Eka Wahyuni yang biasanya dipanggil Echa adalah salah satu peserta dalam Temu Seni Tari Indonesia Bertutur 2022 yang diselenggarakan di Bali oleh Kemendikbud.
Echa begitu ramah, cara tuturnya lembut, dan murah senyum, sampai-sampai saya merasa tidak ada jarak di antara kita. Setiap berbicara, ia selalu tersenyum, dan saya rasa, secara tidak langsung itu membuat siapa pun yang bicara padanya reflek untuk ikut tersenyum.
Eka Wahyuni dalam sesi Sharing Method di Pura Gunung Kawi
Saat saya tanya tentang awal mula ia terjun ke dunia tari, garis bibirnya tampak mulai tertarik lagi. Dengan senyuman kecil itu, ia mengisahkan pengalamannya menari saat masih duduk di bangku kelas 1 SD. Kelanjutan pertemuannya dengan tari terjadi pada semester akhir kuliah. Ia begitu senang menari. Tentu. Tari yang paling sering ia tarikan adalah tari gong yang berasal dari Kalimantan Timur.
Menurut Echa tari Gong dikenal oleh masyarakat sebagai tari tradisi Kalimantan Timur, khususnya suku Dayak Kenyah. Tari ini secara umum dikenal sebagai pertunjukan di mana ada seorang gadis yang menari di atas sebuah gong.
Echa juga menambahkan bahwa tari tersebut kemudian berkembang pada saat dipentaskan di luar daerah. Perkembangan tersebut berupa atraksi antara dua orang penari laki-laki yang membawakan tarian perang. Siapa pun nanti yang menang dalam tarian itu, ia akan tampil dengan penari wanita.
Eka Wahyuni dalam sesi Sharing Method di Amatara Agung Raka, Ubud
Sampai pada cerita Echa tentang tari tersebut, saya mulai merasa diajak masuk pada ketertarikan yang sama. Tapi dalam waktu yang terbatas itu, saya memilih untuk melanjutkan pertanyaan mengenai praktik artistiknya. Ia menjawab bahwa ia sudah berproses untuk menelisik lebih dalam dan membaca tari gong dari berbagai sudut pandang. Ia merasa jenuh saat hanya disuruh menarikan tari itu tanpa tahu sejarah dan asal usulnya.
Eka Wahyuni dalam sesi Sharing Method di Amatara Agung Raka, Ubud
“Aku merasa ketika aku jadi penari itu kosong, aku gatau apa-apa,” ungkapnya.
Perempuan tamatan S1 sastra inggris ini menelusuri dan mengulik tari tersebut mulai dari sejarah, latar sosial, dan lain sebagainya. Tapi menurutnya, yang ia dapatkan tetap sama saja. Hanya terbatas pada tari yang di tarikan oleh seorang wanita di atas gong yang menceritakan tentang kelembutan gadis dayak.
“Ah… masak cuman itu aja?” gumamnya seolah mengulangi kegelisahannya sebelumnya. Tapi situasi itu justru ia anggap sebagai satu pesona tari gong yang justru membuatnya semakin penasaran untuk menelusuri tari itu lebih lanjut.
Melihat informasi yang didapat tentang tari gong masih sangat minim, Echa kemudian membuka praktik dengan mulai mengenali tubuh tari gong itu terlebih dahulu. Dan pada tahun 2016 “Pesona” sesi 1 mulai terbentuk.
Eka Wahyuni (memegang mic) dalam sesi diskusi setelah program Napak Tilas di Pura Samuan Tiga
Perjalanan Echa meluapkan rasa penasarannya terhadap tari gong membuatku ikut terpesona. Berangkat dari kekosongan yang ia rasakan sebagai seorang penari, kemudian menghantarkannya kepada parktik artistik yang sebenarnya juga di luar konteks keilmuan yang ia tekuni.
Echa jeli membaca hal yang belum sempat terbaca oleh masyarakat umumnya. Menariknya, ia berharap tarian itu tidak hanya dikenal sebagai sebuah tari untuk kepentingan pariwisata. Meskipun demikian, ia tidak menutup kemungkinan dari situasi itu, ia sadar akan hal-hal yang mungkin saja bisa hadir di balik situasi yang demikian.
Eka Wahyuni (baju hitam) dalam sesi presentasi karya tari di Mandala Wisata, Desa Bedulu
Echa kemudian lanjut bercerita tentang karyanya pada malam pementasan di Mandala Wisata, depan Pura Samuan Tiga, Desa Bedulu Gianyar. Pementasan ini adalah proses dari karya pesona sebelumnya. Dimana ia menyadari bahwa orang mempunyai sudut pandangnya sendiri terhadap suatu hal. Termasuk sudut pandang mereka dalam melihat tari gong.
Sudut pandang itu bisa datang dari alat komunkasi yang digunakan yakni hp. Maka ia dalam karyanya mencoba untuk mengarahkan para kolaborator untuk mengambil gambar bagian tubuh dari seorang penari yang terus bergerak.
Mereka diarahkan untuk mengambil sudut-sudut yang berbeda untuk mendapatkan hasil berdasarkan dari sudut yang difoto tersebut. Menurut saya, itu bisa menjadi salah satu cara kita mengetahui sudut pandang seseorang terhadap suatu hal, di mana cara itu memungkinkan mereka menarik kesimpulan berdasarkan dari apa yang mereka tatap. [T]
DERU puluhan sepeda motor bergema dari arah utara Kota Singaraja pada Senin, 29 Juni 2026. Satu per satu kendaraan itu bergerak perlahan melintasi Jalan Ngurah Rai menuju Gedung D...
Bali Kembali Diserang, Kali Ini Tanpa Ledakan
TANGGAL 12 Oktober 2002 menjadi salah satu hari paling kelam dalam sejarah Bali. Ledakan bom merenggut ratusan nyawa dan menggunca...
NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan usaha, hingga berbagai tr...
PEMBACA tak perlu mengukur jarak antara Plaju dan Hawkins, apalagi harus repot-repot mencari tahu apa yang hendak dihidangkan di sana, sebab keniscayaan yang akan pembaca dapati....
HAMPIR saja tim nasional sepak bola Republik Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026 yang dihelat di tiga negara, Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Iya, hampir saja. Itu berarti b...
Ketika anak-anak itu bermain riang, ruang Gedung Mario berubah menjadi area interaktif, sangat dinamis dan terkesan lebih hidup. Langit-langit tinggi dan tiang-tiang bangunan ikut...
KEMBALINYA seni Arja di Banjar Bukit Buwung, Kesiman, tidak dapat dipahami semata sebagai upaya revitalisasi kesenian tradisional, melainkan sebagai proses pemulihan roh kebudayaa...
IRONI terbesar abad ke-21 mungkin bukan ketika mesin mulai mampu berbicara. Ironinya justru ketika mesin mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang telah lama berhenti diajukan m...
PADA tahun 1999 sampai 2005 saya sempat membantu Bre Redana, mengkurasi karya-karya seni rupa yang berdialog dengan cerpen. Waktu itu, Bre Redaktur Kompas Minggu.
Bagi saya, it...