17 Agustus 2016, Belum Semua Anak Indonesia Merdeka
MERAYAKAN Hari Kemerdekaan memang bukan sebuah keharaman. Wajar saja rakyat Indonesia merayakannya. Betapa tidak, karena kemerdekaan ini diraih dengan iuran darah para pejuang terd...
“Pertanian adalah ibu dari kebudayaan masyarakat Bali. Pertanian melahirkan tata cara yang menjadi lelaku masyarakat Bali untuk senantiasa hidup harmonis bersama alam,” Itu kata Kadek Wahyudita, kelian Penggak Men Mersi.
Penggak Men Mersi adalah sebuah yayasan yang bermarkas di Denpasar yang selama ini punya gerakan progresif di bidang pengembangan seni dan budaya.
Pada sebuah ajang festival pertanian, di Lapangan Timur Renon, Denpasar, Jumat malam, 4 November 2022, Penggak Men Mersi menampilakn garapan Kerta Masa, sebuah garapan seni pertunjukan,--sesuai judulnya—diambil dari sebuah istilah dalam kehidupan social masyarakat Bali agraris.
Kerta masa adalah sebuah kondisi dimana masyarakat hidup teratur, makmur dengan pangan yang berlimpah, dan bahagia dalam balutan seni dan keindahan.
Garapan seni ini menampilkan berbagai jenis kesenian rakyat agraris seperti Jegog, Rindik, Okokan, dan Gong Suling, dikemas sedemikian rupa untuk menerjemahkan gagasan Kerta Masa.

Salah satu garapan dalam Kerta Masa dari Penggak Men Mersi
Pada garapan itu Penggak Men Mersi berkolaborasi dengan kelompok seni, sanggar komunitas di Bali, yakni Sanggar Gumiart, Sekaa Gong Suling Gita Semara, Sekaa Okokan Sanggar Seni Kebo Iwa, Haridwipa Gamelan dan Sekaa Jegog dan Rindik Gora Yowana Jembrana. Sekitar 75 orang seniman terlibat dalam garapan yang berdurasi 90 menit itu.
Sanggar Gumiart diiringi gamelan Gong Suling menampilkan garapan tari yang menghibur sekaligus penuh makna. Mereka menampilkan garapan Ngapat.
Ngapat merupakan sebuah karya yang terinspirasi dari sasih kapat (musim semi) dimana bunga-bunga sedang bermekaran. Pada musim inilah para seniman dan pujangga mendekatkan diri pada alam untuk melahirkan karya seni yang bermutu.
Ngapat dalam konteks karya ini menggambarkan keceriaan masyarakat agraris menikmati keindahan alam dan melimpahnya anugrah hasil pertanian.
Kesenian Okokan dan tektekan juga tampil memikat. Kesenian ini wujud dari kesenian khas kabupaten Tabanan. Kesenian ini awalnya termasuk ke dalam kesenian sakral yang dipentaskan saat pertanian mengalami gagal panen atau pertanian diserang oleh hama. Kesenian ini dipentaskan untuk memohon kehadapan ibu pertiwi agar segala musibah dan penyakit yang yang melanda pertanian dilenyapkan.
Berikutnya sebagail sajian pamungkas pengunjung dimanjakan sajian kesenian Jegog yang membawakn tari “Luihing Paksi”dan tari joged. Tari Luihing Paksi adalah sebuah tari kreasi yang menggambarkan tentang tari jalak Bali sebagai ikon Bali Barat. Tari ini ditarikan oleh tiga orang gadis dengan iringan gamelan Jegog. Sedangkan tari joged tak kalah serunya, dua penari tampil sekaligus menghibur penonton dengan berjoged di atas panggung.
Seperti kata Kadek Wahyudita, garapan pertunjukan itu memang mengimplentasikan pertanian, di mana sektor agraris inilah yang menjadi sumber pangan yang menghidupi masyarakat Bali.
Berkah kesuburan alam dan hasil panen yang berlimpah melahirkan wujud syukur yang diekspresikan dengan puspa ragam keindahan dalam bentuk seni musik dan tari.
“Inilah Kerta Masa, sebuah nilai adi luhung yang hingga kini eksis dalam kehidupan sosial masyarakat Bali. Kerta ikang Jagad, Rahayu ikang Rat,” kata Kadek Wahyudita.
Kadek Wahyu menekankan, garapan ini, merupakan aktualisasi agraris mengantarkan pada sentuhan pertanian menjadi esensi bermakna ganda. Realita pertanian nyata berbentur modernisasi dan interpretasi manusia dengan Tuhan, manusia dengan alam serta manusia dengan manusia menjadi sisi, gelap dan terang.
“Kenyataan kesejahtaraan menuju pangan jasmani rohani seimbang di era globalisasi menjadi pesan musik teatrikal pelestarian pertanian ini,” kata Wahyudita.[T][Ado/*]
MERAYAKAN Hari Kemerdekaan memang bukan sebuah keharaman. Wajar saja rakyat Indonesia merayakannya. Betapa tidak, karena kemerdekaan ini diraih dengan iuran darah para pejuang terd...
Semalam di tengah gempita dentuman suara sound sistem, saya mengkhayal dibayar 150 juta untuk mengajar 34 jam per minggu, wah pasti kaki saya tidak akan pernah pegal saat berdiri d...
KETIKA mengantar seorang teman untuk membeli sepatu sebagai keperluan bekerja di sebuah instansi pemerintah, kami sempat terlibat obrolan singkat yang pada intinya alas kaki tidak...
BANGKUNG mepalu adaang di Buleleng, jeg pasti rame! Asal gratisss! Iya, babi betina saling sruduk digelar di Buleleng, pasti ramai penontonnya. Apalagi Slank pentas gratisan. Kutik...
MENJELANG Hari Galungan biasanya banyak warga adat menggelar karya gede di Pura. Karya Gede di sebuah Pura merupakan hari yang ditunggu-tunggu warga. Di situ banyak orang akan mema...
ADA semacam mitos yang tampaknya bisa menghantui keluarga Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Buleleng dalam Pilkada, Februari 2017. Yakni, kenyataan bahwa sejak era refor...
AKU adalah ruh sebuah negeri. Negeri nun jauh di sana. Tubuhku bersandar pada pegunungan yang berbaris rapi. Di hadapan mataku terhampar laut utara yang begitu tenang. Mungkin kare...
HALO, kawan sebangsa dan setanah air, sudah makan apa hari ini? Tahu? Tempe? Semoga Tuhan selalu memudahkan rejeki kita, agar tahu dan tempe selalu dapat terbeli. Tahu dan tempe m...
KISAH percintaan memang tak pernah habis jika dibicarakan. Virus-virus cinta dapat tumbuh di mana saja dan kapan saja. Tak seorangpun bisa menduga hal tersebut. Salah satu ajang ya...
I dan Ni oleh banyak orang dianggap title “wong jaba” padahal ini adalah honorific yang generic. I dan Ni adalah honorific. I semacam Mr dan Ni semacam Ms. I dan Ni bukan hanya di...