“Jesus Bless You” – Tentang Saya dan Agama
SAYA suka lagu-lagu yang memberikan getaran yang baik pada suasana hati dan hidup saya. Karena itu saya menggunakan aplikasi karaoke di smartphone untuk memudahkan saya menyanyi di...
Rabu 10 Agustus 2022 –Berawal gelap, di sunyi seluruh ruang, cahaya menyala dari sebuah pintu. Di pintu putih cahaya yang bisa dibayangkan sebagai pintu kelahiran itu, nampak kepompong tubuh lelaki. Ia menggeliat dalam kondisi terbalik serupa kelelawar, menggantung; nungkalik. Suara-suara terdengar dari kejauhan menjelma bisik, atau barangkali pula begitu dekat serupa mantra. Lelaki itu membuka kain-kain yang membungkus seluruh tubuhnya, mencari jalan kepulangan sekaligus keberangkatan.
Begitulah dramatic dance performance berjudul Nungkalik dari Kitapoleng Deaf bermula. Nungkalik adalah sebuah kisah yang ditata Jasmine Okubo berdasarkan pengalaman pribadi Wahyu, lelaki itu, yang seluruh penampilnya melibatkan teman tuli. Di panggung itu, Wahyu menatap sekeliling. Pandangannya teduh, tatapannya tulus. Sesekali, ia meremas jari. Di jari-jari itulah ia menyimpan suaranya. Dengan jari-jari itulah ia mulai berkisah.
Wahyu lahir dengan kondisi fisik normal. Ia tumbuh dengan normal, tak ada bedanya. Ia memiliki hidung yang sama untuk bernafas, bibir yang sama untuk berbicara, telinga yang sama untuk mendengar. Itu yang disangka banyak orang, dan Wahyu berharap itu benar. Tapi setelah ulang tahun pertama, orang tuanya mengabarkan bahwa ia ada kelainan: tidak bisa bicara, juga mendengar.
Dalam karya berdasarkan naskah yang ditulis Wendra Wijaya, Wahyu mengajak penonton berbincang. Tapi tentu saja, suaranya tak terdengar. Ia memang tak bisa mengeluarkan suara, tapi bukan berarti ia malas dan lemah. Ia pernah bunuh diri dengan cara melompat dari jembatan, namun ia tak terluka. Di akhir fragmen, sebuah teks muncul dari layar visual: Saya Wahyu dan saya kuat, walau kadang tak berdaya. Bisakah kita berteman, walau tanpa suara?

Wahyu terguncang, jatuh sedalam-dalamnya. Pasca percobaan bunuh diri, Wahyu menjumpai Kanda Pat, empat saudara berwujud halus yang selalu mengiringi roh (sukma) manusia dari dilahirkan hingga meninggal. Ia berkeluh tentang hidup yang tak adil, mengeluhkan intimidasi, diskriminasi, sekaligus krisis kepercayaan yang dialami.
Adegan ini diterjemahkan secara apik oleh Dibal Ranuh sebagai artistic director, dengan memainkan visual art bersama Aditya dari Apik Creative. Dalam visualisasi itu, nampak benar upaya menerjemahkan perasaan-perasaan terdalam seorang Wahyu; ada nganga luka dalam keriangan. Seperti Wahyu yang menutup luka-luka dalam tubuhnya dalam tawa dan penerimaan yang utuh. Adakah sepi yang lebih sepi selain kematian berkali-kali? Perasaan ini selalu lekat dalam tubuhnya yang terluka. Dalam tubuhnya yang menyimpan percik, namun selalu siap berkobar dalam nyala yang cemerlang.
Kelahiran
Pintu selalu terbuka bagi segala keresahan. Dalam tubuhnya yang terluka, tangan-tangan gaib meraih Wahyu menuju arah cahaya. Salsa, Yogi, dan Ayu, para penari bisu-tuli itu, menjadi bayang-bayang dari pengalaman hidupnya. Mereka menari, melepas keresahan hati dalam imaji musik yang diciptakan Yogi Sukawiadnyana. Di sekelilingnya, di tengah diskriminasi dan intimidasi yang dialaminya, Wahyu tidaklah sendiri. Di luar sana, masih banyak yang mengalami nasib serupa. Dan di luar sana, masih banyak pula orang yang peduli terhadap penyandang disabilitas seperti Wahyu, Salsa, Yogi, juga Ayu. Tak banyak memang, tapi mereka ada. Mereka selalu ada, walau kadang tak terlihat.

Pimpinan produksi Pranita Dewi menjelaskan, Nungkalik yang telah di pentaskan pada Sabtu (6/8) di Museum Nasional Jogjakarta dalam program Artjog 2022 itu membuka ruang kesadaran bagi siapa pun yang menyaksikannya. Mereka merasakan suara-suara terbenam yang memanggil-manggil, dan mampu disuarakan Wahyu di atas panggung pertunjukan. Salah seorang penonton, Fai, yang juga disabilitas asal Boyolali mengatakan kisah dan perasaan-perasaan yang dialami Wahyu sama persis dengan apa yang dirasakannya selama ini.
“Teman-teman tuli berusaha menunjukkan kemampuan yang awalnya diremehkan oleh orang-orang dengar yang menganggap kita berbeda, gak bisa setara, diskriminasi. Banyak banget cacian dan makian, juga kekecewaan. Tapi kita berusaha menampilkan kemampuan kita. Sangat-sangat berusaha. Dan di panggung ini, kalian menunjukkan bakat kalian sebagai penari, sangat-sangat membuat merinding. Sangat terasa,” katanya melalui bahasa isyarat seraya berharap isu-isu ini bisa dibawa kemana-mana.
Anif dari Komunitas Bawayang Jogjakarta mengatakan pertunjukan yang diawali dengan kesunyian di dunia yang ramai ini membuatnya merinding. Juga tentang upaya mereka menunjukkan keberanian, untuk menghadapi orang-yang yang menganggap teman tuli berbeda karena memiliki kemampuan. Ia berharap, Kitapoleng bisa membawa isu-isu ini sampai ke internasional dan membawa kesadaran luas untuk memutus stigma bagi teman tuli.
Sementara Koreografer Jasmine Okubo menjelaskan kehadiran dirinya dalam panggung Nungkalik bisa dikatakan hampir 90 persen tidak ada gunanya. Metode yang ia terapkan bagi teman-teman tuli ini adalah dengan cara melepas apa yang mereka rasakan. “Ada beberapa metode yang sifatnya conducting benar-benar bermanfaat. Tapi saya itu lebih ke bagian-bagian tertentu yang harus ada klik-nya antara koreografi dan musik. Jadi hampir 90 persen saya di sana itu gak ngapa-ngapain. Cuma, saya kadang menjadi Ibu mereka. Jadi kalau saya gak ada mereka panik,” jelasnya.
Jasmine menambahkan, terkadang ia melepas teman-teman tuli dalam pertunjukan. Mereka pun sesungguhnya bisa membawakan tarian selayaknya orang normal. “Kelebihan teman tuli, mereka bisa menari secara konsisten sebab mampu menjaga dan mempertahankan tempo musik yang sama dalam diri mereka masing-masing,” pungkasnya.

Pertunjukan Nungkalik malam itu ditutup dengan adegan sarat makna. Di sebuah kendi berisi air, ia membenamkan dirinya. Ia memurnikan dirinya, mengurai segala kemelekatan dalam diri sebab air dipercaya sebagai media penyucian. Fragmen ini disempurnakan oleh kidung dari Peni Candra Rini. Suaranya yang menyayat adalah nyanyian keresahan dalam tubuh yang terluka. Suaranya yang nyaring-tajam serupa keinginan untuk melepas kelemahan menjadi kekuatan. Di kendi itu pula Wahyu memotong rambutnya, membebaskan diri dari kemelekatan sebelumnya untuk memulai kehidupan dalam kemurnian, kemuliaan dan keyakinan akan penerimaan hidup yang lebih sempurna.
Pertunjukan Nungkalik di panggung itu berakhir sudah. Namun pertunjukan Wahyu, Salsa, Yogi, Ayu, dan teman tuli juga disabilitas lainnya masih akan terus berlanjut, entah sampai kapan.
Barangkali, hingga diskriminasi dan intimidasi tak ada lagi dan suara-suara mereka bermekaran di setiap hati.[T][Ole/*]
SAYA suka lagu-lagu yang memberikan getaran yang baik pada suasana hati dan hidup saya. Karena itu saya menggunakan aplikasi karaoke di smartphone untuk memudahkan saya menyanyi di...
ADA semacam protes di media sosial, kenapa wayang wong, sebagai kesenian klasik adiluhung yang baru saja ditetapkan oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia tak benda, justru dipe...
SEPAK bola kampung kini hanya fosil ingatan. Mungkin karena kampung selalu dirundung revolusi yang dialirkan zaman. Sawah-sawah, bahkan kebun yang dulu menjadi arena laga sepak bol...
KINI sudah masuk tahun ajaran baru. Sejumlah kampus sudah bersiap-siap menghadapi mahasiswa baru. Tentu, semua tahu, hari-hari pertama mahasiswa baru disibukkan dengan orientasi ka...
BEGITU puluhan penari memasuki panggung di depan Tugu Singa Ambara Raja, sore menjelang senja di Singaraja terasa lebih berwarna dari biasanya. Warna-warna itu bukan hanya memancar...
Judul Buku: Sayap Anjing (Kumpulan Cerpen) # Penulis: Triyanto Triwikromo #Halaman: 144 pages # Penerbit: Buku Kompas # Tahun: 2003 # ISBN: 9797090914 (ISBN13: 9789797090913) /...
BULELENG Festival (Bulfest) dibuka 2 Agustus ini dan akan berlangsung 6 Agustus 2016. Ini Bulfest keempatkali sejak digelar pertamakali, Agustus 2013. Di Bali, Bulfest memiliki gem...
Ini pengalaman ketika saya mengajar di sebuah sekolah dasar di Alor, NTT, sebagai guru dalam program SM3T (Sarjana Mendidik di daerah Terluar, Terdepan dan Tertinggal). SEPERTI b...
MISI belum tuntas! Komunitas Masyarakat Lumpur Bangkalan terus bikin kegiatan. Setelah terlaksananya acara Festival Puisi Bangkalan, 20-21 Mei 2016, kini tengah bersiap-siap mengge...
SIAPA saja yang suka memuji dan mengagung-agungkan Bali, pasti bertemu subak. Mereka yang berniat mengikuti alur jejak watak manusia Bali, seyogyanya juga mengakrabi subak. Bagaima...