KALIMAT BIJAK “don’t judge the book by its cover” memang sudah sering terdengar dan dibahas di mana-mana. Namun apakah kalimat itu benar-benar diterapkan dalam kehidupan sosial masyarakat?
Tentu tidak sepenuhnya, mungkin hanya berlaku pada orang tertentu saja. Tanpa kita sadari dalam interaksi keseharian dengan lingkungan di sekitar kita, sering terjadi penilaian-penilaian spontan hanya didasarkan pada bentuk dan tampilan luar saja.
Hari ini kita menilai si A positif, seketika besok harinya penilaian kita bisa jadi negatif. Nah, nilai positif itu mungkin timbul karena cover atau kulit atau tampilan fisik semata. Secara fisik seseorang tampak bersih, polos dan santun, eh ternyata seseorang pencandu narkotika. Begitu misalnya.
Ini kisah singkat seseorang dari kota Singaraja. Ini bukan fiksi. Ini kisah perjalanan hidup seorang lelaki dengan tubuh banyak tato. Namanya Gede Sumertana.
Tampilan lelaki ini, jika dilihat dari fisik saja, mungkin terkesan sangar. Penilaian yang muncul dari tampilan itu barangkali akan negatif. Ah, laki-laki itu berandalan, pemabuk, penjudi, bahkan bisa dinilai menjadi beban keluarga.
Stop menilai dari fisik. Sumertana tidaklah begitu. Lelaki yang akrab disapa Deksu ini adalah seorang ayah bertanggungjawab dengan dua anak perempuan yang salah satunya sudah mengeyam pendidikan sekolah dasar.
Bertanggungjawab? Sehari-hari ia bekerja dengan giat untuk menghidupi keluarga, meski pekerjaannya serabutan. Tapi ia bekerja dari pagi hingga malam hari hanya untuk istri tercinta dan kedua anak yang dikasihinya.
Di lingkungan tempat tinggalnya pun ia sangat rajin “mebraya” atau membantu tetangga yang mempunyai kegiatan upacara.
Halaman rumah Deksu cukup luas, sekitar 4 are lebih. Namun bangunan rumahnya sangat kecil dengan dapur sederhana di luar bangunan. Kondisi bangunan memang bikin miris, dengan luasan tanah sebesar itu, ia hanya memiliki rumah kecil di pojokan dengan dinding masih berupa tembok batako. Ayah 35 tahun ini ternyata hanya menumpang di tanah 4 are itu. Tanah itu milik orang lain.
Ceritanya begini: Tanah yang ditempati hingga sekarang ini adalah milik sahabat almarhum ayahnya. Sejak ia kecil, ayahnya merantau dari Tejakula ke Kelurahan Banjar Jawa untuk bekerja serabutan.
Ayah Deksu memiliki sahabat seorang bos yang sudah seperti saudara kandung. Sebelum ayahnya meninggal dunia, sang ayah menitip permintaan kepada sahabatnya yang kaya itu agar anaknya diberikan pinjam lahan untuk dibangun rumah sederhana.Sehingga, rumah sederhana itu berdiri dan ditempati Deksu hingga kini.
Keseharian Deksu bekerja menjadi tukang parkir di sebuah restoran cepat saji di Jalan Ngurah Rai Singaraja. Kerja jadi tukang parkir tidak dilakukan setiap hari. Ia bekerja sesuai jadwal dan bergantian dengan temannya.
Dalam seminggu ia hanya menjaga parkir selama 4 hari, dari pagi hingga malam hari. Hasil menjaga parkir itu harus ia cukupkan untuk hidup selama seminggu. Memang berat mengatur penghasilan sedikit untuk memenuhi kebutuhan hidup yang tergolong mahal, apalagi pada masa inflasi sekarang ini.
Gede Sumertana jaga parkir di rumah makan cepat saji di Jalan Ngurah Rai Singaraja
Bersyukur, istri dan kedua anaknya menerima bagaimana pun kondisi ekonomi keluarga kecil ini. Sang istri, Purnami, juga tidak bekerja tetap. Ia mengasuh anak dan sembari menerima pesanan membuat upakara.
“Saya kerja serabutan, istri pun begitu. Jika tidak ada pesanan untuk membuat banten atau upakara, ya hanya mengasuh anak di rumah. Syukur-syukur ada pesanan, ya jadi bisa membantu memenuhi kebutuhan hidup,” ujar Deksu.
Mengakali kesulitan yang dijalani, Deksu mencoba membuka bisnis menjual ayam jago. Penghasilan yang ia terima dari menjaga parkir sedikit disisihkan untuk bisa membeli indukan dan anakan ayam jago.
Karena Deksu ini adalah orang yang baik di mata tetangga dan teman-temannya, tidak jarang ia ditawari bantuan. Ada yang memberinya indukan ayam, anakan ayam jago, bahkan ada yang memberinya pakaian yang masih layak. Ia menerima kebaikan-kebaikan temannya itu. Namun ia paling tidak bisa menerima jika ada yang memberinya uang.
Deksu pernah digoda oleh teman-temannya, “Dek kamu tatoan saja banyak, masak jaga parkir! Tuh lihat orang-orang seperti kamu. Tinggal duduk manis, ada yang bawain uang, kerja santai dan tidak butuh seharian penuh.”
Herannya, ia sama sekali tidak merespon godaan itu, ia hanya tersenyum dan berkata “Ake sing ngon, ake sing dot”. Saya tidak kagum, saya tak tergoda.
Komitmennya itu memang sudah bulat, ia ingin menghidupi keluarganya dengan penghasilan dari pekerjaan yang tidak bertentangan dengan hukum. Ia memilih hidup sederhana seperti sekarang, dari pada hidup mewah dari pekerjaan melanggar hukum.
Selama hidup, ia belum pernah melihat orang bertato korupsi, orang bertato menjadi teroris. Malahan, tak jarang, orang-orang yang terlihat bersih yang melakukan perbuatan kotor.
“Saya jenuh dinilai sepintas saja oleh orang-orang yang baru pertama kali melihat saya. Dendam sih tidak, hanya bosan saja melihat orang-orang bertingkah seperti Tuhan yang seolah tahu si A masuk surga dan si B masuk neraka. Jangan menilai orang dari luarnya saja, Saya bukan kriminal,” ujarnya. [T]
JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh dari sastra tampaknya tidak berala...
UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan skateboard mungil itu meluncur, lalu melompat. La...
PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti Panyembrama, Seka...
SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai simbol kedekatan dengan alam. Mel...
KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love poetry", tulisnya dalam buku barunya M...
PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni adalah ‘bahasa universal’ yang mampu menjembatani...
DUA PULUH lima tahun lalu, tepat saat 2 bulan setelah Milenium ketiga dimulai, segerombol anak muda yang menyebut diri mereka Kamasra (Keluarga mahasiswa Seni Rupa) STSI Den...
MANUSIA adalah makhluk yang gemar mengembara.
Tubuhnya berada di sini, tetapi pikirannya berlari ke hari esok. Atau sebaliknya, tubuhnya telah meninggalkan kemarin, tetapi bati...
Sorak-sorai penonton menyemangati temannya ketika tampil sebagai peserta lomba Matajog (egrang bambu) dalam ajang Jantra Tradisi Bali serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII,...