Gabriela
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
Rabu 10 Agustus 2022 –Berawal gelap, di sunyi seluruh ruang, cahaya menyala dari sebuah pintu. Di pintu putih cahaya yang bisa dibayangkan sebagai pintu kelahiran itu, nampak kepompong tubuh lelaki. Ia menggeliat dalam kondisi terbalik serupa kelelawar, menggantung; nungkalik. Suara-suara terdengar dari kejauhan menjelma bisik, atau barangkali pula begitu dekat serupa mantra. Lelaki itu membuka kain-kain yang membungkus seluruh tubuhnya, mencari jalan kepulangan sekaligus keberangkatan.
Begitulah dramatic dance performance berjudul Nungkalik dari Kitapoleng Deaf bermula. Nungkalik adalah sebuah kisah yang ditata Jasmine Okubo berdasarkan pengalaman pribadi Wahyu, lelaki itu, yang seluruh penampilnya melibatkan teman tuli. Di panggung itu, Wahyu menatap sekeliling. Pandangannya teduh, tatapannya tulus. Sesekali, ia meremas jari. Di jari-jari itulah ia menyimpan suaranya. Dengan jari-jari itulah ia mulai berkisah.
Wahyu lahir dengan kondisi fisik normal. Ia tumbuh dengan normal, tak ada bedanya. Ia memiliki hidung yang sama untuk bernafas, bibir yang sama untuk berbicara, telinga yang sama untuk mendengar. Itu yang disangka banyak orang, dan Wahyu berharap itu benar. Tapi setelah ulang tahun pertama, orang tuanya mengabarkan bahwa ia ada kelainan: tidak bisa bicara, juga mendengar.
Dalam karya berdasarkan naskah yang ditulis Wendra Wijaya, Wahyu mengajak penonton berbincang. Tapi tentu saja, suaranya tak terdengar. Ia memang tak bisa mengeluarkan suara, tapi bukan berarti ia malas dan lemah. Ia pernah bunuh diri dengan cara melompat dari jembatan, namun ia tak terluka. Di akhir fragmen, sebuah teks muncul dari layar visual: Saya Wahyu dan saya kuat, walau kadang tak berdaya. Bisakah kita berteman, walau tanpa suara?

Wahyu terguncang, jatuh sedalam-dalamnya. Pasca percobaan bunuh diri, Wahyu menjumpai Kanda Pat, empat saudara berwujud halus yang selalu mengiringi roh (sukma) manusia dari dilahirkan hingga meninggal. Ia berkeluh tentang hidup yang tak adil, mengeluhkan intimidasi, diskriminasi, sekaligus krisis kepercayaan yang dialami.
Adegan ini diterjemahkan secara apik oleh Dibal Ranuh sebagai artistic director, dengan memainkan visual art bersama Aditya dari Apik Creative. Dalam visualisasi itu, nampak benar upaya menerjemahkan perasaan-perasaan terdalam seorang Wahyu; ada nganga luka dalam keriangan. Seperti Wahyu yang menutup luka-luka dalam tubuhnya dalam tawa dan penerimaan yang utuh. Adakah sepi yang lebih sepi selain kematian berkali-kali? Perasaan ini selalu lekat dalam tubuhnya yang terluka. Dalam tubuhnya yang menyimpan percik, namun selalu siap berkobar dalam nyala yang cemerlang.
Kelahiran
Pintu selalu terbuka bagi segala keresahan. Dalam tubuhnya yang terluka, tangan-tangan gaib meraih Wahyu menuju arah cahaya. Salsa, Yogi, dan Ayu, para penari bisu-tuli itu, menjadi bayang-bayang dari pengalaman hidupnya. Mereka menari, melepas keresahan hati dalam imaji musik yang diciptakan Yogi Sukawiadnyana. Di sekelilingnya, di tengah diskriminasi dan intimidasi yang dialaminya, Wahyu tidaklah sendiri. Di luar sana, masih banyak yang mengalami nasib serupa. Dan di luar sana, masih banyak pula orang yang peduli terhadap penyandang disabilitas seperti Wahyu, Salsa, Yogi, juga Ayu. Tak banyak memang, tapi mereka ada. Mereka selalu ada, walau kadang tak terlihat.

Pimpinan produksi Pranita Dewi menjelaskan, Nungkalik yang telah di pentaskan pada Sabtu (6/8) di Museum Nasional Jogjakarta dalam program Artjog 2022 itu membuka ruang kesadaran bagi siapa pun yang menyaksikannya. Mereka merasakan suara-suara terbenam yang memanggil-manggil, dan mampu disuarakan Wahyu di atas panggung pertunjukan. Salah seorang penonton, Fai, yang juga disabilitas asal Boyolali mengatakan kisah dan perasaan-perasaan yang dialami Wahyu sama persis dengan apa yang dirasakannya selama ini.
“Teman-teman tuli berusaha menunjukkan kemampuan yang awalnya diremehkan oleh orang-orang dengar yang menganggap kita berbeda, gak bisa setara, diskriminasi. Banyak banget cacian dan makian, juga kekecewaan. Tapi kita berusaha menampilkan kemampuan kita. Sangat-sangat berusaha. Dan di panggung ini, kalian menunjukkan bakat kalian sebagai penari, sangat-sangat membuat merinding. Sangat terasa,” katanya melalui bahasa isyarat seraya berharap isu-isu ini bisa dibawa kemana-mana.
Anif dari Komunitas Bawayang Jogjakarta mengatakan pertunjukan yang diawali dengan kesunyian di dunia yang ramai ini membuatnya merinding. Juga tentang upaya mereka menunjukkan keberanian, untuk menghadapi orang-yang yang menganggap teman tuli berbeda karena memiliki kemampuan. Ia berharap, Kitapoleng bisa membawa isu-isu ini sampai ke internasional dan membawa kesadaran luas untuk memutus stigma bagi teman tuli.
Sementara Koreografer Jasmine Okubo menjelaskan kehadiran dirinya dalam panggung Nungkalik bisa dikatakan hampir 90 persen tidak ada gunanya. Metode yang ia terapkan bagi teman-teman tuli ini adalah dengan cara melepas apa yang mereka rasakan. “Ada beberapa metode yang sifatnya conducting benar-benar bermanfaat. Tapi saya itu lebih ke bagian-bagian tertentu yang harus ada klik-nya antara koreografi dan musik. Jadi hampir 90 persen saya di sana itu gak ngapa-ngapain. Cuma, saya kadang menjadi Ibu mereka. Jadi kalau saya gak ada mereka panik,” jelasnya.
Jasmine menambahkan, terkadang ia melepas teman-teman tuli dalam pertunjukan. Mereka pun sesungguhnya bisa membawakan tarian selayaknya orang normal. “Kelebihan teman tuli, mereka bisa menari secara konsisten sebab mampu menjaga dan mempertahankan tempo musik yang sama dalam diri mereka masing-masing,” pungkasnya.

Pertunjukan Nungkalik malam itu ditutup dengan adegan sarat makna. Di sebuah kendi berisi air, ia membenamkan dirinya. Ia memurnikan dirinya, mengurai segala kemelekatan dalam diri sebab air dipercaya sebagai media penyucian. Fragmen ini disempurnakan oleh kidung dari Peni Candra Rini. Suaranya yang menyayat adalah nyanyian keresahan dalam tubuh yang terluka. Suaranya yang nyaring-tajam serupa keinginan untuk melepas kelemahan menjadi kekuatan. Di kendi itu pula Wahyu memotong rambutnya, membebaskan diri dari kemelekatan sebelumnya untuk memulai kehidupan dalam kemurnian, kemuliaan dan keyakinan akan penerimaan hidup yang lebih sempurna.
Pertunjukan Nungkalik di panggung itu berakhir sudah. Namun pertunjukan Wahyu, Salsa, Yogi, Ayu, dan teman tuli juga disabilitas lainnya masih akan terus berlanjut, entah sampai kapan.
Barangkali, hingga diskriminasi dan intimidasi tak ada lagi dan suara-suara mereka bermekaran di setiap hati.[T][Ole/*]
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
TIGA RAMU MENGKUDU Daun; Petiklah aku Tiga kepik muda Ramu padu dengan segenggam garam Dan tiga biji beras genggam Hingga padu resep moyang Hingga...
BAGAIMANA harus melukiskannya, sebagian besar anak kos (mahasiswa) memang dikenal selalu mumet dengan hiruk pikuk perekonomian. Dari media sosial, hingga sosial media, tahu perekon...
Bayangkan sebuah hutan hujan tropis dengan vegetasi yang hanya terdiri dari satu jenis pohon, atau sebuah partitur musik yang notasinya hanya tersusun dari nada ‘do’. Menjemukan se...
Saya salah satu penikmat tari. Saya lahir dari darah seorang ibu, yang dikala mudanya pernah menjadi Penari Zapin Melayu, di salah satu sanggar yang boleh dikata cukup tua di Ponti...
BEBERAPA bulan lagi, tahun akan segera berpindah. Bali punya acara spesial di tahun 2017 & 2018. Suksesi pemegang otoritas pemerintahan provinsi dan beberapa kabupaten di Bali...
MENJADI kota niscaya menjadi modern. Premis ini berlaku pada cara pandang yang menempatkan dua kutub berbeda antara kota dan desa. Desa diasumsikan berbau tradisional, kota identik...
PARA penggiat sastra dan teater di Bangkalan, Madura, Jawa Timur, bersorak ketika dua penulis dari kota itu, Joko Sucipto (puisi) dan Arung Wardana (drama), lolos untuk tampil dala...
Cerpen: Satia Guna Sebutlah aku wanita, mahluk yang menikmati penderitaan dengan berbagai macam rasa sakit. Sebutlah aku tanah, yang selalu diinjak tanpa menerima r...
KABAR DARI ZWOLLE Kenalkan aku pada wangi musim gugur Di tengah pesta roti dan remah-remahnya Yang terbang mengitari sungai Lalu singgah di beranda penuh cerita &n...