ADA SEBUAH RUMAH di sisi sungai, di tepi jalan kecil yang agak menanjak di sudut Desa Nagasepaha, Kecamatan Buleleng, Bali. Di rumah itu terpampang banyak lukisan kaca serta benda-benda hasil kerajinan. Setiap ke rumah itu, saya selalu merasa senang. Tuan rumahnya ramah, suka bercanda.
Rumah itu adalah milik I Ketut Santosa. Ia adalah salah satu pelukis kaca, atau lukisan di atas kaca, yang sangat dikenal, bukan hanya di Buleleng dan Bali, melainkan juga di Indonesia bahkan luar negeri. Lukisan kaca yang terpampang banyak di rumahnya adalah karya dia sendiri.
Saya sering singgah ke rumah itu. Bahkan tak jarang juga, saat pulang dari mengajar di sekolah saya sering ikut ke rumah itu untuk “ngidih nasi” dan makan bersama. Di rumah itu ia akan dengan bangga memperlihatkan karya-karya spektakuler lukis kaca, kepada saya, atau kepada siapa pun yang berkunjung ke rumahnya.
Saya bersumpah, Pak Santos, begitu saya memanggilnya, adalah orang yang baik, seniman yang sederhana, dan bisa bergaul dengan siapa saja. Rumahnya kerap didatangi tamu asing, baik kolektor lukisan maupun turis biasa, namun ia tetap tak berubah. Ia tetap menunjukkan diri sebagai lelaki biasa.
Kini, seniman besar itu sudah tiada. I Ketut Santosa telah berpulang ke hadapan sang pencipta. Seniman lukis kaca yang namanya sedang melejit itu menghembuskan napas terakhir setelah kecelakaan yang menimpanya di Jalan Raya Singaraja-Denpasar, seputaran Baturiti. Tabanan.
Saat itu, Rabu, 23 November 2022, ia sedang dalam perjalanan ke Denpasar untuk membawa lukisa yang hendak dipamerkan di Taman Budaya Provinsi Bali. Ketika sedang melajukan kendaraannya, tiba-tiba seorang ibu yang mengendarai sepeda motor muncul dan mengagetkan, sehingga kendaraan yang dikendaran Santosa oleng dan terjatuh.
Luka retak di kepala bagian belakang mengakibatkan ia tak sadarkan diri, dan dilarikan ke rumah sakit. Ia mendapat perawatan selama tiga hari di Rumah Sakit Mangusada, Badung, hingga akhirnya menghembuskan napas terakhirnya 26 November 2022 malam.
Yang mengherankan, hasil karya yang dibawa almarhum masih utuh. Hasil karya itu berupa lukisan dengan media kaca yang rentan pecah jika berbenturan. Namun lukisan itu masih terbungkus utuh dan tidak pecah sama sekali.
Upacara Mekinsan di geni akan dilakukan pada hari Jumat 2 Desember 2022 di Setra Nagasepaha.
[][][]
I Ketut Santosa merupakan seniman lukis Wayang Kaca generasi ketiga dari keturunan Jero Dalang Diah yang dikenal sebagai penemu teknik melukis di media kaca di Nagasepaha.
Santosa pernah bekerja menjadi tukang kebun di SMP Negeri 3 Sukasada dan aktif mengajar ekstrakurikuler lukis kaca di sekolah itu. Pada September 2022, ia diangkat menjadi tenaga pengajar di SMK Negeri 1 Sukasada dan berbagi ilmu tentang lukis kaca di sekolah itu.
Santosa adalah pribadi yang ramah dan murah senyum. Ketika masih bekerja di SMP Negeri 3 Sukasada saya sering bercanda dengannya, karena kebetulan saya juga menjadi guru seni budaya di sekolah itu.
“Om Swastiastu, Pak Bupati Karangasem!” Begitu biasanya ia menyapa saya, ketika bertemu sambil memegang selang air menyiram kebun sekolah. Tentu saja ia bercanda, karena saya bukanlah Bupati Karangasem, dan hanya kebetulan berasal dari Karangasem.
“Swastiastu, Pak Mekel!” Saya akan menjawab dengan bercanda juga. Karena tentu saja ia bukan Pak Mekel atau kepala desa.
Keramahan Ketut Santosa selalu membuat suasana sekolah hidup. Lantunan genjek yang ia nyanyikan mengisi setiap sudut sekolah sembari mencabut rumput liar yang ada di halaman sekolah.
Sapaan santun Ketut Santosa dan nada bicara yang terbata-bata ketika serius mungkin menjadi ciri khasnya dalam berbicara. Kata “bos” tak ragu dia sematkan kepada siapa pun yang ia ajak bercanda.
Dan candaannya masih melekat walau sudah tidak menjadi keluarga besar SMPN 3 Sukasada lagi. Saya sering menirukan polahnya ketika saya menyiram tanaman di jam istirahat. misalnya menirukan candaannya dan kidung serta genjek yang biasa ia lakukan ketika menyiram tanaman seperti biasanya.
Candaan itu hilang ketika pada pertengahan bulan September, ia berpamitan dari SMPN 3 Sukasada untuk berkarir di SMKN 1 Sukasada. Dengan senyum dan canda tawa ia membagikan nasi bungkus sebagai acara perpisahan. Di situlah terakhir kali saya bertemu langsung dengan Santosa dan tak pernah bertemu lagi sampai ia dipanggil kembali ke rumah sang pencipta.
[][][]
Lukis kaca nagasepaha berhasil diakui menjadi Warisan Budaya Tak Benda yang tercatat oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Santosa sukses membawa lukis wayang kaca yang mengambil tema Mahabarata dan Baratayudha dengan sentuhan kontemporer ini ke kancah internasional.
Terbukti banyak turis asing yang membeli hasil karyanya. Pameran-pameran bergengsi pun sering ia ikuti serta menjadi narasumber dalam workshop dan bincang-bincang seni.
Santosa kini meninggalkan seorang anak yang bekerja sebagai guru seni budaya di SMP Negeri 1 Sukasada dan aktif melukis kaca dengan tema yang lebih modern. Anaknya itu, I Made Wijana, yang sering disapa Mangut, menjadi generasi ke empat yang melestarikan Lukis Wayang Kaca Nagasepaha.
Kini seniman lukis kaca sudah berpulang, ia mendahului kita dan meninggalkan nama besar atas keberhasilannya mengharumkan nama Buleleng. Semoga ia mendapat tempat terbaik dan menyatu dengan Brahman. Terimakasih Pak Ketut Santosa, namamu akan tetap dikenang, sebagai maskot lukis kaca Nagasepaha.[T]
DERU puluhan sepeda motor bergema dari arah utara Kota Singaraja pada Senin, 29 Juni 2026. Satu per satu kendaraan itu bergerak perlahan melintasi Jalan Ngurah Rai menuju Gedung D...
Bali Kembali Diserang, Kali Ini Tanpa Ledakan
TANGGAL 12 Oktober 2002 menjadi salah satu hari paling kelam dalam sejarah Bali. Ledakan bom merenggut ratusan nyawa dan menggunca...
NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan usaha, hingga berbagai tr...
PEMBACA tak perlu mengukur jarak antara Plaju dan Hawkins, apalagi harus repot-repot mencari tahu apa yang hendak dihidangkan di sana, sebab keniscayaan yang akan pembaca dapati....
HAMPIR saja tim nasional sepak bola Republik Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026 yang dihelat di tiga negara, Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Iya, hampir saja. Itu berarti b...
Ketika anak-anak itu bermain riang, ruang Gedung Mario berubah menjadi area interaktif, sangat dinamis dan terkesan lebih hidup. Langit-langit tinggi dan tiang-tiang bangunan ikut...
KEMBALINYA seni Arja di Banjar Bukit Buwung, Kesiman, tidak dapat dipahami semata sebagai upaya revitalisasi kesenian tradisional, melainkan sebagai proses pemulihan roh kebudayaa...
IRONI terbesar abad ke-21 mungkin bukan ketika mesin mulai mampu berbicara. Ironinya justru ketika mesin mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang telah lama berhenti diajukan m...
PADA tahun 1999 sampai 2005 saya sempat membantu Bre Redana, mengkurasi karya-karya seni rupa yang berdialog dengan cerpen. Waktu itu, Bre Redaktur Kompas Minggu.
Bagi saya, it...