pikiran Kartini
Di antara program Kartini sepanjang bulan April 2026, ada yang berbeda yang dilakukan oleh salah satu komunitas perempuan di Buleleng yaitu Komunitas Perempuan Bali Utara (KPBU)....
PEREMPUAN ADALAH sosok istimewa yang diciptakan Tuhan. Perempuan layak untuk dihargai dan dihormati.
Namun seringkali perempuan hanyalah dipandang sebelah mata. Perempuan hanya bekerja di dapur, atau bahkan perempuan hanyalah dianggap budak seks bagi laki-laki.
Jika dalam buku-buku sejarah sudah banyak terjadi fenomena-fenomena kekerasan pada perempuan, maka Eka Kurniawan menyuguhkan sebuah novel berjudul “Lelaki Harimau”.
Novel yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama (2004) ini menghidangkan kisah-kisah perempuan yang mengalami kekerasan fisik dan juga kekerasan bathin.
Dalam novel ini terdapat dua keluarga yang berbeda kasta. Yakni keluarga Komar Bin Syueb yang terdiri dari istrinya Nuraeni, dan tiga anaknya yaitu Margio, Mameh, dan Marian. Dan satu lagi adalah keluarga dari Anwar Sadat yang terdiri dari istrinya Kasia, dan tiga anak perempuan yaitu Laila, Maesa Dewi, dan Maharani. Namun sayangnya pertemuan dua keluarga ini melahirkan sebuah tragedi.
Dunia patriarki mengingatkan saya pada sinetron di TV. Ya pada hampir tiap episodenya menyuguhkan tentang perempuan yang menjadi korban monster patriarki. Perempuan seolah-olah terjebak dalam penjara dunia patriarki itu. Perempuan itu manusia. Ia juga memiliki hak yang sama seperti lelaki.
B.J. Habibie pernah berkata, “Tak perlu yang sempurna, cukup temukan orang yang selalu membuat anda bahagia dan berarti lebih dari siapa pun”.
Ya, mantan Presiden yang satu ini merupakan orang sangat amat menghargai wanitanya, Bu Ainun. Sosok Bu Ainun adalah wanita beruntung yang menemukan pangeran baik hati.
Setiap Pak Habibie pulang, Bu Ainun sudah menunggu di depan, dan saat Pak Habibie turun dari kereta kaki empatnya itu mereka akan bergandengan tangan masuk ke dalam istananya.
Namun Nuraeni, dalam novel Lelaki Harimau, tak seberuntung Bu Ainun. Jika Komar Bin Syueb, suaminya, pulang setelah mencukur clien-nya, Nuraeni tak akan mendapat senyuman manis dari Komar atau bahkan bergandengan tangan menuju rumahnya, melainkan hadiah rotanlah yang akan diterimanya.
Nuraeni adalah gadis cantik. Ia dipinang bak pernikahan gambaran jaman Siti Nurbaya. Orang tua selalu ingin yang terbaik untuk anaknya namun tak semua pilihan orang tua itu juga baik. Kala Nuraeni berumur enam belas tahun, usia yang masih dini, ia sudah harus duduk di pelaminan bersama lelaki yang empat belas tahun lebih tua dari usianya. Ia adalah Komar Bin Syueb.
Keinginan untuk berbakti pada orang tuanya memaksa Nuareni duduk di samping Komar saat bejabat tangan dengan penghulu.
“Nyai, kelak kau akan menikah dengan Komar Bin Syueb” --hlm 96
Sejak awal pernikahan inilah kisah bak film The Invisible Man dimulai, Di rumah 131 reot milik seorang janda veteran bernama Ma Rabiah ini terekam kisah pilu Nuraeni yang selalu ditonton Margio dan Mameh anaknya, dan setiap hari-hari berlalu selalu diwarnai dengan pukulan dan sabetan rotan.
Itulah yang membuat Nuraeni seperti orang sinting, tingkah aneh berbicara pada panci dan kompor yang ada di dapurnya sudah menjadi ritual yang dilakukannya setiap hari. Jika bagi setiap pasutri, seks menjadi obat stress, tetapi itu tidak berlaku bagi Nuraeni.
Nuraeni tak pernah menikmati indahnya surga dunia ketika melakukan senggama dengan suaminya. Lelaki bengis itu hanya memuaskan nafsunya saja, tidak peduli apa yang dirasakan istrinya.
Nuraeni adalah wanita yang begitu malang, kekerasan demi kekerasan yang dialaminya tidak dapat terelakkan. Jika dalam perang Bharata Yudha, Abimanyu tidak dapat keluar dalam sangkar Cakrabyuha, maka Nuraeni tidak dapat keluar dari sangkar patriarki ini.
Bercinta memang hal yang diidam-idamkan setiap pasangan, namun rasa enggan nuraeni ketika bercinta dengan Komar membuatnya tidak pernah menikmati getaran-getaran cinta yang dinginkan Nuraeni. Komar kerap kali melemparkan dan menyetubuhi Nuraeni layaknya Ia sedang diperkosa.
“Ayahmu Anwar Sadat meniduri ibuku Nuraeni, dan lahirlah si gadis kecil yang mati di hari ke tujuh Bernama Marian, sebab ayahku mengetahuinya dan memukuli ibuku hingga Marian lahir bahkan telah sekarat,” kata Margio pada Maharani (hal 186)
Bibit-bibit patriarki yang membudaya pada masyarakat akhirnya menjadi alat untuk seseorang melakukan penindasan serta kekerasan pada perempuan. Perlakuan kasar yang kerap diterima Nuraeni menyebabkan ia berpaling pada lelaki hidung belang Anwar Sadat.
Rayuan manis bak madu membuat wanita melayang ke angkasa, namun wanita tidak sadar ada udang di balik batu. Hasil senggama Nuareni dan Anwar Sadat telah membuahkan jabang bayi. Hal ini membuat Nuraeni kembali mendapat kekerasan dari Komar sedangkan Anwar sendiri tidak memperdulikan Nuraeni lagi.
Sementara Kasia, perempuan yang berprofesi sebagai bidan juga merupakan anak dari orang yang kaya raya. Ia dipersunting oleh seniman yang bernama Anwar Sadat, berbeda dengan lelaki pada umumnya yang membanting tulang untuk istri dan anaknya, lelaki simbiosis parasitisme ini hanya menjadi benalu dalam kehidupan Kasia.
Namun nasib Kasia lebih beruntung dari pada Nuraeni. Ia tidak pernah mendapat perlakuan kasar, tetapi perilaku suaminya juga sama menjijikannya dengan Komar Bin Syueb, suami mata keranjangnya itu kerap jajan di luar rumah.
Nuraeni maupun Kasia adalah dua wanita korban patriarki, nasib mereka tidak jauh berbeda, tetapi keduanya adalah wanita tangguh yang mampu menjalani kekerasan dan sakit hati dari suami yang menjadi parasit dalam kehidupannya.
Nuraeni yang mendapat perlakuan kasar dari suaminya dan Kasia yang harus menerima kenyataan bahwa teman hidupnya telah menjadi rafflesia bagi dirinya yang menjadi pohon mangga. Tidak penting seberapa banyak Anwar Sadat bermain perempuan asalkan tidak tercipta jabang bayi.
Pengalaman Nuraeni dan Kasia bukanlah hanya sekedar tayangan suara hati istri dalam sinetron TV lagi, tetapi ini merupakan fenomena sosial yang kerap terjadi.
Masih banyak orang yang mengaggung-agungkan lelaki dan menyepelekan perempuan, karena tugas perempuan dianggap hanya memasak, menjadi budak seks, dan melahirkan anak.
Perspekstif masyarakat seperti inilah yang harus dikesampingkan. Perempuan juga layak untuk mendapat perlakuan sama seperti laki-laki. [T]
Di antara program Kartini sepanjang bulan April 2026, ada yang berbeda yang dilakukan oleh salah satu komunitas perempuan di Buleleng yaitu Komunitas Perempuan Bali Utara (KPBU)....
PERINGATAN 100 tahun kelahiran sastrawan Bali modern I Made Sanggra diselenggarakan secara khidmat di kediamannya di Sukawati, bertepatan dengan hari Purnama. Perayaan ini menjadi...
PASAR ponsel pintar di Indonesia kembali diramaikan oleh kehadiran perangkat yang mendobrak batas kewajaran spesifikasi di kelasnya. Infinix Note 60 Ultra hadir sebagai jawaban...
TIAP tanggal satu Mei tiba, ingatan kita biasanya langsung tertuju pada lautan manusia di jalanan protokol Jakarta. Memori kita terikat pada kepalan tangan yang terangkat, dan sua...
FENOMENA viralnya lagu “Siti Mawarni Ya Incek” tidak bisa dibaca sekadar lagu hiburan digital yang lewat begitu saja. Ia adalah gejala sosial, sebuah letupan emosi kolektif yang m...
SETELAH hampir satu dekade tenggelam dalam kesibukan masing-masing, SWR Bali akhirnya kembali menyapa pendengar dengan karya terbaru bertajuk “Palas”. Band asal Tabanan ini tidak...
SUASANA pagi pada Kamis, 30 April 2026, di Wantilan Kuari, Jimbaran, terasa berbeda. Bukan sekadar hiruk-pikuk aktivitas yang terdengar sejak pukul 07.30 Wita, melainkan juga hara...
Dia luka yang tidak pernah benar-benar terlihat dalam putusan pengadilan berkaitan dengan pembagian harta gono gini dalam perpisah/pecahnya perkawinan karena perceraian. Luk...
Ilmuwan di Persimpangan Zaman Nama J. Robert Oppenheimer selalu menghadirkan paradoks: seorang ilmuwan jenius yang sekaligus menjadi simbol kegelisahan moral modern. Ia bukan s...
SEJAK dibentuk pada 2008 di Bali, Dialog Dini Hari konsisten mempertahankan pendekatan musik yang tenang dan reflektif. Kini, band indie folk tersebut merilis “Di Jumah”, sebuah l...