Banyak hal menarik dari Ubud—bagi masyarakat lokal maupun turis mancanegara—Ubud tempat yang istimewa, perpaduan yang sempurna bagi siapa saja yang ingin rehat sejenak dari kepenatan kota dan segala hiruk pikuknya, dan Ubud melahirkan banyak seniman.
Ni Komang Ayu Anantha Putri, salah satu peserta Temu Seni Tari Indonesia Bertutur 2022 yang berprofesi sebagai penari sekaligus koreografer menjadi bagian dari Ubud setelah menikah. Ayu Anantha—begitu ia kerap disapa—tinggal dan besar di Denpasar, dan telah dekat dengan dunia tari sejak kecil.
Ni Komang Ayu Anantha Putri (selanjutnya akan ditulis sebagai Ayu) dekat dengan seni tari sejak usia 4 tahun, dimulai ketika ia membeli VCD Tari Bali produksi ISI Denpasar. Lalu, ia mencoba mengikuti gerakan tari yang ia tonton, dan sejak saat itu, orang tua Ayu melihat potensi dalam diri anak perempuan mereka. Ayu lalu masuk ke Sanggar Young Bali Sun di Museum Sidik Jari yang beralamat di Jalan Hayam Wuruk, Denpasar.
Ia dilatih oleh dua orang guru yang kemudian ia akui bahwa kedua guru itu begitu berpengaruh dalam perkembangan kemampuan tarinya, guru itu adalah Ibu Ipung Lingriati dan Ibu Wiwik Joniarta. Selama enam tahun, Ayu mempelajari dasar tari, namun setelah itu ia sempat vakum di umur sekitar 11 atau 12. Merunut Ayu, hal ini membuat ketubuhannya kaku dan fokusnya berubah. Ia justru ingin melanjutkan pendidikan di bidang psikologi.
Ela Mutiara Jaya Waluya (kiri) dan Ni Komang Ayu Anantha Putri (kanan) dalam percakapan sebelum berangkat ke Pura Gunung Kawi.
Namun Tuhan seperti telah memilihkan jalan untuk Ayu agar kembali menggeluti seni tari. Karena tidak lolos di Jurusan Psikologi, Ayu akhirnya melanjutkan pendidikan di Jurusan Seni Tari ISI Denpasar. Ia pun harus berjuang keras untuk bisa mengembalikan ketubuhannya yang sempat kaku di masa-masa ia tak lagi menari. Latihannya membuahkan hasil, ia bersama teman-temannya menjadi contoh bagi mahasiswa lain, dan mendapatkan perhatian dari dosennya. Hal ini tak lepas dari proses latihan dan konsistensi Ayu selama menekuni seni tari di dunia perkuliahan.
Proses kreatif Ayu selama berkuliah di ISI Denpasar juga tak lepas dari peran mendiang I Nyoman Sura, seorang dosen olah tubuh ISI Denpasar yang memperkenalkannya pada seni kontemporer. Ayu belajar sebuah hal penting dari I Nyoman Sura, yaitu tentang percaya pada tubuh sehingga tubuh bisa memiliki kekuatan yang nantinya berpengaruh pada proses penggarapan tari itu sendiri.
Hal ini juga lekat dengan proses Ayu menggali gagasan untuk penggarapan tarinya yaitu diawali dengan rasa keingintahuan akan sesuatu yang kemudian dipahami lebih mendalam. Setelah itu, Ayu melakukan eksplorasi entah sebagai penari maupun koreografer. Salah satu contohnya bisa ditemukan di karya Ayu yang berjudul “Born to Reborn”, menceritakan pengorbanan seorang Ibu yang mengandung janin selama 9 bulan. Hal ini tak lepas dari pengalaman pribadinya, yang ketika itu, sebagai calon ibu yang sedang hamil 9 bulan. Penggalian ini dibarengi dengan risetnya melalui buku-buku kedokteran untuk mengetahui proses kelahiran manusia secara biologis.
Ni Komang Ayu Anantha Putri (paling kanan) berbagi metode dalam sesi Sharing Methode di Pura Gunung Kawi
Penggalian gagasan ini juga tampak saat acara Temu Seni Tari Indonesia Bertutur 2022—yang diadakan oleh Kemendikbudristek melalui Direktorat Perfilman, Musik, dan Media, Direktorat Jenderal Kebudayaan—khususnya setelah kunjungan ke situs Pura Gunung Kawi di Tampaksiring, Gianyar. Ayu mengamati perubahan dan peralihan fungsi dari Pura Gunung Kawi seperti konsep Kaja Kelod yang dimaknai sebagai perubahan tempat yang disucikan ke tempat yang telah mendapatkan modernisasi alias menjadi daerah wisata. Hal ini seperti bagaimana Ayu memandang Ubud.
Ayu melihat Ubud sebagai healing area (tempat penyembuhan) yang menjadi obat lelah bagi siapa saja yang berkunjung. Ubud juga mengalami akulturasi budaya yang membuatnya unik di mana adat istiadat yang kuat dipadukan dengan gaya dari luar yang membuat tradisi dan modernisasi berjalan beriringan.
Penampilan Ni Komang Ayu Anantha Putri dalam Temu Seni Tari Indonesia Bertutur 2022 pada program kunjungan Budaya, di Teges Kanginan, Ubud.
Ni Komang Ayu Anantha Putri (kiri) tampil bersama Gede Agus Krisna Dwipayana (kanan) dalam Temu Seni Tari Indonesia Bertutur 2022
Hal ini juga terlihat dari kegiatan Ayu yang tak hanya fokus menjadi penari dan koreografer namun juga mengembangkan Kerta Art Performance yang menjadi wadah bagi anak-anak, baik lokal maupun mancanegara untuk belajar tari Bali, sekaligus belajar Bahasa Inggris. Kegiatan di Kerta Art Performance meliputi latihan tari Bali yang diadakan setiap hari Jumat dan latihan olah tubuh dan storytelling di hari Sabtu.
Tak hanya itu, setiap bulannya, terdapat program Guest Teacher of the Month dimana akan ada guru dari luar yang akan mengajar anak-anak. Selain itu, Kerta Art Performance juga membuka donasi yang mana 70% donasinya akan diserahkan kepada seniman, dan 30% untuk keperluan sanggar. Kedepannya, Ayu berharap untuk bisa memiliki yayasan yang sekiranya akan menjadi tempat bagi Ayu dan teman-temannya untuk berkesenian.
Tampaknya, Ubud sebagai tempat penyembuhan telah menubuh dalam gagasan Ayu, sebagaimana tari menjadi jalannya untuk memahami kelahiran, melakukan gerakan sosial untuk anak-anak, dan membaca perkembangan di lingkungan terdekatnya. [T]
Setiap bertemu orang yang bertanya, “Sudah kerja? Kerja di mana sekarang?” Saya kesal. Selalu kesal. Bukan lantaran karena tak punya pekerjaan. Namun betapa bingung mesti dengan ap...
Judul Buku: Cupak Tanah – Enam Naskah Drama
Pengarang : Putu Satria Kusuma
Penerbit : Mahima Institute Indonesia
Tahun Terbit : 2015
Jumlah Halaman : xvi + 216 halaman
ISBN :978-60...
Lucu itu pembawaan, tak bisa dipaksakan. Tidak banyak orang yang fasih melucu. Kebanyakan orang gigih mencoba melucu, justru jadinya tidak lucu. Kalaupun kemudian ada yang tertawa,...
SETIAP zaman punya ciri khasnya masing-masing. Zaman kita saat ini adalah zaman ‘dunia maya’. Dan, setiap zaman selalu melahirkan sejumlah konflik. Zaman kita sekarang ini melahirk...
Bila ditanya, manakah karya sastra yang benar-benar mampu berbaur dengan segala hal, barangkali puisilah jawabannya. Sebagaimana ia diistilahkan dengan berbagai nama di setiap bida...
KETIKA ideologi komunis atau sosialis dikatakan bangkrut, lantas apa yang mendasari kedatanganku ke kuburan Karl Marx, lelaki yang identik dengan ideologi itu?
"Untuk memenuhi ras...
Bali memahami konflik dengan sangat bijaksana. Ia adalah konsep rwa binedha, pertentangan yang menjadi satu, pertentangan yang melahirkan dinamika dan keberlangsungan hidup.
Ada ru...
Judul Buku: EKSPLO(RA)SI TUBUH - ESAI-ESAI KURATORIALSENI RUPAPenulis: HardimanPenerbit: Mahima Institute IndonesiaTebal : viii + 307 ISBN : 978-602-18311-7-5 Buku Eksplo(ra)si Tub...
Judul Buku : Perempuan Tanpa Nama
Pengarang : Kadek Sonia Piscayanti
Penerbit : Mahima Institute Indonesia
Tahun Terbit : 2015
Jumlah Halaman : x + 288 halaman
ISBN :978-602-18311-...
Berbahagia sekali saya masih diberi kesempatan untuk bernapas, kemudian tadi pagi masih berak dengan lancar, dan menyusun pidato ini dengan keadaan suhu tubuh serta kejiwaan yang n...