Mahasiswa Kos dan Mahasiswa Rumahan: Punya Galau Masing-masing
SUDAH banyak yang bicara soal mahasiswa kos atau bicara soal merantau. Mahasiswa kos yang memikul harapan orang tua sejauh ratusan kilometer dari rumah ke kampus demi cita-cita dan...
TIBA-TIBA sosok besar itu berada di depanku. Aku menjerit.
“Ada apa?” tanya kekasihku. Ia kaget.
Aku tak menjawab. Tubuhku menggigil. Dan aku hanya menunjuk-nunjuk ke depan. Kekasihku kebingungan. Peristiwa seperti itu sering terjadi, dan kekasihku menganggap aku aneh.
Kekasihku akhirnya meninggalkan aku.
[][][]
AKU MELIK. Aku bisa melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat orang biasa. Aku bisa merasakan sesuatu yang tidak mampu dirasakan orang lain. Aku mampu mendengar suara yang tidak terdengar oleh orang lain.
Bagiku, ini adalah kehidupan yang sulit.
Awalnya hidupku normal saja. Aku tak tahu apa itu melik. Namun tepat saat usiaku 19 tahun, aku mulai merasakan hal-hal tidak biasa di sekitarku. Aku mulai sering bermimpi aneh-aneh dan menyeramkan. Bahkan setiap malam aku ketindihan. Dan aku selalu terbangun pada jam yang sama. Jam 03.00 pagi.
“Ah paling cuma kebetulan,” kataku selalu.
Awalnya aku tidak ambil pusing. Namun peristiwa aneh menimpaku selalu, tak putus-putus.
Suatu malam, aku ketindihan lagi. Badanku tidak bisa digerakkan. Dalam mimpi aku didatangi sosok dengan wujud menyeramkan. Lidah yang panjang. Mata yang begitu besar. Dan memiliki caling yang panjang.
Sosok seram itu sedang menari-nari di depanku. Aku ingat, orang-orang menyebut sosok seperti itu dengan nama Ratu Niang Mas Mecaling,
Aku sadar bahwa itu mimpi. Awalnya sosok itu jauh di depanku. Saat aku berkedip sosok itu semakin dekat, semakin dekat, hingga sampai di depanku. Aku berusaha untuk berteriak dan menggerakan badan. Aku hendak bangun dari mimpi. Dan ketika sosok itu mengusap kepalaku, aku pun terbangun.
Setelah bangun dari mimpi aneh itu, badanku terasa lelah. Napas terasa berat seperti habis berlarian. Aku tengok jam di ponselku. Pukul 03.00 pagi.
“Kenapa ya, aku bangunnya jam tiga pagi terus?!” batinku.
Aku tak langsung tidur lagi. Aku takut jika sosok itu kembali mendatangiku. Karena takut aku terus berdoa di dalam hatiku, melafalkan bait-bait puja trisandya agar kembali tenang. Aku pun tertidur kembali.
[][][]
Matahari terbit. Ayam mulai berkokok. Aku dengan cepat bangun dari tempat tidur dan segera menceritakan mimpi yang mengerikan itu kepada ibuku.
“Bu, saya mimpi didatangi Ratu Niang Mas Mecaling tadi pagi,” kataku.
“Nggak apa, cuma mimpi, jangan dianggap serius!” sahut Ibu dengan agak ragu-ragu.
Aku kembali ke kamar dengan perasaan agak lega dan melanjutkan aktifitas. Yah, sebagai mahasiswa aku harus mengerjakan tugas-tugas kuiah yang bertumpuk-tumpuk.
Di kampus, saat mengikuti kuliah, aku tiba-tiba pusing. Aku putuskan untuk minta izin untuk tak ikut kuliah. Aku pulang dan beristirahat di rumah.
Selama satu minggu aku layaknya mayat hidup hanya terbaring di tempat tidur dengan tatapan mata yang kosong. Aku tidak bisa berjalan maupun duduk. Hidung, mulut, telingaku mengeluarkan darah pekat.
Karena tidak ada tanda-tanda sembuh, Ibu memutuskan untuk mengajakku ke rumah sakit.
“Bli, ayo antar Made ke rumah sakit. Saya takut jika terus-terusan begini, setidaknya supaya ia dapat infus, karena tak ada makanan yang masuk ke tubuhnya,” kata Ibu pada Ayah.
Dengan mobil pinjaman pamanku, aku dan keluarga pergi ke rumah sakit. Aku dimasukan ke ruang UGD. Di ruang itu aku mengikuti beberapa test, salah satu test yang aku ingat adalah test darah. Perawat menyuntikan jarum di tangan kananku dan mengambil darah untuk dites di laboratorium.
Setelah menunggu beberapa menit dokter dan perawat mendatangiku dan keluargaku. Mereka memberikan hasil test itu, dan mengatakan bahwa aku dalam keadaan normal, tidak sedang mengalami sakit apa pun dan bisa dikatakan aku sehat. Sontak keluargaku terkejut dengan pernyataan dokter,
“Dok, apa benar anak saya sehat? Anak saya sudah seminggu tidak bisa duduk, tidak bisa berjalan, bahkan mengeluarkan darah dari telinga,” kata Ibu.
Dokter menjawab dengan penuh keyakinan sambil memberikan kertas hasil test laboratorium, “Nggih, Bu, dari hasil test laboratorium anak ibu sehat, tidak mengalami sakit.” Dengan penuh keraguan dan kebingungan aku dan keluargaku pulang ke rumah. Disepakatilah untuk sementara aku dirawat di rumah saja.
[][][]
Setelah sempat dirawat di rumah, aku kemudian dibawa ke seorang balian. Aku dibopong dari mobil hingga ke tempat balian itu karena kondisiku yang masih lemas, tidak bisa duduk maupun berjalan.
Sampai di tempat balian aku dan keluargaku melakukan persembahyangan terlebih dahulu, meminta petunjuk agar menemukan titik terang untuk kesembuhanku. Tibalah giliranku untuk ditamba.
Balian itu melihatku cukup lama dan berkata, “Anak ini pernah di-tebusin, Bli?”
“Tidak pernah, Jro. Nebusin napi nggih?” kata ayahku terbata-bata
Balian itu menghela napas mengatakan bahwa aku memiliki lidah poleng yang hanya bisa dilihat secara niskala. Artinya aku melik.
“Bli, anak ini memiliki kelebihan. Hal yang menyebabkan dia sakit seperti sekarang karena dia disukai oleh makhluk halus. Segera di-tebusin, Bli, supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” kata balian itu.
Balian itu juga menjelaskan hal-hal yang mungkin terjadi jika aku tidak segera melakukan upacara penebusan itu. Misalnya aku bisa memiliki umur pendek, kesialan dan sakit yang mungkin tidak bisa disembuhkan dengan cara medis.
Orang tuaku kemudian menyanggupi untuk melakukan upacara penebusan di Karangasem kampung halamanku, dan di Pura Dalem, dekat dengan tempatku tinggal.
Aku pun melewati berbagai prosesi penebusan, pengelukatan melik, pembersihan rumah dan pembersihan diri. Semuanya kujalani agar hal-hal yang menggangguku tidak menempel padaku. Setelah menjalani semua itu kondisiku mulai membaik tidak seperti awal ketika aku sakit, aku sudah mulai bisa berjalan, duduk bahkan memakan makanan kesukaanku.
Namun aku masih bisa melihat, mendengarkan dan merasakan hal-hal yang tidak bisa dirasakan orang lain. Aku masih bisa melihat sosok pria berbadan tinggi hitam di dekat rumahku, aku juga masih bisa mendengar hal-hal aneh seperti gerutu dan suara nafas seseorang di telingaku. Beruntung mereka, makhluk-makhluk aneh itu, hanya memperhatikanku dari jauh dan tidak menggangguku, tetapi tetap saja aku cukup sulit untuk pura-pura tidak melihat dan mengabaikannya.
Terkadang aku juga masih bermimpi hal-hal aneh. Aku bermimpi semua gigiku lepas dan mimpi itu datang dua kali dengan jangka waktu yang cukup dekat. Orang-orang percaya bahwa mimpi seperti itu adalah pertanda buruk, seperti bisa aaja dalam jangka waktu yang tidak bisa ditentukan keluarga atau orang-orang terdekat akan meninggal.
[][][]
Dan benar saja sebulan kemudian bibi dan nenekku meninggal dalam waktu dekat. Bibiku tidak menderita sakit yang lama. Hari itu dia dibawa ke rumah sakit dan hari itu juga dia meninggal. Penyebabnya adalah diabetes dan ada komplikasi dengan jantungnya.
Sedangkan nenekku memang sudah tua dan dia meninggal dalam keadaan covid. Aku juga pernah bermimpi ada bayi yang datang kerumahku dan memanggil-manggil orang tuaku, setelah dicari-cari ibuku teringat bahwa dia pernah tidak sengaja menggugurkan kandungannya sebelum aku ada, dan belum pernah melakukan prosesi ngelungah untuk bayi keguguran. Artinya sudah 20 tahun lamanya kandungan itu belum diupacarai, janinnya belum berbentuk, wujudnya hanya darah ketika keguguran.
Agar menemukan titik terang aku keluargaku dan saudara-saudaraku mepeluasin nenekku, bibiku, dan bayi keruron ini, karena kebetulan saat itu akan ada ngaben masal di kampung halamanku Karangasem.
Saat mepeluasin hal itu dikatakan benar, bayi yang sebenarnya menjadi kakakku mengatakan dia sudah memiliki nama yaitu Bayu Neke. Saat mepeluasin itu juga dia memanggil-manggil orang tuaku meminta untuk ikut diupacarai saat pengabenan di Karangasem. Dan orangtuaku menyanggupi hal itu agar dia dapat beristirahat dengan tenang di alamnya. Aku kemudian menjalani aktivitasku seperti biasa.
Dari apa yang terjadi padaku, ada banyak hal yang dapat aku pelajari dan ketahui. Terutama ketika aku jatuh sakit. Aku mengetahui betul siapa saja yang peduli padaku dan keluargaku.
Sampai saat ini aku berusaha untuk menerima apa yang menjadi kelebihanku, sampai saat ini pun aku masih bertanya-tanya apakah pemberian ini merupakan anugerah atau kutukan untukku.
[][][]
Di kampus, ada seorang lelaki mendekatiku. Ia seorang mahasiswa yang tampan.
“Maukah kamu menjadi kekasihku?’ tanya lelaki itu.
Aku berpikir panjang untuk menjawabnya.
“Maukah kamu jadi kekasihku?” tanya lelaki itu lagi.
Aku suka pada lelaki itu. Namun aku tak bernai menjawab. Aku masih ingat kekasihku yang dulu, yang menganggap aku aneh, dan meninggalkanku begitu saja. [T]
[][][]
SUDAH banyak yang bicara soal mahasiswa kos atau bicara soal merantau. Mahasiswa kos yang memikul harapan orang tua sejauh ratusan kilometer dari rumah ke kampus demi cita-cita dan...
PADA zaman maya saat ini, seorang remaja tanpa menyentuh gadget atau handphone selama satu hari saja sudah termasuk hebat. Tapi di Desa Bungaya, Karangasem, Bali, ratusan remaja pu...
KESULITAN terbesar saya ketika harus membicarakan sajak-sajak Nuryana Asmaudi SA yang terkumpul dalam buku "Doa Bulan untuk Pungguk" (DBUP) adalah upaya menghilangkan bayang-bayang...
JIKA ingin melihat sejati-jatinya festival yang jujur, tanpa pesan ini-itu, tanpa pidato ini-itu, tanpa kampanye ini-itu, tanpa bau politik dan kekuasaan, tanpa EO dan panitia over...
MAHASISWA adalah sebutan untuk “siswa” dengan tambahan kata “maha” di depannya. Maha artinya besar. Mahasiswa tentu bukan lagi siswa biasa. Kehidupan siswa bisa bergantung pada or...
Cerpen: Made Adnyana Ole TUBUH mungil gadis itu ditusuk pedang cahaya ketika sinar purnama menerobos di sela ranting gaharu. Cahaya memantul dari tubuhnya hingga hutan kecil di tep...
IGAU andaikata rumput berwarna merah muda, sapi-sapi mungkin saja berwarna jingga. dan kau berdiri di atas batu kuning mengenakan sepatu hijau, menembaki aku dengan senapan buru l...
MASA KKN (Kuliah Kerja Nyata) kini sudah usai. Acara perpisahan di balai desa atau di lapangan umum sudah digelar dengan meriah, penuh canda sekaligus haru. Namun, setelah KKN buba...
MENYELENGGARAKAN ngaben megah menghabiskan banyak uang, diurus oleh beratus-ratus orang dengan uang ratusan juta rupiah, adalah salah satu contoh, betapa orang Bali senang sekali m...
BERBICARA sebagai orang awam, sembari turut menilai fenomena dan paradigma tentang berbagai hal yang terjadi di masyarakat, tentu dengan guyonan ringan ditambah dengan sruputan kop...