Untuk menyambut Hari Raya Nyepi tahun Caka 1945 Yowana Desa Adat Padangtegal, Ubud menginisiasi parade ogoh-ogoh setelah vakum selama 2 tahun akibat pandemi Covid-19. Adapun tema yang diangkat pada parade tahun ini adalah Jenggala Rupa, Transformasi Bhuta Rupa sebagai pijakan penggarapan karya seni ogoh-ogoh.
Dalam parade ogoh-ogoh tahun ini diikuti oleh empat sekeha teruna dari empat banjar dalam lingkup Desa Adat Padangtegal yaitu Sekeha Teruna Taruna Suka Duka Banjar Padangtegal Kaja, Sekeha Teruna Suka Duka Banjar Padangtegal Mekarsari, Sekeha Teruna Suka Duka Banjar Padangtegal Kelod dan Sekeha Teruna Padang Kencana dari Tempekan Dalem Alit.
Parade tahun ini juga diikuti oleh Sekeha Teruna Putra Maha Dipta Banjar Padangtegal Tengah, Desa Adat Peliatan yang secara teritori wilayahnya berada dalam lingkup Desa Adat Padangtegal.
Kelima ogoh-ogoh hasil karya dari para sekehe teruna tersebut akan dikemas dalam pertunjukan kolaboratif sesuai dengan tema yang diusung.
Foto: Rapat Kordinasi Dengan Kreator Ogoh-Ogoh
Tema Jenggala Rupa, Transformasi Bhuta Rupa dipilih berdasarkan gagasan Jenggala Rupa bermakna wajah ekspresi (rupa) dari seniman Desa Adat Padangtegal (jenggala). Jadi Jenggala Rupa bermakna bentuk ekspresi seni para seniman Desa Adat Padangtegal berdasarkan ciri khas dan keunggulan dari para mestro seni pendahulu seperti Nang Kranjit, I Made Kari, Betara Lepas Ida Pedanda Gde Manuaba, Ida Bagus Rai, Diara, Diari, I Wayan Kaji, I Nyoman Artana, I Ketut Budiana dan yang lainnya.
Bhuta Rupa kemudian dipilih menjadi stimulir kekaryaan ogoh-ogoh yang akan digarap. Dari Bhuta Rupa para kreator ogoh-ogoh dari masing-masing sekehe teruna diberikan stimulan dalam mewujudkan rupa ogoh-ogohnya.
Yowana Desa Adat Padangtegal selaku inisiator dan pelaksana parade ogoh-ogoh bahkan memberikan ruang eksplorasi bentuk, rupa, anatomi dan ornament ogoh-ogoh dengan mengamati patung hasil karya para maestro Desa Adat Padangtegal yang terpajang di Pura Dalem Agung Padangtegal. Hal ini dilakukan selain untuk mengapresiasi karya pendahulu juga memberikan ruang edukasi para seniman muda Padangtegal dalam berkarya kedepannya tidak hanya dalam konteks ogoh-ogoh saja.
Ogoh-ogoh dari masing-masing sekeha teruna akan dipentaskan dalam format pentas bersama. Masing-masing ogoh-ogoh dengan beraneka karakternya dalam merespon Bhuta Rupa diplot memulai dengan bersama kemudian dipecah menjadi bagian-bagian yang terjalin antara satu dengan yang laiinnya. Kemudian masing-masing ogoh-ogoh diberikan bagian dalam bentuk dialog gerak dengan teknis saling stimulus koreografi oleh penggotong dan penari yang melengkapi.
Pada akhir pementasan dilanjutkan dengan seluruh ogoh-ogoh mengitari wilayah Desa Adat Padangtegal yang kemudian mengakhiri parade di Setra Desa Adat Padangtegal yang sebelumnya dilakukan upacara Prelina.
Pelaksana teknis I Kadek Janurangga didampingi oleh Ketua Yowana Desa Padangtegal I Wayan Budi Santika menjelaskan mengenai teknis pelaksanaan pementasan ogoh-ogoh pada saat menyambut Nyepi nanti.
Foto: Sket ogoh-ogoh Yowana Desa Adat Padangtegal, Ubud
Menurut Janurangga, parade kali ini akan dilaksanakan dengan sistem pertunjukan bersama. Sistem pertunjukan ini dilakukan dengan alasan ingin memberikan suatu suguhan pertunjukan yang lebih dapat dinikmati, lebih berkualitas, lebih tertata secara efisiensi waktu dan sistematis. Pertunjukan akan dilaksanakan dengan durasi keseluruhan kurang lebih 90 menit.
“Dengan meringkas pertunjukan menjadi satu kesatuan diharapkan mampu memberikan suguhan yang berkualitas tanpa mengurangi euphoria perayaan pengrupukan,” kata Janurangga.
Sistem itu dialkuakn, kata Janurangga, mengingat seperti yang telah berlangsung di tahun-tahun sebelumnya, pertunjukan yang disajikan nampak belum mendapatkan ruang yang baik sebagai sajian seni pertunjukan.
Keterbatasan ruang serta banyaknya masyarakat yang ingin menyaksikan pertunjukan menjadi bahan pertimbangan kami dalam memilih tema dan sistem pertunjukan dimana kedua hal tersebut berpengaruh terhadap pemilihan ruang pertunjukan.
“Maka dari itu kami di Yowana berinisiasi ingin melaksanakan parade ogoh-ogoh yang berlokasi di depan Coco Mart yakni Pertigaan jalan Hanoman menuju jalan Monkeyforest,” katanya.
Lokasi untuk pertunjukan itu dipilih berdasarkan sistem pertunjukan pararel atau bersama serta untuk memberikan ruang yang layak bagi performance. Tidak hanya bagi arak-arakan ogoh-ogoh, tapi bagi pemeran yang terlibat dalam pertunjukan seperti penari, narator, dan musisi mendapat tempat yang layak untuk menampilkan kreativitasnya.
Maka dari itu untuk menunjang gagasan tersebut ruang yang luas diperlukan dengan pertimbangan sudut pandang ruang pertunjukan yang lebih layak dan juga memberi ruang tontonan yang baik bagi penikmat atau penonton.
Foto: Suasana Rapat Parade Ogoh-Ogoh Desa Adat Padangtegal
Parade ogoh-ogoh yang diselenggarakan oleh Yowana Desa Adat Padangtegal mendapat dukungan penuh dari perangkat adat dan dinas dari Desa Adat Padangtegal secara moril maupun materil.
Dukungan moril berupa regulasi seperti yang disampaikan oleh I Made Parmita selaku Bendesa Adat Padangtegal.
“Kami sangat mendukung sekali kegiatan Yowana untuk kembali menyelenggarakan pawai ogoh-ogoh, mengingat ini merupakan salah satu ajang yowana untuk berkreativitas, yang sebelumnya sempat terhenti akibat wabah Covid 19. Terlebih secara regulasi pemerintah telah mencabut PPKM sehingga menguatakan kami untuk dapat melaksanakan parade ogoh-ogoh kembali tahun ini,” kata Made Parmita.
Selain itu, melalui kebijakan Bendesa Desa Adat Padangtegal memberikan subsidi dalam bentuk finansial yaitu sebesar Rp. 25.000.000 kepada setiap sekeha teruna dalam lingkup Desa Adat Padangtegal sebagai bentuk dukungan dalam berkreativitas. [T]
DERU puluhan sepeda motor bergema dari arah utara Kota Singaraja pada Senin, 29 Juni 2026. Satu per satu kendaraan itu bergerak perlahan melintasi Jalan Ngurah Rai menuju Gedung D...
Bali Kembali Diserang, Kali Ini Tanpa Ledakan
TANGGAL 12 Oktober 2002 menjadi salah satu hari paling kelam dalam sejarah Bali. Ledakan bom merenggut ratusan nyawa dan menggunca...
NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan usaha, hingga berbagai tr...
PEMBACA tak perlu mengukur jarak antara Plaju dan Hawkins, apalagi harus repot-repot mencari tahu apa yang hendak dihidangkan di sana, sebab keniscayaan yang akan pembaca dapati....
HAMPIR saja tim nasional sepak bola Republik Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026 yang dihelat di tiga negara, Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Iya, hampir saja. Itu berarti b...
Ketika anak-anak itu bermain riang, ruang Gedung Mario berubah menjadi area interaktif, sangat dinamis dan terkesan lebih hidup. Langit-langit tinggi dan tiang-tiang bangunan ikut...
KEMBALINYA seni Arja di Banjar Bukit Buwung, Kesiman, tidak dapat dipahami semata sebagai upaya revitalisasi kesenian tradisional, melainkan sebagai proses pemulihan roh kebudayaa...
IRONI terbesar abad ke-21 mungkin bukan ketika mesin mulai mampu berbicara. Ironinya justru ketika mesin mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang telah lama berhenti diajukan m...
PADA tahun 1999 sampai 2005 saya sempat membantu Bre Redana, mengkurasi karya-karya seni rupa yang berdialog dengan cerpen. Waktu itu, Bre Redaktur Kompas Minggu.
Bagi saya, it...