PERNAH MENDENGAR tempat asyik bernama Ampupu Kembar? Barangkali tidak banyak yang tahu, karena tempat itu masih dianggap sebagai keindahan yang tersembunyi dan tidak biasa-biasa saja. Hidden Gem inBali.
Tapi, mari saya beritahu. Ampupu Kembar terletak di kawasan hutan Gunung Batur, tepatnya di Bukit Payang, Kecamatan Kintamani.
Ampupu Kembar, jika masuk ke situ, memang sekilas tampak biasa saja. Namun bagi para petualang, Ampupu Kembar bisa menjadi tempat petualangan alam yang harus ada dalam daftar kunjungan, apalagi untuk kalangan remaja.
Hutan ampupu atau kayu putih di kawasan pegunungan dan Danau Batur dulunya memang hutan biasa saja, tapi kini dikelola dengan baik dan memiliki daya tarik tersendiri.
Meski tersembunyi, tempat ini ternyata banyak juga yang sudah mengetahuinya. Terbukti tempat ini selalu ramai dikunjungi wisatawan lokal maupun dari mancanegara. Banyak aktivitas yang bisa dilakukan di tempat ini, seperti memancing, berkemah, dan bahkan foto pre-wedding.
Lokasi destinasi wisata ini tidak terlalu sulit karena berada di pinggir jalan raya yang menghubungkan antara kawasan suci Pura Jati Batur menuju Toya Bungkah. Perjalanan menuju lokasi dapat ditempuh ± 1 jam dari pusat kota Singaraja, atau dari Kota Denpasar.
Akses jalan yang mudah ditempuh namun jarang diketahui orang banyak, kerap menjadikan tempat ini disebut sebagai salah satu hidden gem-nya Bali.
Letaknya yang berdekatan dengan Danau Batur membuat suasana tempat ini semakin menarik. Barisan pohon kayu putih yang rapi dan saling berhadapan serta di tengahnya dihiasi gantungan tatanan kukusan bambu warna-warni menyambut kedatangan pengunjung di Ampupu Kembar.
Tempat ini terlihat semakin indah di kala musim kemarau tiba. Meski terlihat kering, kesan hutan tandus memiliki keistimewaan tersendiri apalagi diabadikan dalam sebuah foto. Maka dari itu, sering ditemukan beberapa orang yang mengabadikan lokasi tersebut ke dalam momen penting hidup mereka, salah satunya foto pre-wedding.
Sebagai salah satu pengunjung Ampupu Kembar, Komang Yuda ,mengatakan Ampupu Kembar ini sangat cocok dijadikan tempat healing. “Di sini kita bisa merasakan suasana di pinggir Danau Batur dengan angin sepoi-sepoi dan ditemani secangkir kopi sebagai penghangat di kala kondisi cuaca yang dingin,” katanya.
Tidak hanya itu, ada banyak aktivitas lain yang bisa dilakukan di Ampupu Kembar. Salah satu aktivitas paling populer yang dilakukan di tempat satu ini adalah berkemah. Berkemah di pinggir danau di antara hutan pinus tentu merupakan hal yang menarik yang perlu dicoba.
Berkemah sambil berpetualangan di alam liar ini tetunya mempunyai sensasi tersendiri bagi penikmat alam. Pengelola tempat ini juga menyewakan peralatan kemah, jadi tidak usah khawatir dan tinggal sewa disini.
Selain berkemah, memancing juga termasuk aktivitas yang sering dijumpai di Ampupu Kembar. Ayo siapa yang punya hobi memancing?
Berkemah sambil memancing tentunya merupakan perpaduan petualangan yang lengkap. kawasan Danau Batur sebenarnya sangat digemari oleh para nelayan, di sini banyak sekali ikan mujair yang diolah menjadi menu mujair nyat-nyat yang sangat terkenal di daerah Kintamani.
“Tempat ini sangat keren untuk dijadikan destinasi liburan, apalagi camping sama orang tersayang, selain itu saya bisa memancing di pinggir danau dan ditemani secangkir kopi hangat,” ujar Yuda.
Untuk bisa berkunjung ke Ampupu Kembar, kita hanya perlu membayar tiket dengan harga Rp 10.000 per orang. Cukup terjangkau bukan? Dengan hanya membayar tiket itu, kita sudah bisa menikmati kawasan wisata Ampupu Kembar ini tanpa batasan waktu, tetapi jangan lupa selalu menjaga kebersihan. [T]
MUSIK tradisional Opera Beijing "Gong dan Drum Tradisional Hakka" membuat penonton terkesima dengan perpaduan luar biasa antara kekuatan ritme yang menggelegar, sinkronisasi koreo...
SAAT matahari mulai menuju satu garis lurus di atas kepala, derau ritmis mengisi ruang di bawah atap Bale Daja rumahku di Kelurahan Beng, Gianyar, Bali. Di tengah orkestrasi aroma...
TIGAminggu lalu saya mendengarkan tunangan saya diwawancarai. Kalimat itu terdengar aneh. Biasanya sayalah yang mewawancarai orang. Sejak menjadi wartawan, entah sudah berapa ratu...
KESERIUSAN Wikan Satya terhadap musik rupanya tidak berhenti pada “Anacaraka”. Setelah karya itu mendapat banyak sorotan sebagai lagu anak-anak yang mengangkat Bahasa dan Aksara B...
JUNI adalah Bulan Bung Karno. Pada 1 Juni 1945, hari ketiga sidang BPUPKI, Bung Karno mendapat kesempatan ketiga setelah Muhamad Yamin dan Soepomo menyampaikan pidatonya. Hari lah...
“BECEK lagi, becek lagi,” keluh istri saya setiap kali menghadiri hajatan di kampung—entah pernikahan, tujuh bulanan, kematian, sedekah bumi, khitanan, maupun perayaan hari raya....
Penjor yang Menjulang dan Pertanyaan yang Menggantung
Setiap Hari Galungan, Bali berubah menjadi lautan penjor. Di depan rumah-rumah, di sepanjang jalan desa, hingga di pusat-p...
MENJELANG pembukaan Pesta Kesenian Bali 2026, perhatian publik justru tidak tertuju pada tarian, tabuh-tabuh baru, atau tema yang diusung tahun ini. Yang ramai diperbincangkan han...
INI adalah pertunjukan seni panggung. Namun, stage proscenium itu dimeriahkan dengan foto-foto indah dan bersejarah. Bidikan aktivitas budaya, bangunan bersejarah dan hasil keraji...
BEBERAPA waktu lalu saya sengaja mampir ke sebuah toko buku di Malang yang pernah menjadi tempat favorit saya semasa mahasiswa. Dulu, toko buku itu selalu hidup. Lorong-lorongnya...