Topeng Tugek Carangsari – Memainkan Topeng Mengolah Karakter
KALANGAN Ayodya di Taman Budaya Bali, malam itu begitu riuh. Gelak tawa dan tepuk tangan terus berganti. Penonton berjejalan. Duduk berdesak-desakan. Banyak yang akhirnya duduk les...
I Ketut Suryadi, atau lebih terkenal dengan nama Boping Suryadi, turut serta dalam pameran Bali Megarupa tahun 2022 bersama lebih dari seratus pelukis lainnya. Boping memamerkan karya lukisan dengan gaya dekoratif primitive sebagaimana gaya yang ditekuni sejak masih kuliah di tahun 1980-an.
Yang menarik dibicarakan dari Boping Suryadi adalah perjalanannya dalam dunia kesenian. Dunia seni yang disukainya itu, sejak tahun 1990-an tidak berjalan sendirian. Dunia yang digeluti harus beriring jalan dengan dunia politik yang kemudian juga ia tekuni dengan serius.
Ia tercatat sebagai kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), pernah menjadi Ketua DPRD Tabanan dan kini duduk di kursi DPRD Bali. Ia punya pencapaian di bidang seni, punya prestasi juga di bidang politik.
Namanya juga jalan beriringan. Kadang memang dunia politik berada di depan, kadang dunia seni yang memimpin di depan. Namun, di depan atau di belakang, dua-duanya ditekuninya dengan cara yang khas. Dalam dunia politik ia tak kehilangan keaslian dirinya, kritis dan tak segan bilang hitam jika itu memang hitam. Putih jika putih.
Dalam dunia seni ia tak kehilangan ciri. Karya-karyanya mencerminkan pencarian terus-menerus, pada garis maupun bentuk. Ia seakan tak sudi ikut-ikutan, apalagi ikut trend dan selera pasar. Dekoratif primitive adalah pencariannya, dan ia ngotot untuk tetap berada di tempat itu dan menemukan hal-hal baru.
Saya membaca tulisan I Wayan Suardika di sebuah majalah bertahun-tahun lalu tentang Boping Suryadi dan karya-karyanya. Judul tulisannya, saya ingat, “Boping Suryadi: Pemberontakan Bangku Sekolah”.
Wayan Suardika menulis:
Boping Suryadi percaya, sebagai mahasiswa grafis di Program Studi Seni Rupa Unud, ia merasa harus mencari sendiri berbagai kemungkinan teknik, gagasan, wawasan seni rupa dan kematangan batin, selain mendengar segepok teori dari dosen. Tetapi ketika kebebasan pencarian kreatif itu terbentur pada kekakuan kartu administrasi, serta sikap kebebasan tak menemukan bentuknya, ia memberontak dari bangku sekolah. Ia keluar dari almamater padahal ia nyaris menjadisarjana. “Aku tak mendapatkan apa-apa di kampus,” kata pelukis kelahiran Bajera, Tabanan, ini.
Boping Suryadi memang keluar dari kampus, tetapi tetap melukis. Untuk menerapkan pencariannya pada gaya dekoratif primitive ia sempat menekuni bisnis kaos dengan brand Rock Art. Kaos yang diproduksi Rock Art berisi lukisan-lukisan dekoratif primitive khas Boping. Rock Art sempat terkenal, namun kemudian surut setelah banjirnya kaos-kaos produksi dari luar yang kemudian jadi kegemaran anak muda Bali saat itu.

Lukisan Boping Suryadi, "Catatan Hitam Putih", 140X120, akrilik di atas kanvas, yang dipamerkan pada Pameran Bali Megarupa 2022 di Museum ARMA
Boping Suryadi sempat berpameran dengan tajuk Sketsa Hitam Putih bersama pelukis lain seperti Made Budiana dan I Made Dijirna. Lukisan hitam putih memang menjadi ladang pencarian Boping sejak lama. Karena meurutnya, melukis hitam putih itu lebih sulit dari melukis warna. “Hitam putih itu asli, tak tertutup warna-warna,” kata Boping saat diajak ngobrol, Senin (10/10/2022).
Kapan ia masuk dunia politik? “Aku sejak SMA sudah masuk politik. Rumahku (di Bajera) sejak dulu sudah jadi rumah politik,” kata Boping.
Jiwa politik memang tak jua pernah hilang dari diri Boping, meski jiwa seni juga tetap bercokol dalam dirinya. Ia berpolitik aktif sejak sekitar tahun 1992. Tentu ia masuk dengan idealisme seorang seniman. Di sela kesibukan kerjanya di meja parlemen, ia mengurus anak-anak muda di Tabanan yang suka musik dan puisi.
Ia menggagas Komunitas Anak Angin yang di dalamnya berisi anak-anak muda suka musik dan menciptakan pergaulan kreatif. Ia juga menggagas acara Kemah Budaya dengan materi-materi workshop seni semacam workshop musik, teater dan sastra. Sawung Jabo, musisi Indonesia yang berkarakter itu, hampir selalu berhasil ia gaet untuk mau memberi workshop musik bagi anak-anak muda di Tabanan dalam acara Kemah Budaya itu.
Boping, di sela-sela berpusingnya ia dalam pusaran politik, juga tetap menjalin pergaulan dengan teman-temannya yang seniman, baik seniman lukis, sastra maupun musik. Untuk tetap melekatkan pergaulan dalam dunia kesenian sekaligus mengukuhkan jiwa berkeseniannya, ia turut serta dalam pameran Bali Magarupa tahun 2022 ini.
Catatan Hitam Putih
Pameran Bali Megarupa adalah pameran seni rupa kolosal, bagian utuh dari Festival Seni Bali Jani (FSBJ) IV tahun 2022. Pameran mengangkat tajuk “Ranu-Wiku-Waktu” (Semesta Cipta Sastra Rupa) dengan kurator Prof. Dr. Wayan Kun Adnyana, Anak Agung Gde Rai dan Prof. Adrian Vickers.
Pameran ini diikuti 117 seniman berbagai aliran, gaya, dan medium; seni lukis, patung, fotografi, kriya, keramik, instalasi, media campuran, dan seni rupa video. Perupa termuda berusia 20 tahun dan yang paling sepuh 69 tahun. Tidak sedikit diantaranya merupakan seniman bereputasi nasional dan internasional.
Ada empat venue pameran terpilih yang memajang karya-karya rupa para seniman itu, yakni Gedung Kriya Taman Budaya Provinsi Bali, Museum Puri Lukisan, Museum Seni Neka dan Museum ARMA.
Karya Boping Suryadi dipamerkan di Museum ARMA bersama sejumlah perupa lainnya. Lukisan yang dipamerkan Boping berjudul Catatan Hitam Putih, acrylic di atas kanvas dengan ukuran 140x120. Lukisan yang dipamerkan, ya seperti disebut di awal, tetap dengan gaya dekoratif primitive. Hitam putih.
“Yang dipajang di pameran satu saja. Lumayan masih banyak (lukisan) di rumah,” kata Boping.
Lukisan yang dipajang di pameran Bali Megarupa itu adalah hasil dari proses melukis di sela-sela kesibukannya menjadi wakil rakyat. Selain melukis, ia juga tetap menulis puisi sebagaimana ia lakukan sejak mahasiswa.
Asal tahu saja, Boping adalah penulis puisi yang handal. Karya-karya puisinya beberapa kali dimuat di media massa, seperti Bali Post Minggu. Oh ya, dia juga salah satu pendiri Sanggar Minum Kopi, sebuah sanggar sastra yang terkenal pada tahun 1980-an dan 1990-an.
“Saya masih sempat melukis dan bikin puisi, kalau tidak di laptop atau di kertas dan di kanvas, saya biasa corat-coret di HP. Corat-coret sket, spontan. Lukisan hasil spontan banyak,” ujar Boping.
Boping mengaku masih setia melukis hitam putih. “Hitam putih itu sukar. Harus berani dengan goresan. Itu asli,” katanya.
Lukisan Catatan Hitam Putih sepertinya memang karya Boping yang dibuatkan dengan begitu sungguh-sungguh. Pada lahan kanvas bertebaran sketsa bentuk dan wajah primitive yang seakan-akan diatur secara rapi, tetapi mengesankan ruang liar tanpa batas.
Ada sketsa wajah, sketsa binatang, bentuk-bentuk pohon, benda-benda tak dikenal. Dengan melihat sketsa-sketsa yang amat dekoratif itu bisa dibayangkan sebuah dunia primitive di masa lalu, sekaligus juga bisa dipadankan pada dunia masa kini, terutama tentang kegelisahan-kegelisahan batin manusia masa kini yang kadang terperangkap pada kotak nasib, namun di sisi lain punya ambisi untuk selalu berada di tengah kotak itu.

Salah satu lukisan berwarna karya Boping Suryadi
Masa lalu dalam lukisan Boping barangkali disuguhkan oleh bentuk. Namun masa kini dibentuk oleh pikiran sendiri, citaraan sendiri, dan kesan sendiri yang ditangkap dari lukisan itu.
Sketsa atau lukisan, atau puisi yang dibuat Boping memang mengandung tema tentang kegelisahan batinnya sebagai manusia, sebagai seniman sekaligus sebagai politis di Republik Indonesia ini. Ia menyimpan kegelisahan itu, lalu menuangkannya dalam bentuk sketsa dan lukisan.
“Ya biasalah, karya saya cerminan dari gejolak batin, gejolak politik dan sosial, juga gejolak republik ini,” kata Boping.
Ngomong-ngomong, apa tak ingin menggelar pameran tunggal?
“Lukisan saya banyak. Itu bertumpuk-tumpuk di rumah. Untuk sementara saya ikut pameran bersama dulu,” sahut Boping.
Namun, nanti mungkin lukisan yang dibuat sejak ia masih remaja itu dikumpulkan, dikurasi dengan cermat, lalu bisa digelar pameran tunggal sebagai presentasi perjalanan Boping sebagai pelukis. Mari ditunggu saja. [T]
Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja
KALANGAN Ayodya di Taman Budaya Bali, malam itu begitu riuh. Gelak tawa dan tepuk tangan terus berganti. Penonton berjejalan. Duduk berdesak-desakan. Banyak yang akhirnya duduk les...
JIKA di atas meja belajar anda terdapat dua buah benda yaitu gadget dan buku, manakah yang akan anda pilih? Saya percaya, demi sinetron kesukaan ibu-ibu di tivi, kebanyakan dari a...
LAGU anak-anak itu kadang unik, terutama liriknya. Saat Taman Kanak-Kanak dulu kita tidak begitu hirau dan memang tak banyak mengerti arti dan maksud lagunya itu apa. Cuma nyanyi d...
BALI merupakan kepulauan seribu pura yang telah terkenal sejak zaman dahulu. Masyarakat Bali tak lepas dari Tri Hita Karana yang merupakan landasan kehidupan beragama dan beradat....
JIKA benar harga rokok setinggi langit biru, dan jika benar harga tinggi itu bisa menghentikan orang merokok, dan (siapa tahu) nanti benar-benar tak ada yang merokok, bagaimana nas...
PERNAH nyuluh jangkrik? Zaman saya kecil, di desa saya di Jembrana, nyuluh jangkrik (memburu jangrik malam hari) adalah kegemaran saya dan teman sebaya. Jauh-jauh sebelumnya, bapak...
Cerpen: Putri Handayani HAMPIR setiap hari Griya Siwa tidak pernah sepi dari orang-orang yang ngayah1. Mulai dari membuat sarana upakara sampai meracik tirta, semua dilakukan oleh ...
KELAHIRAN istilah 'simakrama' menarik untuk ditelusuri. Awalnya istilah ini yang lebih mengarah pada padanan kata 'silahturahmi', yang mencerminkan keinginan untuk berbicara dan sa...
ADA serombongan remaja sedang berebut peran. Mereka akan menjadi pelakon sandiwara dalam perayaan Agustusan tingkat RT. Peran konglomerat, menteri, dokter, mahasiswa, semua mereka...
GARIS berliku itu menyerupai sungai. Lebar di hulu kemudian menyempit di hilir. Warnanya hijau, biru, dan jingga. Garis berliku serupa sungai itu membelah lukisan menjadi dua bagia...