“Full Day School”, Bentuk Generasi Emas atau Generasi Cemas?
GELI juga membaca berita tentang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy yang menggagas sistem "full day school" untuk pendidikan dasar (SD dan SMP), baik negeri maupun...
KABUPATEN TABANAN punya dua kantong dengan isi Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang besar. Yakni obyek wisata Bedugul dan Tanah Lot. Konon, pada masa Orde Baru, PAD dari dua obyek itulah yang membiayai pembangunan di Tabanan.
Kini, Tabanan punya banyak obyek wisata. Namun, Tanah Lot tetap tak tergantikan. Bahkan Tanah Lot tetap menjadi primadona bagi tamu asing dan domestik yang berkunjung ke Bali.
Orang yang menjadi pelopor pengembangan obyek wisata Tanah Lot adalah I Gusti Gede Aryadi. Orang-orang biasa memanggilnya dengan penuh hormat dengan nama lengkap Mangku Lingsir I Gusti Gede Aryadi. Ia adalah Pemucuk/Pengenter Kahyangan Jagat Pura Luhur Pakendungan.
Pada Selasa, Anggara Kasih, 15 November 2022, sekira pukul 16.00 Wita, I Gusti Gede Aryadi yang dikenal sebagai Pengelingsir Jro Pandak, Pandak Gede itu telah berpulang dengan tenang.
“Kami menyampaikan terimakasih pada seluruh handai taulan yang telah menyampaikan doa dan simpatinya. Kami memohon maaf bila ada kesalahan yang beliau lakukan selama kehidupannya,” demikian tulis IGM Bagus Damara—anak dari I Gusti Aryadi—tentang berpulangnya sang ayah.
Berdasar pangeling-eling yang dikeluarkan Paemetonan Ageng Jro Pandak, Pandak Gede, upacara palebon dilaksanakan pada Sabtu, Saniscara Pon Gumbreg, 3 Desember 2022.
[][][]
Nama I Gusti Gede Aryadi memang tak bisa dilepaskan obyek wisata atau Daya Tarik Wisata (DTW) Tanah Lot yang masuk dalam wilayah Desa Beraban, Kecamatan Kediri, Tabanan.
Gusto Gede Aryadi yang lahir 2 Januari 1939 memang dikenal sebagai pelopor sekaligus memperkenalkan DTW Tanah Lot hingga dikenal di seluruh dunia.
Awalnya Tanah Lot itu semata-mata dikenal sebagai kawasan Pura yang tentu saja disucikan. Salah satu yang besar adalah Pura Tanah Lot. Pura itu berada di atas sebuah daratan kecil dengan daya tarik yang menakjubkan.
Selain Tanah Lot sebagai Pura besar, juga terdapat Pura Pakendungan yang berada di daratan sebelah barat. Serta terdapat lima Pura kecil, yakni Pura Enjung Galuh, Pura Penataran, Pura Batu Bolong, Pura Batu Mejan dan Pura Yangapi.
Semua Pura itu dijaga dan dirawat oleh I Gusti Gede Aryadi selaku pengurus pengempon Pura, tentu bersama umat lainnya.
Sejak tahun 1962, Gusti Gede Aryadi bersama didampingi istrinya, I Gusti Ayu Putu Sukada, mulai menanam pilar-pilar kelestarian Pura dan kawasannya. Ia melayani umat dalam kesehariannya dan mempersiapkan piodalan.
Penyungsung Pura itu adalah seluruh pekaseh subak di Tabanan yang jumlahnya mencapai 222 pekaseh carik (sawah) dan 200 subak abian (kebun).

Gusti Gede Aryadi semasa hidupnya | Foto: Facebook
Mulai tahun 1971 kawasan Tanah Lot mulai dikunjungi wisatawan asing. Awalnya, wisatawan yang datang sedikit dan tidaklah begitu rutin. Namun kehadiran turis mancanegara itu seakan-akan menjadi pertanda bahwa kawasan tepi pantai itu akan terkenal dan dikunjungi banyak wisatawan.
Ketika wisatawan datang ke Tanah Lot, ia kadang ikut menemani untuk melihat-lihat kawasan Pura selayaknya seorang pemandu wisata Dan, untuk menunjukkan keseriusannya dalam mendatangkan wisatawan, Gusti Aryadi pun menyempatkan diri untuk belajar Bahasa Inggris.
[][][]
Harapan muncul sekitar tahun 1974. Saat itu, Tabanan dipimpin oleh seorang Bupati, Staat Darmanaba. Bupati itu berasal dari kalangan militer yang berasal dari Buleleng.
Sebelum secara resmi menjadi Bupati, Staat Darmanaba sempat jalan-jalan ke Tanah Lot. Gusti Aryadi menjadi pemandu. Staat Darmanaba dan Gusti Aryadi keliling kawasan Pura. Terjalinlah persahabatan di antara mereka. Staat Darmanaba bahkan sempat menginap di rumah Gusti Aryadi.
Setelah resmi menjadi Bupati, Staat Darmanaba kemudian melakukan penataan terhadap kawasan Tanah Lot sehingga menjadi obyek wisata yang menarik.
Tempat parkir ibangun dengan memanfaatkan tanah Bendesa Adat Beraban Wayam Segel sekitar 32 are. Para pedagang juga ditata dengan tertib sehingga tidak ada pedagang yang berjualan di pinggir jalan. Jalan menuju objek kemudian diaspal. Sejak tahun 1975 listrik pun masuk kawasan Tanah Lot.
Pada pemerintahan Bupati Tabanan Soegianto keluarlah keputusan resmi per 1 Juni 1980 tentang pengelolaan Tanah Lot. Sesuai surat keputusan itu, intinya memutuskan bahwa obyek wisata Tanah Lot dikelola oleh Pemerintah Daerah Tabanan. Dan sebagai pengempon pura, Gusti Aryadi bertanggung jawab sebagai pengelolanya.
Setelah memegang Surat Keputusan Bupati, Gusti Aryadi secara lebih serius kemudian mengatur pedagang acung dan membangun pasar seni pada satu areal. Pedagang acung kemudian berjualan secara tetap di pasar seni sehingga suara kawasan menjadi tertib. Untuk promosi, Gusti Aryadi dengan rajin memperkenalkan Tanah Lot melalui media cetak.
Tahun 1982, Gusti Aryadi membangu Restoran Dewi Sinta selain juga membangun faislitas toilet di areal kawasan.
Gusti Aryadi memang dikenal sebagai pribadi yang ramah kepada siapa saja. Tak heran ia banyak punya teman dari berbagai kalangan, mulai dari pejabat tinggi hingga masyarakat biasa.
Untuk itulah para pemandu wisata yang kerap mengantar wisatawan ia ajak ngobrol selayaknya obrolan antarsahabat lekat.
Yang menarik, pemandu wisata yang mengantar wisatawan ke Tanah lot disuguhi air minum alami yang diambil dari pancuran. Gusti Aryadi sendiri kadang mengangkut air dari pancuran untuk disipakan sebagai air minum para pemandu wisata.
Tanah Lot makin terkenal dan wisatawan yang datang semakin ramai. Penataan kawasan wisata pun terus dilakukan. Antara lain membangun daya tarik dengan memanfaatkan air yang muncul di bawah Pura Tanah Lot.
Dari hasil penelitian terhadap kadar batu di bawah pura pada tahun 1993, ternyata ditemukan sumber air yang muncul sekitar 10 meter dari bawah tanah. Air itu kemudian dialirkan di bawah pura.
Di areal Pura juga dipertunjukkan berbagai aktivitas kesenian, seperti teketekan, legong, wayang dan topeng. Cara itu juga sebagai bentuk promosi pariwisata Tanah Lot.
Selain wisatawan asing dan domestic, pejabat tinggi pun kerap datang berkunjung ke Tanah Lot, seperti Wapres Sudarmono, Menteri Lingkungan Hidup Emil Salim, dan Wapres Sultan Hamenku Buwono.
Artis-arti nasional dan internasional juga berdatangan ke Tanah Lot sehingga Tanah Lot benar-benar menjadi kawasan wisata primadona. Apalagi, dari titik tertentu, wisatawan bisa melihat matahari tenggelam (sunset) dengan latar Pura Tanah Lot.
Pemandangan yang menakjubkan itu mulai terpampang pada lembar-lembar kalender, kartu pos, dan media massa. Keterkenalan Tanah Lot tak terbendung lagi hingga kini.
[][][]
Pada zaman reformasi sekira tahun 2000, pada masa kepemimpinan Bupati Nyoman Adi Wiryatama, kebijakan pengelolaan obyek wisata Tanah Lot diubah.
Bupati mengeluarkan kebijakan manajeman pengelolaan DTW Tanah Lot dilakukan oleh tiga pihak, yakni Pemerintah Kabupaten Tabanan, CV Arijasa Wisata (Gusti Aryadi selaku pendiri objek) dan Desa Adat Beraban.
Mulai 2011, ketika Tabanan dipimpin Bupati Ni Putu Eka Wiryastuti, perjanjian manajeman pengelolaan Tanah Lot yang sebelumnya tiga pihak diubah menjadi dua pihak yaitu Pemerintah Kabupaten Tabanan dan Desa Adat Beraban.
Meski tak terlibat sepenuhnya, Gusti Aryadi tetap semangat membangun Tanah Lot sebagai daya tarik wisata yang tiada tanding di dunia. Ia masih tetap memperhatikan kebersihan dan keamanan di kawasan Tanah Lot. Sebab, bagaimana pun, ketika orang bertanya tentang kisah Tanah Lot, sejarah akan tetap menyebut nama I Gusti Gede Aryadi.
Selamat jalan, Mangku Lingsir I Gusti Gede Aryadi. Perhatikan terus Tanah Lot dari sunia loka. [T][Ole]
GELI juga membaca berita tentang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy yang menggagas sistem "full day school" untuk pendidikan dasar (SD dan SMP), baik negeri maupun...
HAY, ges, Salam Sejahtera untuk ges ges semua di seantero jagad Indonesia tercinta. Semoga semua masih dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa dan selalu memegang teguh ideologi Panca...
RATUSAN anak mendadak berlarian dari sisi barat dan timur Taman Lumintang, Denpasar. Mereka menghambur begitu saja di tengah-tengah lapangan. Mereka menari, berlari, kejar-kejaran,...
Cerpen: Surya Gemilang PARA pengunjung Taman Palakosa dibuat menganga pada sore itu oleh kehadiran seorang pria bertubuh kekar yang wajahnya abnormal; ia bermata tiga—m...
RASANYA baru kemarin saya menjadi mahasiswa semester 6 dan kini sudah beranjak ke semester 7. Segala pahit getir hari-hari di semester 6 yang agak jahanam akhirnya bisa saya lalui...
“Dadi minum, sakewale abedik!” begitu pesan luhur dari Sembroli. Dan kalimat itu dikatakan berkali-kali. Setiap kali menyebut “pesan luhur”, ia selalu angkat gelas dan menenggak ar...
PAGI tadi aku duduk di sebuah kursi taman di belakang gedung kampusku yang baru. Sudah tiga hari aktivitas ini aku lakukan. Aku pun sebenarnya tidak betul-betul tahu untuk apa dan...
MEDIA Sosial tentunya memberikan banyak manfaat. Mulai dari sarana untuk mengekspresikan diri, bertukar informasi, mencari lebih banyak teman, bahkan untuk menjalankan sebuah bisni...
BELAJARLAH pencitraan dari kuliner khas Buleleng, terutama dari lawar getih. Karena pencitraan itu adalah pertunjukan tentang “rasa dan kesan” yang serupa antara apa yang dilihat m...
SINTHA Pramadewi terlihat serius melihat aksara demi aksara yang tertulis di atas selembar daun lontar. Dengan terbata-bata ia berusaha membaca aksara demi aksara, yang ukurannya t...