Puisi-puisi Wayan Esa Bhaskara | Menari, Menarilah Kau

Wayan Esa Bhaskara
by Wayan Esa Bhaskara — Januari 15, 2023 in Puisi

Tatkala.co

MENARI, MENARILAH KAU

ada cerita, tentang penari
gadis jelita bertubuh langsat
pantang berkeluh, senantiasa
hembuskan aroma mendebarkan

biar hujan tak lepas peluh
biar ia menetes hingga perut bulanmu
meski malam itu
hanya beralas sekulit nafsu

terpejam ragu di masa nanti
“kapan tarian ini akan sampai?”
tanya itu lagi
sambil memandang denah surga
pada permukaan telaga tubuhmu

TEMBOK BERWARNA PUCAT

malam berwujud bulat
bak kepompong yang siap
melepas kupu-kupunya

di sekelilingku, tembok berwarna pucat
memanjang dengan renda-renda noda
bisa jadi itu percikan doa
yang saban hari aku baca

kepalaku, berbisik pelan
“Masihkah kau mengira jodoh di tangan Tuhan?”

aku menggoyangkan kepala
memandang malam
yang terlampau puitik

“Bukankah Tangan Tuhan yang membuatku
kehilangan segalanya?”
kepalaku, kembali berbisik
lebih pelan

SOROT REDUP LAMPU KAMAR

kita menahan napas,
peganglah, mari nikmati
di bawah selimut ini

bercinta diterangi purnama
merangsek dari jendela yang
sengaja kita buka

ia jadi saksi, aku memilikimu
aku, kau bawa pada
kepulangan sejati

memelukmu melewati ruas-ruas
gundah, yang menyebar pada
sendi-sendi dan darah

meski matamu, menahan
air mata saat kita memulainya
: jalan kecil untuk langkah kecil,
untuk dosa besar
yang telah dihitung degup
jantung kita

kecup aku dengan ketenangan
agar kelak tiada luka menganga

cinta secukup-cukupnya adalah
kerajaan untuk buah-buah
yang kupetik setelah menuntaskan
ranum bibirmu

AKU MENUJU BULAN PURNAMA

dulu, bulan purnama
tampak elok
sinarnya sederhana
sinarnya tenang

semula hanya pungguk
merindukannya
kini, mimpi pun memimpikannya

aku kadang bermimpi dalam mimpi
lalu waktu berdiam

purnama, parasnya tiada lagi sempurna
karena cinta
karena cinta
jalan menuju bulan cahayanya padam

namun ada kelap-kelip ramai di kepala
sebelum aku memulai langkah pertama,
kau melepas perdu di bibirku

PAGI KASTURI, AKU TERBANGUN

di atas tikar rajutan
ada mimpi berserakan
bergulita

haru pilu satu irama
dalam napas pelan kesepian

kecup rindu, dekap kelu
seperti pengakuan, kesetiaan

padanya;
janji perlahan menepi
jala waktu koyak,
bak ditendang kaki badai
rejam, rejam keping itu
adalah: kamu

Tuhan bungkam pada tanyaku
baiklah, ini kali harus kutuai
buah bagianku yang subur
masa lalu

[][][]

KLIK untuk BACA puisi-puisi lain

https://tatkala.co/2023/01/07/puisi-puisi-manik-sukadana-5-puisi-pertama-dalam-project-ning-ai/
https://tatkala.co/2022/12/31/puisi-puisi-jong-santiasa-putra-ayam-tepung-sambel-wijen/
https://tatkala.co/2022/11/05/puisi-puisi-santi-dewi-di-bawah-pohon-hujan/
Tag: Puisi
Avatar

Wayan Esa Bhaskara

Related Posts