Belajar Kesetiaan dari Anjing Bali
JANGAN mengaku setia kalau belum pelihara anjing bali. Jangan mengaku pecinta anjing kalau makan daging anjing. Jangan mengaku petugas peternakan kalau kerjanya membunuh anjing sem...
PERJALANAN BANGSA KITA sangat panjang. Dalam perjalanan bangsa kita yang panjang itu, kita bisa memetik berbagai bahan renungan sekaligus memetik hikmahnya.
Bung Karno dengan JASMERAH-nya sudah mengingatkan kita, bahwa jangan sekali-kali melupakan sejarah. Karena dalam sejarah tertulis sebuah rangkaian perjalanan, baik sejarah sebagai individu, sejarah kelompok, atau sejarah dalam komunitas besar. Dan perjalanan sejarah itu adalah perjalanan sebuah bangsa yang besar.
Orang bijak bilang, mari belajar dari pengalaman.
Mari melihat ke belakang. Melihat bagaimana perjalanan bangsa kita sejak dulu. Saat armada VOC datang ke Nusantara, armada itu hanya membawa ratusan orang yang dipimpin oleh Cornelis de Houtman tahun 1596. Mereka dengan mudah mendarat dan disambut dengan damai.
Pada tahun 1622, VOC sudah memiliki 143 anggota pasukan keamanan, yang terdiri dari hanya 57 orang Belanda, sementara sisanya sejumlah tenaga bayaran dari sejumlah negara di Eropa.
Selama 300 tahun Belanda menguasai Indonesia. Pada tahun 1930 jumlah penduduk Indonesia 60,7 juta jiwa, dengan komposisi 59,1 juta jiwa penduduk pribumi sedangkan 240.417 jiwa orang Belanda.
Jadi sangat sedikit sekali sebenarnya jumlah orang Belanda dibandingkan penduduk pribumi. Apalagi kalau kita lihat jumlah aparatnya. Jumlah aparat itu sebenarnya didominasi oleh orang-orang pribumi, dan mereka membantu penuh Pemeritah Belanda.
Dan yang mencengangkan adalah kekuatan tentara Belanda di Indonesia saat itu adalah 45.740 orang. Dan dari jumlah itu, 37.704 orang atau 82,4% adalah pribumi. Sedangkan jumlah polisi Belanda di Indonesia berjumlah 35.840 orang. Sebanyak 34.340 orang atau 95,8% adalah pribumi.
Dari data itu, terlihat sangat meyakinkan kita bahwa kita, Indonesia, dijajah oleh tentara dan polisi anak bangsa sendiri.
Kenapa bisa terjadi hal ini? Karena terjadi fenomena rendahnya modal sosial penduduk Indonesia. Ciri modal sosial rendah adalah tercerai-berainya masyarakat yang disebabkan oleh adanya krisis sosial di masyarakat.
Pertama, krisis kepercayaan yang membuat kita saling curiga antar anak bangsa. Kedua krisis empati yang membuat kita tega dan kurang peduli akan situasi yang dialami oleh saudara kita yang lain. Ketiga, krisis kemanusiaan membuat kita saling membenci antar manusia.
Dan kondisi itulah yang berusaha dipertahankan oleh bangsa penjajah. Dan, kondisi itu pula yang kemudian menyadarkan pejuang-pejuang, para pahlawan, baik pahlawan nasional dan pahlawan revolusi, untuk bangkit. Mereka membangun kesadaran secara kolektif untuk anak-anak bangsa sehingga bangsa kita akhirnya merdeka pada 17 Agustus 1945.
Sejarah itu tentunya tidak saja harus diingat, tapi dimaknai lebih dalam lagi, bahwa nilai rasa senasib, sebangsa, satu tumpah darah, sebagai wujud rasa persatuan dalam perbedaan yang harus terus dikuatkan sebagai modal untuk kita maju.
Nilai persatuan adalah faktor sangat penting yang harus ada di masyarakat agar tercipta kemajuan yang berkelanjutan. Tanpa ada persatuan yang kuat, masyarakat akan kesulitan dalam mencapai tujuan bersama dan mengatasi hambatan yang ada.
Oleh karena itu, setiap individu harus memahami dan memegang teguh nilai persatuan, dan bekerja sama untuk membangun masyarakat yang harmonis dan stabil.
Nilai persatuan itu akan membuat setiap individu akan merasa memiliki peran dan tanggung jawab yang sama dalam membangun kemajuan bersama. Di sinilah akan muncul saling membantu dan bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama.
Dengan begitu, maka bisa disimpulkan nilai persatuan sangat penting bagi kemajuan masyarakat, tanpa adanya persatuan yang kuat, maka masyarakat akan kesulitan dalam mencapai kemajuan yang berkelanjutan.
Ada ungkapan “hanya dengan bersatu kita kuat“ dan sejarah sudah membuktikan, bahwa ketika kita tidak bersatu, maka kita tidak akan bisa maju. Selama 350 tahun kita dijajah dan salah satu alasan kita bisa dijajah sampai berabad-abad karena nilai persatuan tidak ada.
Dan saat ini, di zaman keterbukaan, zaman digitalisasi di mana peran sosial media sangat besar, yang sebenarnya hal ini bisa dimanfaatkan untuk memperkuat dan memperkokoh nilai persatuan itu. Namun kenyataannya justru kita sedang menghadapi ancaman desintegrasi, yang bisa kita saksikan bersama, banyak muncul di dunia maya ujaran saling fitnah, saling hujat, saling menjatuhkan.
Tentunya hal itu menjadi keprihatinan kita bersama. Dan kalau ini tidak diantisipasi, harapan dan tujuan bersama untuk lebih maju tentunya hanya tinggal harapan saja. [T]
BACA artikel lain dari penulis DOKTER CAPUT
JANGAN mengaku setia kalau belum pelihara anjing bali. Jangan mengaku pecinta anjing kalau makan daging anjing. Jangan mengaku petugas peternakan kalau kerjanya membunuh anjing sem...
MAHASISWA baru, di mana pun, mau tak mau, akan mengawali “kuliah” dengan melakukan adaptasi dan pengenalan lingkungan kampus. “Kuliah” awal itu di Indonesia biasa disebut Ospek (Or...
TANGGAL tujuh belas Agustus adalah peringatan, perayaan, dan perenungan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Semua orang tahu itu. Pada tanggal 17 Agustus pada setiap tahunnya, sej...
KALAU seseorang dinilai bicara panjang lebar tetapi tak ada isinya, lazimnya orang itu disebut mengumbar omong kosong. Orang macam begini dianggap lebih buruk tinimbang seorang pen...
KAMPUS adalah tempat kaderisasi bagi para pemimpin bangsa dan negara. Di suatu negara kita mengenal adanya pemerintahan, pada umumnya pemerintahan diselenggarakan dan dijalankan ol...
“DENGAN melewati tahapan hidup dari Sudra menuju Wesya, dari Wesya menuju Satria, dari Satria menuju Brahmana, seseorang mencapai Moksha,” guru saya pernah berucap demikian suatu h...
UNTUK yang ketiga kalinya, saya menginjakkan kaki di Desa Mausamang Kiralela di Kecamatan Alor Timur, NTT. Bersahabat lebih dekat dengan desa ini membuat saya kecanduan untuk pergi...
ADA banyak cara merayakan Kemerdekaan. Seperti warga sekitar sungai Tukad Unda, Klungkung. Di situ, suasana 17 Agustus 2016 berbeda dari sebelumnya. Dari jembatan Tukad Unda terben...
Indonesia tanah airku Tanah tumpah darahku Di sanalah aku berdiri Jadi pandu ibuku ……. TIAP kali menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya atau mencermati teksnya, saya selalu te...
MUNGKIN banyak yang belum tahu bahwa salah satu putra Buleleng ikut berperan dalam terbentuknya Republik Indonesia. Namanya, Mr. I Gusti Ketut Pudja. Dia menjadi satu-satunya waki...