PERTANYAAN-PERTANYAAN milik Ibu. Pada salah satu hari, saya mendengarkan keluhan milik Ibu I. Katanya, anak-anak tak mengerti perasaannya, kenapa kami tak merasakan kehilangannya karena membiarkan bapak pergi. Jadi ia kehilangan dirinya sebagai ibu.
Sementara di lain hari, saya mendengarkan Ibu II berkeluh tentang kami. Katanya, pada akhirnya kami akan pergi juga, sebab rahimnya tak sekalipun pernah kami pinjam untuk ditinggali. Jadi ia tak merasakan kehadirannya sebagai ibu.
Tiba hari lain, Ibu III kukunjungi. Dalam percakapan kami, katanya perasaan ia menjadi ibu terasa tak lengkap, sebab tak ada satu pun tangis bayi laki-laki memenuhi hari-harinya. Maka, orang-orang menyebutnya tak sempurna sebagai ibu.
Begitu setiap hari para ibu dalam kehidupan saya mengulang kehilangan dirinya sebagai seorang ibu. Setiap hari, dalam pikiran, tak pernah terbayang bagaimana kelak saya mesti menjadi ibu untuk diri sendiri, anak-anak, dan orang lain dalam hidup saya.
Kehilangan-kehilangan sebagai ibu saya temukan dimana-mana. Dalam perjalananannya kemudian, satu-dua ibu yang saya temui memberi jawaban. Adalah cara-cara mereka bersyukur dari perasaan tak memiliki atau kehilangannya. Jadi, saya simpan itu buat diri sendiri.
Saat banyak ibu meminta didengar atas rasa kehilangannya, di ruang belajar seperti sekolah, beberapa guru perempuan suka membuka diri dan menawarkan dirinya sebagai ibu.
“Nak, kalau ada masalah ayo cerita. Ibu adalah ibu dan orangtua kamu di sekolah,” kata mereka di sekolah.
Bagi saya, ibu di sekolah inilah yang pertama menawarkan dirinya untuk menjadi ibu yang mendengarkan anak-anak seperti saya, yang kehilangan ibu di rumahnya.
Tiba hari pernikahan, Ibu IV hadir. Ibu yang setiap waktu memberikan banyak pertanyaan dan mengajari saya untuk menjadi ibu sepertinya. Sebab katanya, ia merasakan dirinya sebagai ibu. Namun, tubuh dan pikiran saya menolaknya. Sebab saya tak pernah mendapat cara-cara ibu demikian sebelumnya.
Tiba hari persalinan, orang-orang memanggil dan menamai saya ibu dengan syarat-syarat pasti. Cara saya bangun, cara saya berkata, cara saya menjawab sesuatu, cara saya berpakaian dan memilih tempat-tempat untuk pergi. Setelahnya, saya juga kehilangan perasaan menjadi ibu kemudian. Sebab segala sesuatunya tiba-tiba menjadi keinginan banyak orang. Saya merasa kehilangan ibu dalam diri.
Kapan kesempatan ibu merasakan dirinya menjadi ibu?
Barangkali, pertanyaan itu hanya bisa dijawab oleh masing-masing ibu. Juga pada saya kemudian. Jadi ini bukan persoalan rahim. Kau mengasuhnya atau tidak, lelaki atau perempuankah yang lahir dari rahimmu, atau kau dipanggil ibu atau tidak. Tentu saja bukan hal-hal semacam itu yang menjadikan mereka ibu.
Setelah menemukan banyak kehilangan rasa menjadi ibu, dua tahun belakangan mulai terpikirkan setiap hari kata-kata ibu justru sering hadir jadi sapaan. Bahkan di hari minggu sekalipun. Bagi guru seperti saya, kata-kata Ibu/Bu Guru adalah persoalan tanggungjawab menjadi ibu dan menjadi guru. Dua hal itu adalah persoalan berbeda yang dilekatkan dalam dunia pendidikan.
Satu sisi saya berkewajiban mengasuh pertumbuhan siswa-siswa ini layaknya anak sendiri. Sisi lainnya, saya juga bertanggungjawab memeberinya pendidikan yang baik tentang hal-hal diluar yang mampu diberikan di rumah mereka masing-masing.
Ini akan menuju tahun keenam saya menyandang status Ibu Guru. Setiap tahunnya, paling tidak ada seribu tiga ratusan anak yang semestinya terdidik dan terasuh. Tiga puluh tujuh siswa yang wajib berhasil terdidik dan terasuh, sebelum tiba tahun mendatang, anak lain dengan jumlah yang sama merengek minta diasuh dan dididik. Tetapi tentu semua itu adalah hal yang mustahil untuk berhasil.
Menjadi guru adalah teladan. Pantang mengatakan tidak mampu sebelum mencobanya. Tahun demi tahun adalah waktu berlatih mencapai sempurna untuk belajar menjadi Ibu guru. Jadi selama perjalanan itu, saya berhasil pula menemukan jawaban atas perasaan kehilangan menjadi ibu kemudian.
Hari Senin, seorang anak dalam kelas asuhan saya masuk ruang BK. Laporan yang masuk dan tersebar kasusnya adalah postingan media sosial. Ia memposting kemesraannya dengan teman dekatnya yang disebut kekasihnya. Jadi salahnya di mana?
Anak itu saya ajak bicara. Dengan perasaan marah, tangan dan matanya bergetar, airmatanya jatuh. Ia menggigit ujung bibirnya dan tangannya mengepal kuat. Anak itu ketakutan. Ada sesuatu yang disembunyikan. Saya diamkan, kemudian keluar sekolah, jalan ke sebuah rumah makan cepat saji, sambil memberinya ucapan selamat ulang tahun. Anak itu kemudian mengatakan sesuatu. Katanya dalam lirih dan hati-hati.
“Saat saya ketakutan. Saya berlari pada bapak, bapak memukul saya tanpa mendegarkan. Kemudian saya berlari pada kakak, ia menolak saya dan suaminya melecehkan saya. Saya hendak mengadu pada ibu, tetapi ibu selalu ingin pergi dari setiap hal tentang saya yang perempuan. Masa kanak saya adalah rumah utama ketakutan saya yang berlari mencari telinga untuk mau mendengarkan saya,” jelasnya.
Cerita di atas adalah satu dari ratusan anak selama menuju enam tahun saya menjadi ibu guru. Ada anak yang bersembunyi, sebab ibunya selalu pergi dan datang dengan bapak baru, ada anak yang berlindung berlarian kesana-kemari sebab ibu memaksanya duduk diantara lampu remang dan bujuk-bujuk lelaki hidung belang.
Hari ini, semua orang mungkin telah siap mengakui bahwa mereka sebenarnya telah kehilangan anak-anaknya yang membuatnya kehilangan diri sebagai orangtua. Karena cerminan ibu I,II, atau III yang saya sebutkan tadi, adalah gambaran penyebab sederhananya. Mereka lupa belajar bertanya dan mendengarkan anak-anaknya. Jadi anak-anak lari pada kasih sayang yang imajinatif dan manipulatif dari tontonan-tontonan yang melampaui usianya. Itu alasan kenapa anak-anak suka berpaling meninggalkan kita orangtuanya.
Catatan ini adalah sedikit perasaan saya yang seorang ibu dan guru. Barangkali ibu/atau perempuan dalam catatan ini tampak seperti penjahat. Tetapi tentu bukan itu maksudnya. Hal-hal yang saya katakan adalah catatan perjalanan pencarian jati diri hakikat menjadi ibu bagi diri saya sendiri.
Saya telah menjadi ibu sejak masa kanak saya, sejak ibu melahirkan saya sebagai perempuan. Menjadi ibu adalah mendengarkan dengan baik, mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang dianggap tak menemui titik akhir. Karena sejatinya, anak-anak yang lahir dari siapapun adalah awal dan akhir perjalanan menjadi ibu. Karena hanya jika kita terlahir menjadi perempuan, anak-anak akan pulang dan mencari peluk pertama ibu.
Selamat merayakan hari ibu untuk seluruh perempuan dalam hati dan jiwanya yang penuh cinta-kasih. [T]
DALAM berbagai diskusi mengenai kewirausahaan, ada satu narasi yang terus berulang seperti sebuah gema yang tak kunjung reda. Ketika seorang calon wirausaha ditanya mengenai apa y...
SETELAH melewati rentetan perawatan medis yang panjang dan melelahkan, pernahkah Anda berbisik pada diri sendiri, "Apakah tubuh ini akan kembali seperti sediakala?"
Pertanyaan...
PAGI INI saya teringat mendiang Ida Bagus Ketut Dharma Santika Putra, sahabat dan guru kami dalam dunia sastra dan budaya di Jembrana-Bali, yang telah berpulang pada 21 Januari 20...
KRISIS iklim bukan lagi ramalan apokaliptik di makalah-makalah seminar melainkan kenyataan di depan mata semua bangsa. Ayolah jujur mengakui ironi ini: hutan-hutan terbaik yang be...
"YANG kami bangun bukan sekadar ruang publik yang indah, tetapi juga ruang yang mampu mengingatkan masyarakat akan perjalanan panjang Kota Singaraja," ujar Bupati Buleleng, dr. I...
JAUH sebelum psikolog modern David Dunning dan Justin Kruger merumuskan Dunning-Kruger Effect pada tahun 1999, pujangga Jawa Kuno telah meramalkan akan datang orang-orang yang dan...
HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai marmer rumah mewah di kawasan elit. Suara temba...
MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA
mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata
jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta kebijakan berbe...
TEPAT hari Sabtu, 13 Juni 2026, saat Renon sedang menyengat, ribuan orang memadati kawasan Monumen Perjuangan Rakyat Bali di Denpasar. Di tengah gemuruh tabuh dan warna-warni busa...
RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat dikenali secara utuh dalam epik Ramaya...