17 Agustus 2016, Belum Semua Anak Indonesia Merdeka
MERAYAKAN Hari Kemerdekaan memang bukan sebuah keharaman. Wajar saja rakyat Indonesia merayakannya. Betapa tidak, karena kemerdekaan ini diraih dengan iuran darah para pejuang terd...
Dalam melakukan satu kegiatan banyak orang mempertimbangkan hari baik. Dalam menentukan moment dalam hidup pun orang kerap mempertimbangkan tanggal cantik. Misalnya 22-2-22. Artinya tanggal tanggal 22 bulan Februari tahun 2022.
Belakangan, bahkan banyak orang tua ingin dan bisa memilih hari atau tanggal tertentu untuk kelahiran bayi mereka. Jika dulu semua orang tua yang sedang menunggu kelahiran anaknya berharap anaknya lahir sehat dan ibunya selamat, maka kini ada keinginan tambahan: si anak bisa lahir pada tanggal yang cantik.
Tanggal cantik bisa juga berhubungan dengan tanggal lahir orang tuanya atau tanggal lahir tokoh idola orang tuanya, tanggal mulai pacaran orang tuanya, atau tanggal yang dianggap punya kenangan yang amat romantis.
Ini bisa dianggap fenomena. Sering kita mendengar keinginan orang tua untuk kelahiran anaknya agar lahir pada hari dan tanggal tertentu yang dianggap cantik atau istimewa. Dan, kadang itu menjadi satu alasan kenapa persalinan yang dipilih adalah persalinan dengan operasi, selain juga alasan yang lain seperti takut sakit, atau bahkan dengan lahir normal dianggap akan merusak jalan lahir ibunya.
Operasi tentu tidak salah. Karena untuk alasan tertentu, operasi memang bisa jadi satu-satunya cara. Namun jika alasannya hanya untuk memilih hari dan tanggal kelahiran, maka sebaiknya keinginan itu bisa direnungkan kembali .
Banyak orang tidak sadar bahwa awal kehamilan, saat sedang hamil, dan proses melahirkan, adalah hal-hal mendasar yang dialami seorang bayi untuk hidupnya di di dunia di masa ke depan. Proses itu punya pengaruh terhadap kesehatan fisik maupun kesehatan psikologis, sosial dan spiritual sang bayi.
Proses dan waktu yang dijalani dari awal hamil dan proses melahirkan bahkan bisa menjadi dasar pertumbuhan dan perkembangan karakter sang anak ke depannya.
Daniel Goleman (2005) menyatakan bahwa setiap janin di dalam kandungan memiliki dua hal yang disebut signature strength (bakat baik) dan signature weakness (bakat buruk). Dalam pertumbuhan dan perkembangan bayi, kedua dasar itu berkembang sangat dipengaruhi oleh pikiran, sikap, dan prilaku ibu yang sedang mengandung . Ketika saat hamil ibu senantiasa berpikir dan berprilaku baik atau positif, maka bakat baik (signature strength) itu akan dominan muncul, begitu sebaliknya.
Dalam kisah Mahabharata, dikisahkan Dewi Subadra, istri Arjuna, sedang hamil. Bayi yang dikandungnya adalah anaknya yang kelak bernama Abimanyu.
Saat hamil, Dewi Subadra mendengar dialog Arjuna dengan Kresna. Dialognya membahas tentang strategi perang melawan Korawa. Saat itu diketahui, dalam perang nanti Korawa akan memakai strategi formasi Cakra Wahyu. Dan saat itulah Kresna menyampaikan strategi bagaimana cara bisa masuk ke formasi Cakra Wahyu yang diterapkan Korawa. Pada bagian itu Dewi Subadra ikut mendengar.
Dan pada saat dialog membahas strategi untuk keluar dari cengkraman formasi Cakra Wahyu, Dewi Subadra tidak mendengarnya karena tertidur.
Seperti diketahui, saat Abimanyu dewasa ia turut berperang melawan Korawa. Ia bisa masuk dan menembus pertahanan formasi Cakra Wahyu, tapi saat keluar ia tidak bisa dan Abimanya terbunuh.
Dari kisah itu, sering orang-orang tua kita di Bali berpesan bahwa pada saat hamil ini, seorang ibu sesungguhnya sedang miasa (mengendalikan diri) untuk selalu menanamkan sikap dan berpikir yang positif.
Pesan itu tentu saja benar. Karena apa yang dipikirkan, apa yang diucapkan dan apa yang dilakukan seorang ibu hamil akan direkam oleh bayi dalam kandungannya. Benar dikatakan bahwa sekolah pertama dari bayi itu adalah ada di dalam kandungan, dan guru pertama dari bayi itu adalah ibunya.
Dan proses persalinan pun juga berpengaruh pada karakter sang bayi ke depannya. Dan sejatinya pada saat bayi itu mau lahir normal dan melewati jalan yang sempit, sebenarnya bayi itu sedang berjuang untuk mendapatkan kehidupannya.
Dan dari proses melahirkan inilah sejak dini bayi dididik bahwa untuk mendapatkan kehidupan harus berjuang, sehingga ketika bayi itu besar maka kecendrungannya akan sangat menghargai proses dan siap berjuang untuk menghadapi tantangan kehidupan yang semakin kompleks.
Karena itulah maka saya sebagai dokter kandungan selalu menyarankan ibu-ibu yang akan menjalani persalinan untuk siap dan mau berproses dalam persalinan normal. Bukan berarti operasi tidak baik. Operasi tetap baik apabila proses normal tidak memungkinkan dilakukan.
Dan sekarang justru muncul fenomena melahirkan dengan cara operasi dengan alasan mencari tanggal cantik dan hari baik untuk kelahiran sang bayi. Menurut saya, alasan itu kurang baik. Karena sejatinya waktu melahirkan yang baik itu adalah waktu yang sudah ditentukan oleh alam, dan sesuai hukum alam maka bayi bisa menentukan hari kelahirannya sendiri, tanpa harus dijadwalkan pada hari yang dipilih oleh orang lain.
Keyakinan saya, ketika kita bersandar pada alam, maka alam pasti akan berpihak pada kita.
Mari kita simak cerita kelahiran Drestarata, Pandu dan Widura yang memiliki kharakter berbeda-beda. Hal ini sangat erat kaitannya dengan bagaimana sikap dan prilaku ibu saat proses pembuahan.
Saat Dewi Ambika (ibu dari Drestarata) menerima kedatangan Bagawan Abyasa, ia memejamkan matanya saat berhubungan suami istri karena takut melihat rupa yang menyeramkan, maka lahirlah Drestarata yang buta. Begitu juga saat Ambalika menerima kehadiran Bagawan Abyasa dengan wajah pucat karena ketakutan maka lahirlah Pandu dengan kondisi yang pucat. Berikutnya saat menerima Bagawan Abyasa dengan senang hati, gembira dan tidak ada pikiran negatif dalam hatinya maka lahirlah Widura yang bagus rupanya, suci hatinya dan setia kepada dharma.
Cerita itu memberikan pesan bahwa untuk membuat keturunan yang baik harus dimulai baik dari diri kita. Ketika landasan dan dasarnya baik atau unggul, maka akan lahir anak-anak yang berkualitas yang tentunya akan siap menghadapi tantangan hidup ke depannya yang tentunya juga semakin berat.
Untuk itu, jalani proses dengan baik. Beri landasan bagi sang bayi, mulai dari awal kehamilan hingga proses kelahiran.{T]
MERAYAKAN Hari Kemerdekaan memang bukan sebuah keharaman. Wajar saja rakyat Indonesia merayakannya. Betapa tidak, karena kemerdekaan ini diraih dengan iuran darah para pejuang terd...
Semalam di tengah gempita dentuman suara sound sistem, saya mengkhayal dibayar 150 juta untuk mengajar 34 jam per minggu, wah pasti kaki saya tidak akan pernah pegal saat berdiri d...
KETIKA mengantar seorang teman untuk membeli sepatu sebagai keperluan bekerja di sebuah instansi pemerintah, kami sempat terlibat obrolan singkat yang pada intinya alas kaki tidak...
BANGKUNG mepalu adaang di Buleleng, jeg pasti rame! Asal gratisss! Iya, babi betina saling sruduk digelar di Buleleng, pasti ramai penontonnya. Apalagi Slank pentas gratisan. Kutik...
MENJELANG Hari Galungan biasanya banyak warga adat menggelar karya gede di Pura. Karya Gede di sebuah Pura merupakan hari yang ditunggu-tunggu warga. Di situ banyak orang akan mema...
ADA semacam mitos yang tampaknya bisa menghantui keluarga Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Buleleng dalam Pilkada, Februari 2017. Yakni, kenyataan bahwa sejak era refor...
AKU adalah ruh sebuah negeri. Negeri nun jauh di sana. Tubuhku bersandar pada pegunungan yang berbaris rapi. Di hadapan mataku terhampar laut utara yang begitu tenang. Mungkin kare...
HALO, kawan sebangsa dan setanah air, sudah makan apa hari ini? Tahu? Tempe? Semoga Tuhan selalu memudahkan rejeki kita, agar tahu dan tempe selalu dapat terbeli. Tahu dan tempe m...
KISAH percintaan memang tak pernah habis jika dibicarakan. Virus-virus cinta dapat tumbuh di mana saja dan kapan saja. Tak seorangpun bisa menduga hal tersebut. Salah satu ajang ya...
I dan Ni oleh banyak orang dianggap title “wong jaba” padahal ini adalah honorific yang generic. I dan Ni adalah honorific. I semacam Mr dan Ni semacam Ms. I dan Ni bukan hanya di...