Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan yang dih...
Bila direnungi semakin dalam, setiap masalah yang sering disebut "cobaan", sesungguhnya adalah proses alami nan Ilahi yang tidak bisa dihindari oleh setiap orang. Kesalahan persepsi tentang kata "cobaan", membuat pikiran dan emosi tersudut secara psikologis, mengakibatkan keraguan hidup yang pada akhir berujung pada kegelisahan akibatnya juga bisa strees.
Oleh karena itu "cobaan" mesti disadari sebagai proses yang diakibatkan karma masa lalu dan gerak keinginan karma saat ini. Pergulatan kedua sifat karma ini mengakibatkan terjadinya "proses" untuk mencapai tujuan. Besar kecil, tinggi rendahnya cita-cita memerlukan perjuangan dan pengorbanannya masing-masing. Itulah struktur kebenaran alamiahnya.
Setiap proses memerlukan "cara" yang berpengetahuan material dan spiritual, sehingga langkah-langkah proses terkendali dalam ruang "penyadaran" yang "normatif" untuk mencapai tujuan yang sesungguhnya.
Ketidaksadaran dan ketidakcerdasan logika dan spirit, mengakibatkan terjadinya kepincangan emosional yang berdampak sosial terus berlanjut.
Realitas inilah menggema berorientasi tunggal yaitu materi-materi dan materi yang mencipta situasi saling cokrah lalu berdalih dengan kata: "cobaan". Oleh karena itulah sadar kembali pada tujuan dan perjuangan hidup, yang memerlukan "pengorbanan" bukan saja material dan energi tetapi juga emosi, yang bergerak diantara kesantunan dan kejahatan.
Pergulatan inilah yang menentukan nilai yang mengakibatkan seseorang menembus cobaan mencapai keberhasilan. Saat itulah keluhan tentang cobaan berubah nikmat menjadi rasa syukur. Itulah edukasi mental dan moral yang berbeda-beda wujudnya bagi setiap orang.
Berbicara "kesantunan" walaupun amat sulit terkondisi di jaman ini, tetapi itulah pondasi keberhasilan. Ketidaksadaran terhadap nilai kenujuran dan kesantunan etika, justru mengakibatkan seringkali menjungkalkan teman dengan cara tidak santun. Oleh karena itu membangkitkan rasa persaudaraan dan toleransi adalah memuliakan jiwa kita masing-masing.
Realitas kondusif inilah menjembatani cita-cita dan tujuan serta energi kasih terhubung, hingga energi material maupun energi suci mengalir dengan sendirinya dan pasti terus mengalir, karena wadah dengan sistem kerjanya telah teratur dengan baik. Itulah hukum semesta.
Memaknai realitas dan kebenaran sistem alamiah inilah edukasi hidup sesungguhnya. Tetapi persoalannya kini, berpikir instan dan cepat adalah paradigmanya. Realitasnya banyak terjebak tipu daya melalui jaringan teknologi canggih. Promosi dimulai dari "kejujuran sementara dan manus-manis di awal", lalu setelah besar, akibat terjebak angan-angan, saat itulah Pedanda Baka Cangak Meketu, seperti digambarkan dalam cerita Tantri, menghilang tanpa jejak. Lalu mangsa yang tertipu terpelongo usap-usap jari. Akhirnya usul sana usul sini, akhir menguras isi kantong kembali.
Saat itulah pengetahuan untuk menahan diri mewaspadai segala bentuk penipuan dalam iming-iming kaya dengan cepat, demikian pula iming-iming sorga di dunia lain, lalu siap hancur dan menghancurkan dirinya sendiri.
Iming-iming yang mencoba menggangu stabilitas berpikir cerdas intelek, emosional dan spiritual mesti menjadi kekuatan nalar mengantisipasi dogma-dogma material dan spiritual, agar kembali pada struktur hukum kerja yang berpengetahuan suci, hingga saatnya kelimpahan materi mampu memperlacar mewujudkan kesejahteraan jasmani dan rohani. Ketika sudah demikian "cobaan sudah menjadi satu kesatuan dengan tujuan"
Semoga menjadi renungan dan refleksi.
PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan yang dih...
Catatan tentang AI, media sosial, dan manusia yang semakin sulit mendengar suara hatinya sendiri. KADANG-KADANG saya merasa bahwa perubahan terbesar pada manusia hari ini buk...
Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu, tahun 1945, Soekarno menyampaikan...
BAYANGKAN sebuah dunia tanpa warna, tanpa garis, dan tanpa bayangan sejak pertama kali kamu membuka mata di dunia. Bagi kebanyakan dari kita yang terbiasa mendominasi hari dengan...
BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor itu ternyata bukan makhluk g...
DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah ini. Karena cinta pertama ayahku bukanlah ibuku. Itu agak...
BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai sekitar 6,4 juta kilometer perse...
PAGI di Desa Muncuk Sari selalu datang dengan cara yang sama. Perlahan, lembut, seperti tangan yang membelai tanpa suara. Kabut tipis menggantung di atas sawah, dan embun menempel...
Kelambu Suatu hari, aku bicara dengan kelambuDia berkeluh kesah tentangmalam itu doa-doakutidak sengaja tersangkut di ketiaknyaIa bilang ia khilaf dan karena ibutidak mau mencu...
Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang ditopang oleh pariwisata, investasi...