MOMEN PERGANTIAN tahun memiliki arti bagi setiap orang. Desember menjadi bulan penuh perayaan; liburan, perencanaan, kontemplasi. Pun bagi penyair, banyak puisi ditulis di bulan ini sebagai penanda kebahagiaan, kebersyukuran, atau sebaliknya; kesedihan dan duka-lara. Puisi bisa menyampaikan semuanya dengan amat baik.
Tan Lioe Ie misalnya. Penyair kawakan asal Bali yang sebulan terakhir banyak mengunggah puisi-puisi baru di akun Facebook miliknya juga ikut merayakan akhir tahun dengan menulis puisi berjudul “Desember”.
DESEMBER
Hujan yang kadang rintik kadang deras Gubuk-gubuk tergenang air mata kering habis sudah menguap bersama harapan yang tak jemu membubung ke langit Rintih tanpa suara menyesakkan dada orang tua Sementara anak-anaknya berenang riang di air kecoklatan.
Desember Angin kencang Gadis pohon meliuk menari Rambut daunnya diterpa gerimis lebih tipis dari embun Bunga-bunga di telinganya jatuh bumi riang menyambut harumnya.
Desember Denting gelas bersulang Makanan siap santap Lidah dan perut manja Pesta dan pasta gigi mahal menjaga kilau gigi menjaga mitra usaha Senyum mengembang Pintu terbuka Ucapan selamat datang usaha baru
Desember Tiupan terompet di ujung bulan Pedagang musiman Dan kembang api Pedagang musiman semakin tersisih Seperti perahu kecil terombang-ambing ombak terancam tenggelam
Desember Klakson mobil sahut-menyahut Tumpang tindih Tak merdu tapi mengundang sorak Kelab malam ramai Live music menghentak menjaga mata tak terpejam Setiap detik tak hendak dilewatkan Meski lajunya tak tertahan
Desember Menunggu yang tak terduga antara cemas dan sukacita Menunggu yang tak dikenal antara cemas dan sukacita Menunggu yang pasti datang meski tak ditunggu Menunggu tamu asing yang tak diundang tak perlu kartu undangan Antara cemas dan sukacita yang tak dapat dipilih Tak dapat dipilih.
Puisi sarat renungan. Dibuka penggambaran cuaca hujan, yang biasanya mewarnai akhir tahun, hujan yang tidak biasa; kadang rintik kadang deras, menggenangi gubuk-gubuk orang miskin yang menambah penderitaan. Memberi paradoks; hujan yang menggenangi menjadi tempat anak-anak berenang dengan riang:
Gubuk-gubuk tergenang air mata kering habis sudah menguap bersama harapan yang tak jemu membubung ke langit Rintih tanpa suara menyesakkan dada orang tua Sementara anak-anaknya berenang riang di air kecoklatan.
Bait berikutnya, hujan yang sering turun ditambah angin kencang menjadi indah; masa itu pohon-pohon berbunga, jatuh ke bumi yang menyambut harumnya dengan riang.
Desember Angin kencang Gadis pohon meliuk menari Rambut daunnya diterpa gerimis lebih tipis dari embun Bunga-bunga di telinganya jatuh bumi riang menyambut harumnya.
Perayaan menyambut tahun baru sering diisi dengan makan bersama, baik dengan keluarga, rekan kerja, sahabat maupun orang terkasih. Penyair menggambarkan itu dengan detail. Termasuk kilau gigi yang dijaga dengan pasta gigi mahal, untuk keberlangsungan bisnis, terutama saat bertemu mitra usaha. Utamanya bagi mereka yang membuka usaha baru. Meja makan menjadi tempat membicarakan ekonomi.
Desember Denting gelas bersulang Makanan siap santap Lidah dan perut manja Pesta dan pasta gigi mahal menjaga kilau gigi menjaga mitra usaha Senyum mengembang Pintu terbuka Ucapan selamat datang usaha baru
Pedagang terompet dan kembang api juga tidak luput dari perhatian penyair. Usaha musiman akhir tahun tersebut digambarkan semakin tersisih, diibaratkan seperti perahu kecil yang terombang-ambing ombak dan terancam tenggelam. Biasanya, pedagang ini tergusur oleh regulasi pemerintah yang melarang penjualan kembang api (juga mercon) atas alasan ketertiban umum. Meski dilarang, masyarakat tetap saja membeli dan menyalakannya setiap tutup tahun. Kegembiraan yang tak bisa dibendung dan pedagang kembang api kerap “kucing-kucingan” dengan petugas.
Desember Tiupan terompet di ujung bulan Pedagang musiman Dan kembang api Pedagang musiman semakin tersisih Seperti perahu kecil terombang-ambing ombak terancam tenggelam
Di Bali, pada pergantian tahun kemarin diberitakan ruas-ruas jalan mengalami kemacetan lalu lintas. Wisatawan nusantara maupun mancanegara membeludak di beberapa destinasi pariwisata seperti Sanur, Kuta, Canggu, Nusa Dua, juga Ubud. Kelab malam ramai, ditingkahi live music yang menghentak menjaga mata tak terpejam. Semntara di jalan, klakson mobil sahut-menyahut dan tumpang tindih.
Desember Klakson mobil sahut-menyahut Tumpang tindih Tak merdu tapi mengundang sorak Kelab malam ramai Live music menghentak menjaga mata tak terpejam Setiap detik tak hendak dilewatkan Meski lajunya tak tertahan
Di bait terakhir puisi ‘Desember’, penyair seakan memberi konklusi. Dua kata utama, yakni cemas dan sukacita berulangkali ditampilkan. Kondisi psikologis itu disebut penyair sebagai sesuatu yang tidak terduga, selalu ditunggu manusia. Bisa juga sebaliknya, selalu menunggu untuk hadir dan dirasakan oleh kita. Cemas dan sukacita juga disebut sebagai sesuatu yang tidak dikenal. Dalam bahasa kajian esoterik, rasa takut yang sering dirasakan manusia juga pada sesuatu yang unknown, tidak dikenal, seperti masa depan yang memang sebuah misteri.
Penyair mengibaratkannya seperti ‘tamu asing’ yang ‘tak diundang’ juga ‘tak perlu kartu undangan’. Rasa cemas dan sukacita, pada akhirnya tidak dapat dipilih. Seakan menjadi penegasakan, kalimat ‘tak dapat dipilih’ diulang dua kali dalam akhir puisi ‘Desember’. Memang, siapa yang bisa memilih apa yang datang pada kita? Terkadang kita merasakan cemas, pada satu titik menjadi gangguan mental yakni anxiety disorder sehingga membutuhkan bantuan terapis, psikolog, maupun psikiater. Gangguan cemas kini banyak menghinggapi warga di dunia, kaya atau miskin, perempuan maupun laki-laki, tua dan muda semua berpotensi mengalaminya. Cemas akan banyak hal; ekonomi, asmara, pekerjaan, dan lainnya.
Sukacita kerap kita rasakan saat misalnya mendapat pekerjaan, hadiah, prestasi juga ketika mengalami pengalaman spiritual yang bersifat amat personal. Benar, antara cemas dan sukacita memang tidak dapat dipilih. Keduanya datang pada kita silih-berganti. Tidak ada selalu cemas, atau selalu suka (cita). Bahkan, kondisi di antara kedua emosi tersebut juga bisa kita rasakan. Penyair seperti menemukan kata kunci: “tidak dapat dipilih”. Ini semacam hasil perenungan dan pengalaman.
Desember Menunggu yang tak terduga antara cemas dan sukacita Menunggu yang tak dikenal antara cemas dan sukacita Menunggu yang pasti datang meski tak ditunggu Menunggu tamu asing yang tak diundang tak perlu kartu undangan Antara cemas dan sukacita yang tak dapat dipilih Tak dapat dipilih.
Sejauh yang saya kenal, Tan Lioe Ie adalah penekun meditasi. Laku spiritual yang dilakoninya menambah warna pada kedalaman puisi-puisi karya penyair yang juga pemusik dan merupakan pionir musikalisasi puisi di Bali.
Judul tulisan di atas yang diambil dari petikan puisi ‘Desember’ Tan Lioe Ie mengingatkan saya pada bait puisi “Hai, Ma!” W.S. Rendra. Keduanya sama-sama menukik dalam dan tajam:
dan apabila aku menulis sajak aku juga merasa bahwa kemarin dan esok adalah hari ini Bencana dan keberuntungan sama saja Langit di luar, langit di badan bersatu dalam jiwa
JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh dari sastra tampaknya tidak berala...
UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan skateboard mungil itu meluncur, lalu melompat. La...
PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti Panyembrama, Seka...
SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai simbol kedekatan dengan alam. Mel...
KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love poetry", tulisnya dalam buku barunya M...
PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni adalah ‘bahasa universal’ yang mampu menjembatani...
DUA PULUH lima tahun lalu, tepat saat 2 bulan setelah Milenium ketiga dimulai, segerombol anak muda yang menyebut diri mereka Kamasra (Keluarga mahasiswa Seni Rupa) STSI Den...
MANUSIA adalah makhluk yang gemar mengembara.
Tubuhnya berada di sini, tetapi pikirannya berlari ke hari esok. Atau sebaliknya, tubuhnya telah meninggalkan kemarin, tetapi bati...
Sorak-sorai penonton menyemangati temannya ketika tampil sebagai peserta lomba Matajog (egrang bambu) dalam ajang Jantra Tradisi Bali serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII,...