BULELENG ADALAH kabupaten terluas di Bali. Hal itu tak bisa dibantah. Selain itu, Buleleng juga dikatakan sebagai daerah nyegara-gunung. Artinya, secara geografis, Buleleng berada di daerah pesisir pantai sekaligus di wilayah perbukitan.
Laut luas dan bukit-bukit itu pasti saja memiliki potensi besar, secara ekonomi, budaya, juga politik. Lihat saja bentangan garis pantainya yang terpanjang di Bali, sudah pasti memiliki potensi yang sangat besar, belum lagi jumlah penduduk yang terbanyak di Bali. Penduduk yang besar adalah potensi, juga aset.
Bicara masalah potensi, secara umum Buleleng memiliki potensi sebagai syarat utama Buleleng bisa maju.
Pertama, potensi alam. Sudah diakui dan disadari potensi alam Buleleng sangat luar biasa. Sejarah mengatakan seperti itu. Untuk hasil bumi, Buleleng selalu memiliki hasil bumi yang premium, seperti beras, buah-buahan, hasil perikanan dan sebagainya.
Dulu, Buleleng terkenal kaya karena hasil buminya. Sebut saja jeruk di Bondalem, beras di Sudaji, anggur di Gerokgak, kopi di di wilayah desa perbukitan semisal Wanagiri, Sekumpul, Busungbiu, Munduk dan lain-lain.
Kadang-kadang miris rasanya jika mendengarkan, kita punya banyak sumber air tapi justru daerah kita kerap dilanda kekeringan. Daerah yang potensial untuk pertanian, justru banyak petani sekarang menjerit.
Dulu, Buleleng juga sebagai daerah pelabuhan yang mampu mengespor sapi ke Singapura atau negara lain. Tapi sekarang? Semua itu tinggal cerita Ini menjadi keprihatinan.
Potensi yang kedua adalah potensi manusia atau sumber daya manusia. Dengan jumlah penduduk yang besar, dan Buleleng sebagai kota pendidikan, tentu sudah sangat banyak melahirkan manusia-manusia yang berkualitas di bidangnya.
Banyak orang orang hebat dari Buleleng memegang posisi strategis dan berhasil di daerah lain bahkan di luar negeri.
Potensi yang ketiga, potensi politik. Politik dalam berkehidupan peranannya sangat besar unt kemajuan dan kesejahtraan rakyatnya. Dengan jumlah penduduk terbesar di Bali, tentunya merupakan aset politik yang luar biasa.
Saat ini pejabat-pejabat politik dari Buleleng, baik di pusat maupun di tingkat Provinsi, jumlahnya bisa dikata sangat banyak. Ada dua anggota DPR RI dari Buleleng, ada Gubernur Bali yang orang asli Buleleng. Ini adalah aset yang luar biasa.
Tentu kita sangat percaya kepada pejabat-pejabat politik di pemerintahan pusat dan di Bali karena mereka memang diakui sebagai orang-orang hebat. Dengan kehebtana mereka, bisa diyakini mereka terus berjuang untuk Buleleng yang masih dianggap tertinggal dari kabupaten lain di Bali.
Jadi, ada setidaknya tiga potensi besar di Buleleng, yakni SDA (sumber daya alam), SDM (sumber daya manusia), dan SDP (sumber daya politik). Jika ketiga potensi itu dikelola dengan baik, niscaya tidak ada alasan Buleleng tidak maju.
Semua tergantung dari masyarakat dan pengambil kebijakan, apakah menyadari adanya potensi ini?
Tidak kalah pentingnya juga, Buleleng adalah daerah dengan kekuatan spirit yang luar biasa, dengan nyegara-gunung-nya. Kekuatan ini sering terabaikan.
Menguatkan spirit itu bisa dilakukan dengan menjaga dan memelihara keseimbangan sekala-niskala. Dengan menjaga keseimbangan itu niscaya kehidupan masyarakat Buleleng akan semakin maju, dan masyarakatnya sejahtera.
Dan tentunya keseimbangan itu harus dimulai dari diri kita sendiri. Ibarat kita sedang berselancar, semakin besar ombak semakin kencang dan semakin ketat kita menjaga keseimbangan selancar dan tubuh agar tidak terjerembab ke air.
Dengan selalu menjaga keseimbangan, niscaya kita tidak mungkin akan tenggelam dalam lautan kehidupan.
Itu artinya, membangun daerah sama dengan membangun diri sendiri, membangun jiwa dan raga, seperti lagu Indonesia Raya, bangunlah jiwanya bangunlah raganya, Orientasi pembangunan ke fisik penting, tapi jangan sampai mengabaikan pembangunan jiwa—justru banyak contoh, yang hadir di sekitar kita, bahwa secara materi dan kedudukan di sekala baik, tapi tetap kelihatan dan dirasakan rapuh ketika lalai terhadap pembangunan jiwa dengan spirit yang kuat.
Ada hal menarik yang saya dapatkan ketika saya bertemu dengan pengusaha sukses yang berasal dari orang yang tidak mampu secara ekonomi. Prestasinya pun saat di bangku sekolah ia bukan termasuk pintar.
Pengusaha itu mengatakan, kalau kita kurang pintar, pakailah atau gunakanlah kepintaran orang lain. Kalau kita terbatas dari sisi modal, gunakanlah modal orang lain. Dan kalau kita terbatas dari tenaga maka gunakan tenaga orang lain. Dan dengan konsep keseimbangan itu,. niscaya kita tidak akan tenggelam dalam lautan kehidupan.
Begitu juga seperti laying-layang dengan konsep keseimbangan, maka kita akan bisa terbang, bahkan justru ketika angin kencang malah layang layang akan semakin tinggi terbangnya. [T]
Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara membutuh...
SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran International Automodified (...
Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu panggung, keindahan kimono...
KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I Gede Lecir dan adiknya, I Made Geta...
SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka Fine Art Gallery, Gianyar, yang terletak di Jl. Pro...
KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan telinga seakan terpikat oleh keselarasan ekspresi (...
Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari. Itu pun jari kiri. Saya tidak tahan dengan k...
LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada.
Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol, lubang di setiap pengunci pintu, dan l...
Pelancong Gersang
Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah.
Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,mema...
"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah."
Kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Namun, bagi Singaraja, ia dapat m...