CERPEN IALAH prosa fiksi yang berisi cerita tentang suatu peristiwa yang dialami oleh tokoh utama dengan bentuknya yang sederhana. Cerpen juga memiliki beberapa ciri yakni, memiliki satu buah konflik yang diikuti dengan satu alur cerita.
Para pengarangtentu saja memiliki gaya dan ciri masing-masing dalam menulis cerpen. Seperti pengarang Made Adnyana Ole, punya gaya tersendiri juga dalam menulis hasil imajinasinya atau khayalannya pembacanya merasa terpengaruh dan mempercayai akan hal itu.
Saya menganalisis cerpen ini dengan menggunakkan teori psiko analisis yakni mengambil empat buah judul yang akan dianalisis yakni, Terumbu Tulang Istri (cerpen 1), Gede Juta (cerpen 2), Gadis Suci Melukis Tanda Suci di Tempat Suci (cerpen 3) dan Siat Wengi (cerpen 4).
Teori psiko analisis sastra memberi perhatian pada pengaruh kejiwaan seseorang dalam berimajinasi yang didukung oleh id (naluri), ego (saya/aku), san superego (norma), sehingga menimbulkan sesuatu yang berlebihan di atas perlakuan yang sebenarnya terjadi dalam dunia nyata. Sehingga membuat seseorang merasa benar dan yakin akan hal yang terjadi dalam pikirannya itu adalah hal yang sebenarnya atau dengan kata lain yakni bukan karakter nyata dari si pelaku.
Hal itu misalnya, dapat saya temukan pada cerpen 1, Terumbu Tulang Istri. Di situ ada nafsu atau libido dan kepuasan atau puss statisfaction. Cerpen ini dapat ditarik ke dalam psikoanalisis yang saya dapatkan, yakni faktor nafsu atau kepuasan mental yang ditampilkan oleh penulis pada tokoh Kayan. Misalnya ketika Kayan merasa bergairah pada seekor sapi betina atau dalam kata lain, adanya kelainan seksual dengan istilah psikologi yakni parafillia.
Dan tidak diketahui pasti asal kata secara psikologi, antara terumbu karang dan istri. Namun dua hal ini dibuat oleh pengarang sebagai hal yang berhubungan, yakni terumbu karang yang nama istilah lainnya adalah collar reefs dan pasangan hidup atau istri diartikan dalam istilah psikologi yakni life partner.
Tak hanya itu dalam cerpen ini tokoh Kayan juga sangat mengalami bahagia yang berlebihan atau istilah psikologinya yakni euphoria. Kebahagiaan yang muncul dengan tidak mencerminkan keadaan yang sesungguhnya, seperti ketika si Kayan ini yang merasa bahagia ketika ada orang asing yang mempercayainya bahwa di dalam lautan ada istrinya yang menjadi terumbu karang. Sehingga, oleh tokoh Kayan, ungkapan itu terus ia lakukan kepada wisatawan yang mendekatinya.
Dapat saya temukan pada cerpen 2, Gede Juta, istilah psikologi dari gangguan saraf yakni neurodevelopmental disorders. Itu ditemukan ketika si Gede Juta ini menggelengkan kepalanya secara terus menerus sehingga terjadilah sindrom akibat dari perasaan cemas yang berlebihan akibat ia tak jadi melanjutkan kuliahnya. Ia takut dan cemas ketika ada serangan dari orang asing sehingga ia melarikan diri dari asramanya dan memilih pulang ke kampungya dengan tangan yang kosong serta memilih untuk tak mengungkapkan semuanya, namun setiap pertanyaan ia hanya bisa menjawabnya dengan gelengan kepala atau istilah psikologisnya yakni duck sindrom.
Egosentris atau istilah kata dari juta atau seorang jutawan muncul karena ia merupakan anak dari seseorang yang terkenal di kampungnya dengan kekayaannya sehingga diambillah nama tersebut sebagai bagian dari namanya. Ditemukan juga istilah lachesism yakni ketika Gede Juta selamat dari kejadian maut yang menimpa dirinya di asrama tempat ia tinggal ketika di kota.
Dapat ditemukan pada cerpen 3, Gadis Suci Melukis Tanda Suci di Tempat Suci, tentang istilah dari phile atau kegemaran atau kecintaan seseorang dengan hal disekitarnya. Dapat dilihat ketika penulis menggambarkan gadis suci yang gemar melukis di setiap tempat suci dengan lukisannya.
Ditemukan juga istilah anxiety disorder atau kecemasan yang berlebih, terlihat ketika setiap warga dan juga polisi yang melihat lukisan dari tempat suci cepat-cepat mereka bergegas untuk bersembahyang.
Dapat ditemukan dalam cerpen 4, Siat Wengi, tentang istilah psikologi yakni, maladaptive daydreaming atau imajinasi yang berlebihan yakni dilihat dari tokoh Ming Tabo yang selalu berkhayal bahwa dirinya bisa mengalahkan Bendesa dalam sebuah pertempuran gaib atau siat wengi.
Serta istilah sindrom paris atau kekecewaan dengan realita yang sebenarnya yakni, dilihat ketika Bendesa yang meninggal akibat dibunuh oleh ibu Ming Tabo. Eccedentesiast yakni, perasaan perasaan sedih yang disembunyikan dengan wajah yang senang atau tanpa adanya kejadian apapun, dilihat ketika ibu Ming Tabo menyembunyikan kematian ayahnya akibat pembunuhan.
Dan hypophrenia atau respon ketika keadaan yang menimpa dirinya yakni, ketika ibu Ming Tabo menangis dengan bergemetar di sudut ruangan ketika ia meletakkan keris berisi darah di atas meja. Ada juga keadaan di bawah alam sadar, yakni, ketika Ming Tabo mengalami pertempuran yang ia rasakan di bawah alam sadarnya.
Dapat dilihat dari beberapa cerpen tersebut bahwa hampir seluruh ceritanya memainkan peran imajinasi yang dipergunakan untuk meningkatkan emosi dari para pembaca untuk bisa merasakan sebenarnya apa yang dikhayalkan oleh si penulis itu sendiri, sehingga pembaca dapat berfikir bahwa seakan-akan hal itu memang betul terjadi di dunia nyata.
Namun, ada juga beberapa cerpen yang ceritanya kurang bisa dipahami atau tidak masuk ke dalam akal pikiran seperti cerpen Terumbu Tulang Istri. Dalam cerpen tersebut tidak diketahui pasti bahwa si tokoh Kayan ini benar-benar mengalami nafsu dari seekor sapi betina atau tidak.
Dan juga dari cerpen Gede Juta, tiba-tiba saja penyakit saraf muncul ketika ia terus menggelengkan kepalanya namun ada satu hal yang membuat ia tak menggelengkan kepala yakni ketika membantah kemauan si Perbekel, entah apa sebenarnya yang terjadi pada dirinya saya kurang memahami karena hal itu cukup membingungkan pembaca.
Dapat disimpulkan bahwa kecenderungan tokoh dari beberapa cerpen ini sulit untuk ditebak atau dirasakan dengan kenyataan ataupun realita kehidupan dengan pembaca.
Dalam beberapa cerpen tokoh yang dimunculkan cukup imajinatif misalnya dari cerpen Gadis Suci Melukis Tanda Suci di Tempat Suci, yakni ketika penulis mampu mempengaruhi tokoh dengan lukisan gadis suci yang seakan-akan membuat masyarakatnya merasakan takut sehingga melakukan persembahyangan. Dapat saya rasakan bahwa maksud dari penulis ini mungkin saja untuk membantu menyadarkan pembaca agar selalu ingat dengan Tuhan tanpa diingatkan terlebih dahulu melalui hal-hal yang terjadi di sekitar tempat suci, seperti yang dilukiskan pada cerpen Gadis Suci Melukis Tanda Suci di Tempat Suci ini.
Dan juga cerpen Siat Wengi yakni ketika tokoh Ming Tabo mengalami imajinasi yang berlebih yang melebihi keadaan sebenarnya yakni ketika ia terus menerus merasa bisa membunuh si Bendesa namun hal itu hanyalah khayalan.
Dapat diselipkan arti dari cerpen ini bahwa setiap orang jangan melakukan ekspektasi di bawah alam sadar secara berlebihan karena yang ditakutkan nantinya akan benar-benar terjadi seperti yang dialami oleh tokoh Ming Tabo ini.
Dari beberapa cerpen yang ditampilkan saya merasa bahwa kedua cerpen inilah yang tokohnya cukup imajinatif dan ditemukan juga beberapa hal atau makna yang sangat berarti bagi kehidupan masyarakat sekarang ini. [T]
DALAM berbagai diskusi mengenai kewirausahaan, ada satu narasi yang terus berulang seperti sebuah gema yang tak kunjung reda. Ketika seorang calon wirausaha ditanya mengenai apa y...
SETELAH melewati rentetan perawatan medis yang panjang dan melelahkan, pernahkah Anda berbisik pada diri sendiri, "Apakah tubuh ini akan kembali seperti sediakala?"
Pertanyaan...
PAGI INI saya teringat mendiang Ida Bagus Ketut Dharma Santika Putra, sahabat dan guru kami dalam dunia sastra dan budaya di Jembrana-Bali, yang telah berpulang pada 21 Januari 20...
KRISIS iklim bukan lagi ramalan apokaliptik di makalah-makalah seminar melainkan kenyataan di depan mata semua bangsa. Ayolah jujur mengakui ironi ini: hutan-hutan terbaik yang be...
"YANG kami bangun bukan sekadar ruang publik yang indah, tetapi juga ruang yang mampu mengingatkan masyarakat akan perjalanan panjang Kota Singaraja," ujar Bupati Buleleng, dr. I...
JAUH sebelum psikolog modern David Dunning dan Justin Kruger merumuskan Dunning-Kruger Effect pada tahun 1999, pujangga Jawa Kuno telah meramalkan akan datang orang-orang yang dan...
HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai marmer rumah mewah di kawasan elit. Suara temba...
MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA
mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata
jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta kebijakan berbe...
TEPAT hari Sabtu, 13 Juni 2026, saat Renon sedang menyengat, ribuan orang memadati kawasan Monumen Perjuangan Rakyat Bali di Denpasar. Di tengah gemuruh tabuh dan warna-warni busa...
RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat dikenali secara utuh dalam epik Ramaya...